Dibalik Kejadian – kejadian Besar

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.

Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.(QS. An Nahl, 16: 99 – 100)

Sebagaimana tercatat dalam buku – buku sejarah, ketika orang – orang kafir penduduk Mekah bersekongkol untuk membunuh Rasulullah saw, Iblis menjelma sebagai seseorang yang bernama Syaikh an-Najdi dengan kunyah Abu Murrah. [Karena peristiwa itu, di kalangan orang Arab, Iblis mendapat sebutan Abu Murrah] dia datang menjumpai komplotan yang sedang rapat di Dar an-Nadwah dan memberikan saran supaya mereka menunjuk satu orang dari setiap suku untuk mewakili semua suku yang ada di sana, sehingga setiap suku yang ada di sana, sehingga setiap suku ikut andil dalam menumpahkan darah Muhammad saw beserta sukunya yaitu Bani Hasyim akan kesusahan menghadapi suku – suku yang bersatu. Allah menggagalkan niat buruk kufar Quraisy itu dan berfirman kepada Nabi saw.


Dan, ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.(QS. al-Anfal:30)

Jabir bin Abdullah al-Anshari meriwayatkan juga bahwa waktu perang Badr akan terjadi, iblis datang menjelma sebagai sosok seorang yang bernama Suraaqah bin Ja’syam. Dia menyatakan dukungannya terhadap orang – orang kafir dalam memerangi Nabi saw dan umatnya seraya berkata sesuai yang dikutip dalam Al-Qur-an,

…”Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”…. Ketika kedua belah pihak telah bertemu Iblis yang menyerupai Suraaqah melihat para malaikat bertubi – tubi turun demi membela Nabi saw beserta kaum mukmin, dia pun ketakutan dan langsung kabur,

Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat , syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu,”

Para tokoh kufar pun heran, mengejar dan ingin mengetahui apa sebab dia tiba – tiba berbalik dan kabur. Ibis berkata bahwa,…”sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. al-Anfal: 48)

Tidak jarang iblis menjelma demi menyesatkan manusia, sejak zaman Nabi Adam as sampai saat ini. Tidak sedikit juga organisasi, sistem, ataupun kekuatan politik, atau bahkan ideologi yang bergerak dan berjalan sepanjang sejarah umat manusia berdasarkan inspirasi darinya. Bukan mustahil kalau ada kebijaksanaan – kebijaksanaan pemerintahan tertentu di dunia yang dipengaruhi oleh mahluk yang terkutuk ini.

Diriwiyatkan dalam kitab al-manaqib bahwa seorang sufi yang sudah sampai pada tingkat spiritual tinggi, sehingga suatu waktu dia dapat “melihat” dan bertemu iblis. Iblis bertanya kepadanya,”Siapakah kamu?” Sufi itu menjawab, “Saya adalah seorang dari keturunan Adam.” Iblis berkata, “Kamu adalah dari satu bangsa yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah tetapi mendurhakainya, dan membenci Iblis tapi menaatinya.” Kemudian berlangsung tanya jawab antara sang sufi dan Iblis, yang saya mohon maaf, enggan memasukkan-nya, karena mungkin tidak mudah kita pahami dan terima.

Semoga Allah menganugrahi kita bashirah mata hati agama, dan melindungi kita semua dari bahaya Iblis dan sekutunya. Sungguh mungkin memang lebih baik kita menjadi korban dunia kezaliman, daripada merasa superior namun padahal kita terjerumus menjadi kaki tangan setan di surga orang – orang kafir ini, baik kita sadari atau tidak.

(Sumber : Syahir, Muhammad. Perjumpaan Dengan Iblis. Jakarta : Lentera, 2005)


Leave a Reply