Archive for June 24th, 2007

Ikhtila’ (Menyendiri) di Gua Hira

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw kecendrungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di Gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’-nya di gua Hira’. Demikianlah Nabi saw terus melakukannya sampai turun kepadanya wahyu ketika beliau sedang ‘uzlah.

Read the rest of this entry »

Keikutsertaan Nabi saw dalam membangun Ka’bah

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Ka’bah adalah “rumah” yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi “perang berhala” dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang di dirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdoa), “Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 127).

Read the rest of this entry »

Perniagaan Rasulullah saw dengan harta Khadijah ra dan pernikahannya dengan Khadijah ra

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saw dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania).

Read the rest of this entry »

Perjalanan Rasulullah saw yang pertama ke Syam dan Usahanya mencari Rezeki

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saw diajak pamannya, Abu Thalib pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui injil dan ahli tentang maslaah-maslaah kenasranian.

Kemudian Bahira melihat Nabi saw. Lalu ia mulai mengamati Nabi dan mengajak berbicara. Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Anakku (Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan panggilan anak karena kecintaannya yang mendalam).” Bahira bertanya kepadanya, “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata, “Dia dalah anak saudaraku.” Bahira bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh Ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Dia meninggal ketika Ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.” Kemudia Abu Thalib cepat-cepat membawa kembali ke Makkah.

Read the rest of this entry »