Shuhaib bin Sinan
Tak ada yang berhijrah Seperti Dia
Setelah memastikan tempat persembuyian hartanya tak dapat dijangkau oleh orang – orang quraisy, Shuhaib berkemas – kemas untuk mengadakan perjalanan jauh. Menemui manusia terkasih yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi Mekkah ke tanah harapan, Yatsrib. Dipenuhinya wadah anak panahnya dengan anak panah terbaik. Disiapkannya juga pedangnya. Itu semua sebagai jaga- jaga kalau di jalan terjadi apa – apa.
Semula orang – orang Quraisy tidak mengetahui ihwal keberangkatan Shuhaib. Mereka mengira Shuhaib termasuk orang yang lemah imannya dan lebih mencintai hartanya daripada Rasulullah saw. Biasa orang kaya baru! Benar, Shuahaib memang orang kaya baru. Saat ia datang dari Romawi beberapa tahun sebelumnya, ia hanyalah bekas budak yang miskin papa. Tapi seiring bergulirnya waktu Shuhaib telah menjelma menjadi slah seorang konglomerat di kota Mekkah. Dan saat sahabat – sahabat Muhammad meningglakan Mekkah yang lantas disusul Muhammad sendiri bersama Abu Bakar, tampak Shuhaib masih sibuk dengan hartanya.
Orang Quraisy terkecoh. Tepatnya nyaris terkecoh. Sebab akhirnya mereka tahu bahwa Shuhaib telah meninggalkan Mekkah. Mereka pun menugaskan para penunggang kuda terbaik untuk mengejarnya. Orang – orang yang ditugaskan itu pun memacu kuda sekencang – kencangnya. Mereka tak akan membiarkan Shuaib lolos begitu saja.
Begitu tahu bahwa orang – orang Quraisy memburunya, Shuhaib turun dari kudanya. Tak ada rasa gentar takut. Diambilnya busur panah dan sebatang anak panah. Rombongan itu berhenti pada jarak beberapa hasta. “Kalian tahu, aku adalah pemanah ulung,†kata Shuhaib, “Aku tak pernah meleset jika melepaskannya.â€
“Demi Allah, kalian tidak akan bisa menjamahku sehingga semua anak panah yang ada dikantung anak panahku ini habis dan lalu kugunakan pedangku untuk membela diri! Gertak Shuhaib. Orang – orang Quraisy itu hanya diam dan saling berpandangan. Nyali sebagian mereka menciut. Tak ada yang tak ingin hidup lebih lama. Shuhaib mengambil kesempatan, “Jika kalian mau membiarkanku hijrah ke Madinah, akan kutunjukkan kepada kalian tempat persembunyian harta kekayaanku. Silahkan kalian mengambilnya sekehendak hati kalian!â€
“Bagaimana? Harta atau nyawa?!†gertak Shuhaib lagi. Tentu saja, diberi pilihan seperti itu rombongan Quraisy itu lebih memilih harta ketimbang menyerang Shuhaib yang belum tentu dapat dikalahkan. Dan Shuhaib pun selamat sampai Madinah menyusul sahabat lain yang telah lebih dulu sampai di sana.
Begitu tampak dari kejauhan, Nabi yang kebetulan sedang duduk – duduk bersama para sahabat segera menyambut kedatangan Shuhaib. Belum sempat Shuhaib menceritakan pengalaman hijrahnya kepada mereka, tiba – tiba Nabi bersabda, “Wahai Abu Yahya, perniagaan yang benar – benar untung!†Shuhaib sangat tersanjung, sementara para sahabat bingung.
Tak lama kemudian turun ayat, “ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbanan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba – hamba-Nya.†(QS. Al-Baqarah: 207) Saat diberitahu oleh Nabi saw bahwa ayat ini berkenaan dengannya, hati Shuhaib semakin melambung. Ia tak pernah bermimpi ada ayat turun berkenaan denganya. Dengan seorang yang tak fasih bahasa Arab. Dengan seorang bekas budak dari Romawi.
Sebenarnya Shuhaib orang Arab asli. Tetapi karena saat kanak – kanak ia dijadikan tawanan oleh orang – orang Romawi dan hidup puluhan tahun di sana, lupalah ia pada bahasa Arab. Namun ia tahu bahwa sebenarnya ia orang Arab. Kerinduan Shuhaib kepada tanah kelahirannya tak dapat dibendung lagi saat ia tumbuh dewasa. Apalagi di dengarnya dari seorang pendeta Nasrani, telah dekat masa kedatangan seorang Nabi dari Jazirah Arab yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Sesampainya di Mekah, pusat Arab waktu itu, dan kerinduannya terobati, Shuhaib memasang telinga baik – baik untuk mencari kabar kebenaran ucapan pendeta Nasrani yang pernah ditemuinya. Upayanya tidak sia – sia. Ia sudah sampai di depan pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Di sana ia bertemu dengan ‘Ammar bin Yasir yang punya niatan sama dengannya. Keduanya pun masuk dan mendengarkan penuturan Nabi dengan seksama. Hati Shuhaib sangat tertarik kepada semua yang diajarkan oleh Nabi. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi shuhaib pun berikrar untuk hanya beribadah kepada Allah dan mengikuti semua yang diajarkan dan diperintahkan Rasululah.
Sepanjang hidupnya Shuhaib membuktikan ikrarnya. Menjelang senja usia Shuhaib menuturkan perjalanan hidupnya, “Tidak ada suatu peperangan pun yang diterjuni Rasulullah, kecuali pasti aku menyertainya. Dan tidak ada satu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tidak ada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa – masa pertama Islam atau masa – masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku aku mundur ke belakang. Satu lagi, aku sama sekali tak rela membiarkan Rasulullah saw berada dalam jangkauan musuh sampai beliau kembali menemui Allah.â€
Shuhaib meninggalkan alam fana untuk selama – lamanya pada 28 H. (Syafi’I / ar-risalah)
