Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag
Allah berfirman : “Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa yang kafir diantaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.” (QS. Al-Maaidah : 115)
Setiap kita dalam skala kecil ataupun besar, pastilah pernah didera petaka, musibah, kecelakaan, tragedi atau dengan apapun kita menamakannya, secara kolektif ataupun secara individual. Dengan apapun kita menyebutnya, namun intinya kurang lebih sama, yaitu suatu peristiwa yang terjadi kepada diri kita atau orang terdekat kita yang menimbulkan kerugian dan penderitaan, secara langsung ataupun tidak langsung, menyangkut fisik ataupun rohani.
Adakalanya penderitaan yang ditanggung manusia-manusia yang bersangkutan hanya sebentar dan temporer, namun amat tidak sedikit manusia-manusia yang didera petaka itu menderita teramat lama, panjang dan melelahkan. Mereka harus menanggung kepedihan yang teramat mendalam. Menghabiskan segala macam potensi yang dimilikinya, dan tidak sedikit yang mengakhirinya dengan tebusan jiwa.
Apapun bentuk dan berapa lamapun sebuah petaka yang terjadi, rasanya sungguh pahit dan tidak enak, karena itu, di negeri kita ini, kalau kita cuma manusia biasa-biasa saja atau bahkan yang selalu kurang, lebih baik selalu waspada, jangan sampai tertimpa petaka (kalau sudah hati-hati masih kena juga, itu namanya takdir), karena beberapa hal :
Pertama, karena manusia-manusia di lingkungan negeri ini, terutama di kota besar, rata-rata masih menganut asas “argumentum ad hominemâ€. “Argumen menyalahkan korbanâ€. Jangankan cepat-cepat dibantu dan ditolong, malah “digerundeliâ€; “salah sendiri kenapa tidak hati-hatiâ€, “Situ sendiri yang cari penyakit†dan sebagainya dan sebagainya.
Kedua, karena di negeri ini anda harus punya banyak uang untuk mendapat pertolongan. Coba saja Anda kecelakaan, terus ke RS, Anda akan tahu bahwa besarnya pertolongan dan tindakan medis yang Anda terima berbanding lurus dengan besarnya fulus yang keluar dari dompet atau saku Anda. Artinya , kalau pas tidak punya asuransi, tidak bawa atau tidak punya doku, tidak akan ada tindakan medis yang dapat dilakukan kepada Anda. Saya pernah menyaksikan seorang korban kecelakaan yang “dianggurin†selama lebih dari 24 jam di sebuah RS karena kenyataan seperti ini.
Ketiga, karena di lingkungan kita sekarang ini, “urusan Anda bukan urusan saya, dan derita saya tidak Anda rasakanâ€. Karena itu mari kita nikmati penderitaan masing-masing tanpa perlu meributkan segala macam kepedulian atas apa yang terjadi pada Anda atau saya.
Petaka Dalam Al-quran
Terlepas dari hal-hal di atas, dalam Al-quran terdapat paling tidak tiga macam petaka yang terjadi pada tiga kelompok yang berbeda dan secara langsung menimbulkan perbedaan dalam mensikapinya.
Pertama, petaka yang terjadi sebagai sebuah ujian dan cobaan, yang banyak kita sebut sebagai musibah. Dan memang Al-quran pun menamakannya “musibah†: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa Lillaahi wa inna ilaihi raajiuun (Sungguh kami ini milik Allah, dan sungguh kepada-Nya lah kami akan kembali)â€. (QS. Al-Baqarah : 155-156).
Ini mengandung arti, sikap kita akan suatu petaka juga menentukan jenis malapetaka yang bagaimana yang terjadi pada kita itu. Ayat ini menunjukkan bahwa jika kita mendapat suatu petaka, padahal selama ini telah berusaha secara maksimal untuk menjadi manusia beriman dan berislam yang baik, maka petaka yang terjadi itu tidak lain adalah ujian dan cobaan atas keimanan dan kesabaran kita yang harus kita jalani untuk lebih mempertinggi nilai keimanan, keislaman dan kehambaan kita, dan kita sikapi dengan lapang dada sambil berucap; innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun.
Contoh kecil saja; ketika Anda berjalan terburu-buru (atau biasa saja), kemudian terantuk jalanan yang tidak rata atau terantuk batu hingga Anda terhuyung-huyung hampir “ngusrukâ€, lalu Anda berkata “innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun, pertanda Anda lumayan bagus keimanan dan kesabarannya. Namun jika Anda tersandung dan hampir jatuh terjerembab, kemudian dari mulut Anda keluar bunyi-bunyian yang merupakan nama dari binatang berkaki empat atau berkaki dua dan berbulu, maka cobalah Anda berkunjung ke majelis-majelis ilmu agama, atau rajin-rajinlah ibadah karena ada nilai minus yang berbahaya dari bunyi yang keluar dari mulut Anda itu.
Kedua, petaka yang menimpa sebagai sebuah teguran dan peringatan dari Allah kepada hamba-hambanya yang (sebenarnya masih beriman namun) telah jauh menyimpang dari kepatutan, dengan tujuan agar mereka kembali kepada nilai-nilai utama yang seharusnya mereka lakoni dalam menempuh peran sebagai hamba: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS. Ar-Ruum : 41.
Gunung dan bukit kesepian tanpa pepohonan. Laut merana karena tiada lagi terumbu karang dan hutan bakau, akibatnya, banjir, longsor, ikan tak ada tempat berbiak, abrasi dsb.dsb. Dalam hukum kausalitaspun hal seperti ini amat rasional; “Jika Anda menabur angin, Anda akan menuai badai. Maksudnya kurang lebih bahwa segala hal buruk yang dilakukan manusia, baik itu pengrusakan fisik semacam penggundulan hutan, ataupun secara mental seumpama pornografi atau pornoaksi ataupun pelanggaran moral lainnya, termasuk korupsi, pada akhirnya dampaknya akan dirasakan yang bersangkutan.
Jenis petaka yang kedua ini “rada-rada ngeselinâ€, karena seringkali yang melakukan kerusakan hanya sekelompok orang dalam suatu komunitas, namun giliran datang malapetaka, yang terkena hampir seluruh komponen masyarakat, bahkan kadang-kadang yang bikin ulah tenang-tenang saja. Yang korupsi cuma segelintir orang, yang bangkrut seluruh masyarakat. Di sini ada indikasi bahwa secara tidak langsung seluruh komunitas juga bersalah karena tidak peduli pada kerusakan yang terjadi, membiarkan para perusak berkeliaran dengan bebas, atau bahkan jadi fans beratnya. (beberapa tahun lalu di indo pernah ada FBI = Fans Berat I***).
Untunglah malapetaka jenis ini masih merupakan tanda sayang Allah terhadap hambanya. Dengan petaka seperti ini, Allah berkehendak agar para perusak dan pelampau batas, para pelanggar hukum Allah beserta seluruh jajarannya, mau sadar, bertobat dan kembali kejalan dan aturan main yang digariskan Allah dalam mengarungi kehidupan.
Ketiga, petaka yang merupakan refleksi dari murka Allah. Siksaan yang amat pedih. Adzab yang membuat sengsara dunia akhirat. khusus untuk manusia-manusia yang tidak bisa disadarkan lagi. Manusia-manusia yang amat menikmati maksiat dan kekafiran. Manusia-manusia yang menjadikan Allah sebagai keset.
Ingat terkuburnya kota Sodom dan Gomorah, ingat Fir’aun, ingat Abu Lahab, mereka diadzab oleh Allah dalam sejarah sebagai contoh besar, namun jangan lupa contoh-contoh kecil yang bisa terus ada sampai akhir zaman, mungkin tidak jauh dari kita.
Bewara dari Allah : “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya.” (QS. Al-Anfaal : 25) Orang-orang kafir, musyrik, munafik, orang yang sombong, sebagian Yahudi, Sebagian Nasrani, orang zalim, dan orang fasik adalah sebagian kategori orang-orang yang berhak mendapat adzab dari Allah yang disebutkan Al-Quran. (Lihat; Al-Baqarah : 90, 104, An-Nisa : 138, 151, Al-Maidah : 41,73, Al-An’aam : 47, 148 dan banyak lagi. Maka segeralah lihat diri kita masing-masing, jangan sampai masuk golongan petaka ketiga ini. Jauhkan segala bentuk kekafiran dan kemusyrikan dari diri pribadi, keluarga, dan dari jangkauan anak-anak.
Seperti kata Iwan Fals : “Petaka terjadi, karena salah kita sendiriâ€. Jadi, jika petaka menimpa periksalah catatan harian, di situ tertulis apa yang sesungguhnya terjadi. Cobaan, teguran atau Adzab?
Wallahu a’lam.