Akhirat Kekalkah?

Seratus tahun hidup di dunia, akan terasa singkat ketika telah lewat masanya. Bahkan, meskipun umur manusia ditambah seribu tahun lamanya. Karena segala yang fana dan dibatasi usia, akan terasa sebentar begitu telah habis waktunya.

Allah berfirman, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan – akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”  (QS. An-Naazi’at:46)

Segala kenikmatan yang pernah dirasakan di dalamnya, pun akan sirna seketika berlalunya masa. Alangkah tak berharga kenikmatan yang fana. Dan memang kenikmatan dunia itu remeh, karena bersifat sementara dan tidak kekal. Berbeda dengan akhirat yang abadi dan tak kan sirna.

Allah berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Al-Mukmin: 39).

Akhirat versi Yahudi dan Pengikut Jahmiyah

Beda paling menonjol antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan jannah adalah fananya dunia dan kekalnya jannah. Ini sesuatu yang telah disepakati ulama sejak dulu.

Tapi belakangan ada penulis yang mengarang

“Ternyata Akhirat Tidak Kekal”.

Jika pernyataan ini diterima sebagai keyakinan, niscaya berdampak pada pengecilan dan peremehan terhadap urusan akhirat. Jannah dianggap sebagai sesuatu yang remeh, karena toh juga akan berakhir. Neraka juga tidak terlalu menakutkan, karena ada masa penghabisannya. Lalu gairah untuk beramal salih menjadi kendor, tensi ketakutan dari berbuat maksiat semakin ngedrop.

Pendapat ini mewarisi pendapat Yahudi tempo dulu, mereka tetap dengan kekafirannya karena memiliki anggapan bahwa di neraka hanya beberapa hari yang bisa dihitung, tidak kekal. Tapi Allah membantah igauan mereka dengan firman-Nya, “Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.”

Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” , yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”(QS Al-Baqarah : 80-81)

Selanjutnya pemikiran Yahudi ini diadopsi oleh segelintir orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-sunnah, juga kesepakatan ulama sejak dahulu. Pemikiran ini dipelopori oleh pentolan Jahmiyah, Jahm bin Shafwan. Tak ada lagi orang lain sebelumnya yang berpendapat demikian. Ibnu Abil Izz dalam Syarah Akidah Thahawiyah berkata, “Pertama kali yang berpendapat tentang fananya Jannah dan neraka adalah Jahm bin Shafwam, pentolan aliran mu’athilah (yang menampik sifat – sifat Allah), dia tidak memiliki pendahulu dalam hal ini, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun para imam kaum muslimin, maupun di kalangan ahlus sunnah. Semua ulama Ahlus sunnah berseberangan dengannya…”

Jannah dicipta untuk Abadi Selamanya

Banyak ayat yang secara qath’i dan sharih menunjukan jannah itu kekal, neraka itu kekal, dan akhirat itu negeri yang kekal. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Al-Mukmin:39)

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal shalih, mereka itu penghuni jannah, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)

“Hari  Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS At-Taghabun: 9)

Dan masih banyak lagi ayat yang secara qath’i dan sharih menyebutkan kekalnya jannah.

Begitupun Hadist Nabi, diantaranya, (Kelak) dikatakan kepada penduduk jannah: “Wahai penduduk jannah! Kalian kekal, tak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka! Kalian kekal! tiada lagi kematian (HR Bukhari)

Alasan paling masyhur yang sering diutarakan oleh kelompok yang mengingkari kekalnya jannah adalah firman Allah, “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain).” (QS. Huud:107) Menurut mereka, kalimat “selama ada langit dan bumi” dalam  ayat ini menunjukkan bahwa akhirat tidak kekal, begitupun dengan kalimat “kecuali jika Rabbmu menghendaki lain”. Mereka mentakwilkan ayat tersebut lalu melupakan ayat – ayat muhkamat yang telah pasti maksud dan pengertiannya. Syaikh Ibnu Abill Izz menyebutkan, bahwa (dari sisi kandungan makna) ayat ini termasuk mustasyabihat.

Untuk menafsirkannya, mestinya menyesuaikan dengan ayat – ayat yang muhkamat. Dalam hal ini, ayat – ayat yang menunjukkan kekalnya Jannah. Bukan sebaliknya, ayat yang mutasyabih ditakwilkan, lalu yang muhkamat dipaksa menyesuaikan hasil takwilnya terhadap ayat yang mutasyabihat.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di di dalam kitabnya ‘Al-Qawa’idul Hissan Al-Muta’alliqah bi tafsiiril Qur’an‘ menyebutkan, “Adapun orang yang memahami Al-Quran niscaya akan mengembalikan makna ayat yang mutasyabih kepada ayat yang muhkam, sehingga semua ayat menjadi muhkam, mereka mengatakan “semua itu dari sisi Rabb kami…” Cara seperti inilah yang ditunjukkan oleh Al-Quran sebagaimana firman-Nya,

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab  kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain  mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran  melainkan orang-orang yang berakal.”(QS. Ali Imran:7).

Ya Allah, masukkan kami ke dalam Jannah-Mu yang kekal! Amien (Abu Umar A.)

Sumber : ar-risalah no 66

NB:

1. Terjemahan  “selama ada langit dan bumi” adalah gaya bahasa yang sering digunakan oleh bangsa Arab untuk menyatakan “kekekalan” suatu hal.

Contoh: Wahai anakku, apapun yang engkau lakukan, aku akan tetap  menyayangimu “selama ada langit dan bumi”. artinya menyayangi selama – lamanya (sepanjang masa)

2. Ibnu Katsir dalam bukunya “Dunia, Neraka dan Surga” terbitan Pustaka al-Kautsar juga menyatakan demikian. Bahkan penjelasannya sangat lengkap.

3. Ulama lain dalam penjelasannya di Al-Quran berpendapat bahwa setelah kiamat “langit dan bumi” yang kita kenal sekarang akan diganti “langit dan bumi” yang baru jadi akan selalu ada “langit dan bumi”. (langit dan bumi tidak akan berakhir dalam artian karena diganti langit dan bumi yang lain)

Jadinya ketiga pendapat di atas saling menguatkan dari berbagai sisi…