<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian</title>
		<link>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Abu Dzar Al Ghifari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Sosok Pejuang Sendirian</strong></p>
<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi&#8217;at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi&#8217;at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.</p>
<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah <strong>Jundub bin Junadah Al Ghifari</strong> dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.</p>
<p>Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.</p>
<p>Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya&#8217;ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya&#8217;ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya&#8217;ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.</p>
<p>Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka&#8217;bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis.</p>
<p>Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau shalallahu <em>alaihi wa sallam</em>, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Dia hanya menanti dan menanti di Ka&#8217;bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.</p>
<p>Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka&#8217;bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka&#8217;bah tanpa bercerita panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di Ka&#8217;bah dan segera menanyainya : “Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”. Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa wasallam</em> dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> berwasiat kepadanya : “Wahai Abu Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.</p>
<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.</p>
<p>Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka&#8217;bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.</p>
<p>Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka&#8217;bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.</p>
<p>Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda&#8217;wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi&#8217;ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.</p>
<p>Hijrah Ke Al Madinah :</p>
<p>Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Sehingga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.</p>
<p>Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Maka beliau langsung menasehatinya :</p>
<p>(tulis hadisnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad 3 / 164)</p>
<p>“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> pernah berpesan kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya&#8217; 1 / 162)</p>
<p>“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. HR. Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.</p>
<p>Asma&#8217; bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dia beristirahat di masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab : Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu. Kemudian Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bertanya lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab : Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah. Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457.</p>
<p>Disamping berbagai wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :</p>
<p>(tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 161).</p>
<p>“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Abu Dzar berjuang sendirian :</p>
<p>Setelah wafatnya Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, Abu Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> disamping kebenciannya kepada segala bentuk kebid&#8217;ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>). Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin. Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi sebagaimana yang beliau ceritakan : (artinya) “Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rasulullah) dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku. Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159.</p>
<p>Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya&#8217;ni duduk bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : Beri kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.</p>
<p>Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu Dzar.</p>
<p>Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) <em>shalallahu alaihi wasallam</em> pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.</p>
<p>Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan beliau : Aku melihatnya.</p>
<p>Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga dinar (untuk keperluanku).</p>
<p>Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.</p>
<p>Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian harta mereka.</p>
<p>Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”.</p>
<p>Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 &#8211; 1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35.</p>
<p>Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram. Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> yang mulai makmur hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut :</p>
<p>“Ketika Abu Musa Al Asy&#8217;ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek. Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !!</p>
<p>Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”.</p>
<p>Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.</p>
<p>Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Tidak.</p>
<p>Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”. Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.</p>
<p>Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 162)</p>
<p>“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162.</p>
<p>Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di hari kiamat kelak.</p>
<p>Meninggal dunia di tempat pengasingan :</p>
<p>Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu anhu</em>. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu anhu</em>. Maka Mu&#8217;awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta&#8217;ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan. Abu Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu&#8217;minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu&#8217;minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau : “Wahai Amirul Mu&#8217;minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”.</p>
<p>Maka Amirul Mu&#8217;mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau : “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.</p>
<p>Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur&#8217;an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu&#8217;minin dan di sana ada Ka&#8217;ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan Abdurrahman bi A&#8217;uf. Maka Amirul Mu&#8217;minin bertanya kepada Ka&#8217;ab : Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang mengumpulkannya. Maka Ka&#8217;ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.</p>
<p>Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka&#8217;ab dengan tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada Ka&#8217;ab : Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman : (artinya)”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya”. S. Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu&#8217;minin itu memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. S. Ad Daher (dinamakan juga S. Al Insan) ayat ke 8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur&#8217;an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya.</p>
<p>Melihat kejadian itu, Amirul Mu&#8217;minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. Juga Amirul Mu&#8217;minin meminta kepada Ka&#8217;ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka&#8217;abpun akhirnya memaafkannya.</p>
<p>Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya. Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau menangis ?”.</p>
<p>Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.</p>
<p>Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu&#8217;minin”.</p>
<p>Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.</p>
<p>Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.</p>
<p>Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan itupun menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu&#8217;minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.</p>
<p>Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”.</p>
<p>Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubbahmu itu”.</p>
<p>Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.</p>
<p>P e n u t u p :</p>
<p>Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah sepeninggalnya. Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan amat pilu mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan : “Semoga Allah merahmati Abu Dzar”. Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman bin Affan dalam keluarganya.</p>
<p>Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya, sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan bimbingan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.</p>
<p>Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan tentang ilmu Al Qur&#8217;an dan Al Hadits. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada keridho&#8217;anNya.</p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<p>1. Al Qur&#8217;an Al Karim.</p>
<p>2. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.</p>
<p>3. Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Al Imam Abu Zakaria An Nawawi.</p>
<p>4. At Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa&#8217;ad.</p>
<p>5. Hilyatul Awliya&#8217; Wa Thabaqatul Ashfiya&#8217;, Al Hafidl Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani.</p>
<p>6. Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;, Al Imam Adz Dzahabi.</p>
<p>7. Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani.</p>
<p>8. Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At tirmidzi.</p>
<p><a href="http://www.alghuroba.org/abudzar.php">http://www.alghuroba.org/abudzar.php</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad</title>
		<link>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 23:51:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad Sahabat mulia Umair bin Sa’ad, yatim dan miskin sejak kecil di Madinah. Keadaannya berubah Setelah ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan dari kabilah Aus, bernama Al Julas bin suwaid. Diasuhlah Umair bin Sa’ad oleh Julas layaknya anak sendiri, Umair mendapatkan perhatian penuh dari bapaknya yang baru, sehingga semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad</h2>
<p><a title="Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad" href="http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html"> </a></p>
<p>Sahabat mulia Umair bin Sa’ad, yatim dan miskin sejak kecil di Madinah. Keadaannya berubah Setelah ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan dari kabilah Aus, bernama Al Julas bin suwaid. Diasuhlah Umair bin Sa’ad oleh Julas layaknya anak sendiri, Umair mendapatkan perhatian penuh dari bapaknya yang baru, sehingga semakin melekat dan tumbuh rasa cinta Umair kepada Julas. Pun demikian Julas semakin bertambah sayang kepada Umair yang beranjak remaja dan terlihat padanya tanda-tanda kecerdasan, kebaikan amal, amanah dan jujur.</p>
<p>Umair masuk islam sejak kecil. Meskipun masih muda belia, ia tidak pernah terlambat untuk sholat dibelakang Rasulullah SAW.</p>
<p>Pada tahun 9 H, Rasulullah SAW mengumumkan perang melawan Romawi di Tabuk, dan memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saat itu musim kemarau, cuaca sangat panas, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada dekat di kebun-kebun mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi yang sulit, ditambah perjalanan yang sangat jauh, dan mengingat musuh yang kuat.</p>
<p>Pada hari dimana pasukan bersiap-siap, kembalilah Umair bin Sa’ad ke rumahnya setelah menunaikan sholat di masjid. Ia melihat wanita-wanita muhajirin yang menyambut seruan Rasul SAW dengan memberikan perhiasan yang mereka punya, ia melihat Utsman bin Affan yang membawakan seransel penuh dengan seribu dinar emas, ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf  yang yang memanggul di pundakknya dua ratus uqiyah dari emas, bahkan ia melihat seorang sahabat yang menjual kasurnya agar bisa membeli pedang untuk berjihad.</p>
<p>Namun ia heran dengan sikap Julas yang tidak ikut serta berlomba-lomba meraih keridhoan Ilahi memenuhi seruan Nabi SAW, padahal ia seorang yang kaya. Bangkitlah Umair bin Sa’ad membangkitkan semangat Julas bin Suwaid dengan menceritakan pemandangan berharga yang telah ia lihat dan ia dengar, terkusus kisah para sahabat yang pulang dengan kesedihan dan tetesan air mata karena tidak dibawa ikut serta dalam pasukan dikarenakan tiada tumpangangan yang dapat membawa mereka.</p>
<p>Akan tetapi Julas tidak begitu tertarik dengan kisah indah yang di ceritakan, hingga mulutnya berucap dengan kalimat yang sampai-sampai Umair mengerutkan dahinya dan akalnya tidak menerimanya. Ia mendengar Julas berkata : “Jikaulau Muhammad benar dengan apa yang disangkanya bahwa ia adalah seorang Nabi maka tentu kami lebih jelek dari keledai”.</p>
<p>Sungguh tercengang dan Umair tak menyangka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Julas, dengan kalimat itu keluarlah keimanan Julas secara keseluruhan dan memasukkannya pada kekafiran.</p>
<p>Umair bin Sa’ad berfikir sejenak, apa yang mesti diperbuatnya, kalaulah diam dan menutupi perkataan Julas berarti berkhianat kepada Allah, RasulNya serta membahayakan Islam dan muslimin. Kalulah di sebarkan apa yang didengarnya seperti tak berterimakasih atas kebaikan Julas; yang telah mencukupi, melindungi bahkan memposisikan seperti anak kandungnya. Dua pilihan yang sama pahit baginya, Namun putusan harus ditetapkan, ia memandang kepada Julas dan berkata : “Demi Allah wahai Julas, tidak ada manusia dimuka bumi ini setalah Rasulullah SAW yang lebih aku cintai dari mu. Bila kusebarkan aku menghinamu, bila kusembunyikan aku berkhianat, tidak amanah dan menghancurkan agamaku, aku akan mengabarkan ini kepada Rasulullah SAW..”</p>
<p>Bergegas Umair ke masjid untuk menemui Nabi dan mengabarkan kejadiannya, kemudian Rasulullah SAW mengutus utusan untuk memanggil Julas, tak berselang lama, datanglah Julas mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan duduk dihadapan Rasul, Umair dan para sahabat yang lain.</p>
<p>Rasul SAW bertanya : “kalimat apakah yang didengar Umair darimu”, Kemudian disebutkan kalimatnya. Dengan meyakinkan ia menjawab : “ia berdusta atasku ya Rasul, tidaklah mungkin aku mengatakan kalimat itu!” serentak beberapa sahabat mengalihkan pandangan matanya kepada Umair dan Julas, mana diantara mereka yang benar dan jujur dengan perkataannya. Lalu Nabi menoleh ke Umair yang wajahnya telah memerah, air matanya menetes dipundak dan dadanya kemudian berdoa : “Ya Allah, turunkan lah kepada Nabi-Mu kejelasan dari apa yang telah ku katakan..”</p>
<p>Julas memperkuat pernyataannya dan berkata : “wahai Rasulullah, apa yang aku katakan adalah suatu kebenaran. kalaulah perlu, aku akan bersumpah dihadapanmu”. Kemudian ia bersumpah tanpa diminta oleh Rosulullah SAW.</p>
<p>Para sabahat tercengang, hingga Rosulullah SAW terdiam tenang dalam keadaan menerima wahyu, setelah terbangun beliau membaca Ayat yang turun :</p>
<p>Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan Perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya[mereka ingin membunuh Nabi Muhammad SAW], dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. At Taubah : 74)</p>
<p>Gemetarlah Julas mendengar ayat yang turun, kemudian menoleh kepada Nabi seraya berkata :”saya bertaubat wahai Rasulullah…saya bertobat., benarlah Umair ya Rasul, sayalah yang berdusta. Pintakan kepada Allah agar menerima taubatku, jadikan saya sebagai tebusamu Ya Rasul.</p>
<p>Nabipun menoleh ke Umair, dilihatnya darah yang berkumpul dikepalanya telah menyebar dan wajahnya pun sudah berseri, tersinari dengan cahaya iman, kemudian tangan Rasul yang mulia memegang telinga Umair dengan halus dan berkata: “benarlah apa yang didengar oleh telingamu wahai anak, dan telah membenarkan Rabmu”.</p>
<p>Kembalilah Julas kepangkuan islam dan ia memperbagus keislamanya. Para sahabat telah mengetahui kebaikan Julas kepada Umair, dan bila disebut umair, julas berkata : semoga Allah membalas kebaikannya atasku, sungguh telah menyelamatkaku dari kekafiran, dan membebaskanku dari Neraka.</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html">http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirat Kekalkah?</title>
		<link>http://tauziyah.com/2010/12/12/akhirat-kekalkah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2010/12/12/akhirat-kekalkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 14:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Akhirat Kekalkah? Seratus tahun hidup di dunia, akan terasa singkat ketika telah lewat masanya. Bahkan, meskipun umur manusia ditambah seribu tahun lamanya. Karena segala yang fana dan dibatasi usia, akan terasa sebentar begitu telah habis waktunya. Allah berfirman, &#8220;Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan &#8211; akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akhirat Kekalkah?</strong></p>
<p>Seratus tahun hidup di dunia, akan terasa singkat ketika telah lewat masanya. Bahkan, meskipun umur manusia ditambah seribu tahun lamanya. Karena segala yang fana dan dibatasi usia, akan terasa sebentar begitu telah habis waktunya.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan &#8211; akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.&#8221;  (QS. An-Naazi&#8217;at:46)</p>
<p>Segala kenikmatan yang pernah dirasakan di dalamnya, pun akan sirna seketika berlalunya masa. Alangkah tak berharga kenikmatan yang fana. Dan memang kenikmatan dunia itu remeh, karena bersifat sementara dan tidak kekal. Berbeda dengan akhirat yang abadi dan tak kan sirna.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.&#8221; (QS. Al-Mukmin: 39).</p>
<p><strong>Akhirat versi Yahudi dan Pengikut Jahmiyah</strong></p>
<p>Beda paling menonjol antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan <em>jannah</em> adalah fananya dunia dan kekalnya <em>jannah</em>. Ini sesuatu yang telah disepakati ulama sejak dulu.</p>
<p>Tapi belakangan ada penulis yang mengarang</p>
<p>&#8220;Ternyata Akhirat Tidak Kekal&#8221;.</p>
<p>Jika pernyataan ini diterima sebagai keyakinan, niscaya berdampak pada pengecilan dan peremehan terhadap urusan akhirat. <em>Jannah</em> dianggap sebagai sesuatu yang remeh, karena toh juga akan berakhir. Neraka juga tidak terlalu menakutkan, karena ada masa penghabisannya. Lalu gairah untuk beramal salih menjadi kendor, tensi ketakutan dari berbuat maksiat semakin ngedrop.</p>
<p>Pendapat ini mewarisi pendapat Yahudi tempo dulu, mereka tetap dengan kekafirannya karena memiliki anggapan bahwa di neraka hanya beberapa hari yang bisa dihitung, tidak kekal. Tapi Allah membantah igauan mereka dengan firman-Nya, &#8220;Dan mereka berkata: &#8220;Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.&#8221;</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?&#8221; , yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.&#8221;(QS Al-Baqarah : 80-81)</p>
<p>Selanjutnya pemikiran Yahudi ini diadopsi oleh segelintir orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-sunnah, juga kesepakatan ulama sejak dahulu. Pemikiran ini dipelopori oleh pentolan Jahmiyah, Jahm bin Shafwan. Tak ada lagi orang lain sebelumnya yang berpendapat demikian. Ibnu Abil Izz dalam <strong>Syarah Akidah Thahawiyah</strong> berkata, &#8220;Pertama kali yang berpendapat tentang fananya <em>Jannah</em> dan neraka adalah Jahm bin Shafwam, pentolan aliran mu&#8217;athilah (yang menampik sifat &#8211; sifat Allah), dia tidak memiliki pendahulu dalam hal ini, baik dari kalangan sahabat, tabi&#8217;in, maupun para imam kaum muslimin, maupun di kalangan <em>ahlus sunnah</em>. Semua ulama <em>Ahlus sunnah</em> berseberangan dengannya&#8230;&#8221;</p>
<p><strong><em>Jannah</em> dicipta untuk Abadi Selamanya</strong></p>
<p>Banyak ayat yang secara <em>qath&#8217;i</em> dan <em>sharih </em>menunjukan <em>jannah </em>itu kekal, neraka itu kekal, dan akhirat itu negeri yang kekal. Allah berfirman, &#8220;Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.&#8221; (QS. Al-Mukmin:39)</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang beriman serta beramal shalih, mereka itu penghuni <em>jannah</em>, mereka kekal di dalamnya.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 82)</p>
<p>&#8220;Hari  Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam <em>jannah </em>yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.&#8221; (QS At-Taghabun: 9)</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat yang secara <em>qath&#8217;i</em> dan <em>sharih</em> menyebutkan kekalnya <em>jannah</em>.</p>
<p>Begitupun Hadist Nabi, diantaranya, (Kelak) dikatakan kepada penduduk <em>jannah</em>: &#8220;Wahai penduduk <em>jannah</em>! Kalian kekal, tak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka! Kalian kekal! tiada lagi kematian (HR Bukhari)</p>
<p>Alasan paling masyhur yang sering diutarakan oleh kelompok yang mengingkari kekalnya <em>jannah</em> adalah firman Allah, &#8220;Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain).&#8221; (QS. Huud:107) Menurut mereka, kalimat &#8220;selama ada langit dan bumi&#8221; dalam  ayat ini menunjukkan bahwa akhirat tidak kekal, begitupun dengan kalimat &#8220;kecuali jika Rabbmu menghendaki lain&#8221;. Mereka mentakwilkan ayat tersebut lalu melupakan ayat &#8211; ayat <em>muhkamat</em> yang telah pasti maksud dan pengertiannya. Syaikh Ibnu Abill Izz menyebutkan, bahwa (dari sisi kandungan makna) ayat ini termasuk <em>mustasyabihat</em>.</p>
<p>Untuk menafsirkannya, mestinya menyesuaikan dengan ayat &#8211; ayat yang <em>muhkamat</em>. Dalam hal ini, ayat &#8211; ayat yang menunjukkan kekalnya <em>Jannah</em>. Bukan sebaliknya, ayat yang <em>mutasyabih</em> ditakwilkan, lalu yang <em>muhkamat</em> dipaksa menyesuaikan hasil takwilnya terhadap ayat yang <em>mutasyabihat</em>.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As-Sa&#8217;di di dalam kitabnya &#8216;<strong>Al-Qawa&#8217;idul Hissan Al-Muta&#8217;alliqah bi tafsiiril Qur&#8217;an</strong>&#8216; menyebutkan, &#8220;Adapun orang yang memahami Al-Quran niscaya akan mengembalikan makna ayat yang mutasyabih kepada ayat yang <em>muhkam</em>, sehingga semua ayat menjadi <em>muhkam</em>, mereka mengatakan &#8220;semua itu dari sisi Rabb kami&#8230;&#8221; Cara seperti inilah yang ditunjukkan oleh Al-Quran sebagaimana firman-Nya,</p>
<p>&#8220;Dia-lah yang menurunkan Al Kitab  kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang <em>muhkamaat</em> , itulah pokok-pokok isi Al qur&#8217;an dan yang lain  <em>mutasyaabihaat</em>. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang <em>mutasyaabihaat</em> daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta&#8217;wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta&#8217;wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: &#8220;Kami beriman kepada ayat-ayat yang <em>mutasyaabihaat</em>, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.&#8221; Dan tidak dapat mengambil pelajaran  melainkan orang-orang yang berakal.&#8221;(QS. Ali Imran:7).</p>
<p>Ya Allah, masukkan kami ke dalam <em>Jannah</em>-Mu yang kekal! Amien (Abu Umar A.)</p>
<p>Sumber : <strong>ar-risalah no 66</strong></p>
<p>NB:</p>
<p>1. Terjemahan  &#8220;selama ada langit dan bumi&#8221; adalah gaya bahasa yang sering digunakan oleh bangsa Arab untuk menyatakan &#8220;kekekalan&#8221; suatu hal.</p>
<p>Contoh: Wahai anakku, apapun yang engkau lakukan, aku akan tetap  menyayangimu &#8220;selama ada langit dan bumi&#8221;. artinya menyayangi selama &#8211; lamanya (sepanjang masa)</p>
<p>2. Ibnu Katsir dalam bukunya &#8220;Dunia, Neraka dan Surga&#8221; terbitan Pustaka al-Kautsar juga menyatakan demikian. Bahkan penjelasannya sangat lengkap.</p>
<p>3. Ulama lain dalam penjelasannya di Al-Quran berpendapat bahwa setelah kiamat &#8220;langit dan bumi&#8221; yang kita kenal sekarang akan diganti &#8220;langit dan bumi&#8221; yang baru jadi akan selalu ada “langit dan bumi”. (langit dan bumi tidak akan berakhir dalam artian karena diganti langit dan bumi yang lain)</p>
<p>Jadinya ketiga pendapat di atas saling menguatkan dari berbagai sisi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2010/12/12/akhirat-kekalkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Bumi (Geologi) II</title>
		<link>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-ii/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 08:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tadabbur Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahima Maka mukjizat ilmiyah Al Qur&#8217;an merupakan suatu metode dakwah yang paling mujarab di abad sains dan teknologi ini, yaitu zaman yang tak ada lagi wahyu dari langit selain Al Qur&#8217;an. Sementara kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan sebelumnya telah mengalami erosi dan kehilangan esensi. Baik itu hilang sama sekali, atau hilang dasar-dasar ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Rahima</p>
<p>Maka mukjizat ilmiyah Al Qur&#8217;an merupakan suatu metode dakwah yang paling mujarab di abad sains dan teknologi ini, yaitu zaman yang tak ada lagi wahyu dari langit selain Al Qur&#8217;an. Sementara kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan sebelumnya telah mengalami erosi dan kehilangan esensi. Baik itu hilang sama sekali, atau hilang dasar-dasar ajaran originalnya dengan bahasa bukan bahasa ketika diturunkan. Karena kitab-kitab lain selain Al Qur&#8217;an telah mengalami perubahan dan penyelewengan yang menyebabkannya keluar dari bingkai rabbani, meskipun kita meyakini bahwa asal usulnya adalah samawi dan kita mengakui kebenaran asal usul tersebut.</p>
<p><span id="more-222"></span>Rasulullah bersabda &#8220;Tatkala Allah menciptakan bumi, ia bergoyang dan menyentak, lalu Allah menstabilkannya dengan gunung&#8221; ( H.R Ahmad )</p>
<p>Nabi yang buta huruf ini hidup antara tahun 570 hingga 632, pada saat tak seorangpun, baik sebelum beliau SAW, ataupun 12 abad setelahnya, mengetahui apapun gerakan horizontal lithosfer bumi, peranan gunung sebagai stabilisator baginya. Rasulullah sudah menyampaikannya pada kita ummat manusia.</p>
<p>Dan telah kami jadikan dibumi ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi itu tidak guncang bersama mereka, dan telah kami jadikan pula dibumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat padanya. &#8220;Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam mendahului siang.&#8221; ( Q.S Yasin 40 )</p>
<p>&#8220;dan kamu lihat gunung-gunung itu , kamu sangka ia tetap pada tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan, begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu.&#8221; ( Q.S Al Naml : 88 )</p>
<p>Guna membahas pentingnya pemikiran ilmu geologi, atau persepsi dari Al Qur&#8217;an dan Hadist, adalah penting untuk memberikan informasi latar belakang yang menggambarkan dimana geologi sekarang dan bagaimana sampai ke kondisi sekarang.</p>
<p>Ilmu geologi sebagai ilmu pengetahuan dimulai kurang dari 200 tahun yang lalu. Meskipun adanya berbagai persepsi geologis yang bisa ditelusuri kembali ke Aristoteles lebih dari 2000 tahun yang lalu.</p>
<p>Pengumpulan dan Analisis dari data Geologis. Dalam dua abad setelah penelitian para pakar geologis dapat ditemukan bahwa dari hasil tanaman, kerang, tulang yang tetap ditemukan dalam batuan di akui sebagai catatan masa lalu.</p>
<p>(Salah satu contoh kecil, ilmu di bidang ini akan dapat menduga berapa umur suatu pohon, dilihat dari daun dan batang, atau kayunya, kapan terjadi musim panas, dan kapan terjadi musim dingin, hanya dilihat dari serat-serat pohon tersebut, ini saya dengar sendiri dari paman saya yang kebetulan bergerak di bidang kehutanan dan pertanian ini).</p>
<p>Cobalah kita lihat serat-serat dari suatu pohon. Ambil pohon yang umurnya lama, atau pendek, dan ukurannya tebal, atau tipis, akan terlihat jelas oleh kita serat-serat kayu tersebut. (untuk keterangan lebih lanjut mengenai umur suatu tanaman ini, silahkan yang berkompoten yang membicarakannya).</p>
<p>Menjelang tahun 1800 diakui lebih lanjut bahwa catatan kehidupan yang ditemukan dalam batuan berbeda dengan sekarang yang ditemukan, dan semakin jauh dalam waktu (yakni lapisan bawah sekali dalam urutan lapisan batuan), semakin beda catatan fosil, yang berbeda di temukan dalam batuan.</p>
<p>Penelitian untuk menentukan urutan ini dicapai dengan mengintegrasikan informasi dari urutan parsial batuan dari seluruh dunia. Penelitian ini banyak membuat sibuk para ilmuwan diabad ke–19, dan secara ilmiyah sama menariknya, dengan program ruang angkasa di zaman sekarang.</p>
<p>Kemajuan teknologi peralatan canggih yang diperlukan untuk memperoleh umur batuan, terutama sangat berkembang sejak tahun 1940 an. Apa yang dikatakan hadist mengenai semua ini? beberapa ayat dari berbagai bagian Al Qur&#8217;an dan Hadist mempunyai implikasi yang menarik. Allah berfirman : &#8220;katakanlah wahai Muhammad berjalanlah di atas bumi dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaannya.</p>
<p>Pernyataan ini memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal berikut :</p>
<p>1) Mengadakan perjalanan dimuka bumi.</p>
<p>2) Melakukan observasi (lihat-lihat), selama perjalanan itu.</p>
<p>3) Menuliskan pengamatan ini, menganalisis dan memahaminya, serta melihat bagaimana mulai penciptaan.</p>
<p>Informasi dari Al Qur&#8217;an menunjukkan rincian baik mengenai struktur bumi maupun mengenai gerakan lempeng kontinen. Dalam satu ayat, Al Qur&#8217;an menyatakan &#8220;Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap&#8221; ( Q.S 2: 22 ).</p>
<p>Hal-hal berikut yang ditunjukkan oleh ayat ini :</p>
<p>1) lapisan atas bumi, atau kerak bumi, sama dengan suatu hamparan pelindung.</p>
<p>2) Lapisan atas bumi adalah relative tipis terhadap bagian dalam, dan sekarang diketahui bahwa ketebalan relative sama dengan kulit apel dibandingkan dengan<br />
keseluruhan apel.</p>
<p>3) Sama seperti hamparan yang melindungi kekerasan dan bahaya dibawahnya, demikian pula kerak bumi yang melindungi kehidupan dari panas didalam bumi.</p>
<p>Ayat lain dalam Al Qur&#8217;an menyatakan :</p>
<p>&#8220;dan dia menancapkan gunung-gunung dibumi,supaya bumi ini tidak goncang bersama kamu. Dan dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk&#8221; (Q.S 16 : 15)</p>
<p>Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut :</p>
<p>1) Benua dibumi terhampar dan diciptakan dizaman purba, sama seperti dihamparkan, atau ditarik.</p>
<p>2) Terdapat gerakan terus-menerus benua-benua.</p>
<p>3) Pembentukan gunung dikaitkan dengan gerakan ini.</p>
<p>4) Gunung distabilkan dengan turun kelapisan astenosfer.</p>
<p>5) Bahan plastis (lentur) terdapat dibawah kerak bumi, karena ia menjadi tidak stabil, tanpa efek menurun ( sinking effect ).</p>
<p>Jadi, ayat-ayat ini memberikan indikasi yang jelas mengenai struktur bumi dan gerakan lempeng tektonik. Kerak bumi dan karakteristik strukturalnya tidak dipelajari secara rinci sampai abad ke 19. Ahli-ahli geologi tidak mempunyai teori yang komfrehensip untuk menjelaskan proses ini, mengaitkannya dengan gerakan kontinen sampai paro terakhir abad kedua puluh.</p>
<p>Sekarang kita terangsang untuk merenungkan sebuah hadist dalam shahih Muslim yang menyatakan, sebagai salah satu datangnya Hari perhitungan sebagai berikut : &#8220;Hari perhitungan tidak akan datang sebelum daerah Arab kembali menjadi subur, hijau dengan sungai-sungai&#8221;.</p>
<p>Hadist ini mengacu pada iklim masa lalu, dan masa yang akan datang, dari bukti geologis bahwa daerah ini pernah hijau dan akan menjadi hijau lagi dalam waktu kurang dari satu abad. Mengenai hal ini, Mesir sudah jelas dulunya adalah tanah pertanian, terbukti dengan adanya kisah nabi Yusuf yang menjadi Menteri keuangan di dalam mengatur pertanian, kala orang-orang palestina datang meminta bahan-bahan primer untuk dimakan.</p>
<p>Begitupun selama bertahun- tahun masa panen, dan masa paceklik (tempat penyimpanan itu masih ada sampai sekarang, adanya di Luxor, sementara Kincir nabi Yusuf, mungkin kincir pertama di dunia kali, hanya sayangnya negeri Kincir justru terkenal dari Negara Belanda(?). Kincir nabi Yusuf masih ada, dan memiliki bunyi khusus.</p>
<p>Dan bila dihubungkan dengan masa-masa saat ini, Mesir bukanlah seluruhnya tanah padang pasir yang tandus lagi, tapi sudah banyak kehijauan di sebagian daerah, begitupun sungai-sungai Nil, yang di buat bendungan-bendungan baru, serta aliran-aliran baru di daerah perpasiran, sehingga jadilah padang pasir tersebut menjadi tanah pertanian. Wallaua&#8217;lam masa yad.</p>
<p>Tak kalah juga, kalau tidak salah,dua tahun yang lampau di jajirah Arab, sudah ada gundukan es, salju. Ini pertanda, suatu saat kelak, Hadist Rasulullah benar-benar terbukti, bahwa jazirah Arab akan kembali menjadi subur kembali.</p>
<p>Lantas kenapa dulunya tanah Arab, subur, menjadi kering begitu?. Ini pembahasan di bidang lain, yang menyangkut zaman Es. Disana disebutkan bagaimana rotasi tersebut.</p>
<p>Wassalam.( Cairo 1 oktober 03.Rahima )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Bumi (Geologi) I</title>
		<link>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-i/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 07:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tadabbur Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahima Allah SWT berfirman di dalam kitabNya yang maha mulia : Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu,keduanya dahulu adalah satu kesatuan yang terpadu.Kemudian kami pisahkan antara keduanya.Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu yang hidup,maka mengapakah mereka tiada juga beriman? ( Al Anbiya 3 ) Muhammad Kamil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Rahima</p>
<p>Allah SWT berfirman di dalam kitabNya yang maha mulia : Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu,keduanya dahulu adalah satu kesatuan yang terpadu.Kemudian kami pisahkan antara keduanya.Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu yang hidup,maka mengapakah mereka tiada juga beriman? ( Al Anbiya 3 )</p>
<p><span id="more-221"></span>Muhammad Kamil Abd As Shamad dalam bukunya &#8221; Al I&#8217;jaz &#8216;Ilmi fi l Qur&#8217;an &#8221; halaman 77-78 mengatakan bahwa : Ilmu moderen pada abad terakhir telah menemukan bahwa,bumi dan langit-langit merupakan satu kesatuan,yang pada akhirnya terbelah .</p>
<p>Kemudian masing-masing dari unsur keduanya berasal dari awan-awan ( asap ),yang semakin lama semakin menebal dan membentuk suatu benda ( tak obahnya penciptaan manusia yang berasal hanya dari setetes air mani,kemudian menjadi benda yang keras dan bergerak ).</p>
<p>Kedua unsur ini sudah dibuktikan bahwa zat-zat yang ada di bumi dan matahari satu. Yaitu berupa gas yang terapung. Hal ini dilukiskan dan dibadaikan oleh Allah SWT dalam firmanNya &#8220;Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Allah berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintahku, dengan suka hati, atau terpaksa, keduanya menjawab, kami datang dengan suka hati.” ( Q.S Al Fushilat 11 ).</p>
<p><strong>BENTUK BUMI </strong></p>
<p>Sesuai dengan firman Allah SWT dalam kitabNya yang mulia : “Dan bumi setelah itu dijadikannya terhampar (seperti bulat telur ).” ( Q.S An Naazi&#8217;aat 30 ).</p>
<p>Kamus bahasa Arab memberikan arti kata &#8220;Dahaha&#8221; yaitu menjadikannya seperti &#8220;Ad Dahiyah”, yakni Bulat telor. Dan yang menguatkan lagi firman Allah bahwa bentuk bumi ini bulat adalah firmanNya sebagai berikut : &#8220;Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari, dan memelihara kedua tempat terbenamnya.” (Q.S Ar Rahman 17 )</p>
<p>Andaikan saja, bentuk bumi ini terbentang luas dan terhampar merata, tentu tempat terbit dan terbenamnya matahari satu. Dan cahaya matahari pasti menyinari seluruh isi jagad alam raya ini sekaligus, berarti tidak ada malam, karena diterangi oleh matahari, tanpa ada dinding pembatasnya.</p>
<p>Salah satu contoh saja, cobalah kita pinjam dulu bola kaki dunia itu, atau bola apa saja, kemudian kita kasih senter, maka bila kita mensenternya ( memberikan cahaya), pada bagian atas, maka bagian bawahnya gelap. Atau kita sinari bagian Barat, maka bagian Timurnya akan gelap, begitu juga sebaliknya. Karena bagian bawah, atau Timur terhalang mendapat sinaran tersebut. Ini pertanda bahwa bumi itu bulat,dan tidak datar begitu saja. Dan ini juga sesuai dengan firman Allah SWT</p>
<p>&#8220;Dan dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edar nya. Dia Allahlah yang menutupkan malam atas siang dan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang telah ditentukan.&#8221; (Q.S Al Anbiyaa). &#8220;Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam mendahului siang.&#8221; ( Q.S Yasin 40 ).</p>
<p><strong>ISYARAT-ISYARAT ALQUR&#8217;AN TENTANG GEOLOGI</strong></p>
<p>Zaglul Raghib Muhammad Al Najjar, (mukjizat Al Qur&#8217;an) dalam keterangannya mengenai ilmu geologi ini menyatakan : ”Dalam berbagai ayat, Al Qur&#8217;an banyak memberikan indikasi tentang jagad raya dengan segala bagian-bagiannya ( langit, bumi, segala benda mati dan hidup yang ada, serta berbagai fenomena jagat raya lainnya yang muldimensional ).”</p>
<p>Isyarat-isyarat itu menunjukkan bukti (istidlal) atas kekuasaan Allah yang tidak terbatas, ilmu dan hikmah yang maha sempurna dalam menciptakan jagad raya ini. Ini semua sebagai hujjah ( argumentasi ) terhadap orang-orang kafir, musyrik dan kaum skeptis, dan sekaligus mengukuhkan hakikat uluhiyah Allah, Rabb alam semesta. Jika kaum Muslimin memanfaatkan hal keilmuan dari Allah ini, niscaya mereka akan menjadi pelopor dalam setiap penemuan ilmiyah. Sekurang-kurangnya terdapat 49 ayat kauniyah di dalam Al Qur&#8217;an yang membicarakan bumi.</p>
<p>Antara lain yang membicarakan tentang lapis luar bumi dimana kita hidup diatasnya. Ayat-ayat yang mengandung sejumlah fakta ilmiyah geologi dapat diklasifikasikan dalam kompilasi-kompilasi berikut :</p>
<p>1) Ayat yang menyuruh manusia supaya berjalan dimuka bumi dan meneliti cara awal penciptaan, yang merupakan suatu metodologi ilmiyah dalam kajian geologi.</p>
<p>2) Ayat-ayat yang menunjukkan gerak dan asal usul bumi. Antara lain penyifatan bola bumi dan peredarannya, ayat–ayat yang menegaskan tentang posisi planet-planet hakekat ekspansi jagat raya permulaan alam yang dimulai dengan satu partikel (satu padu), kemudian partikel pertama yang meledak (tahap pemisahan), permulaan langit dan tahap penciptaannya, yang pertama dalam kabut tipis (tahap nabula) tersebarnya benda antara langit dan bumi (benda antara planet-planet), dan keselarasan seluruh yang ada di langit dan dibumi.</p>
<p>3) Ayat yang menetapkan bahwa setiap besi yang ada di planet bumi ini, telah diturunkan dari langit.</p>
<p>4) Ayat yang menetapkan bahwa bumi mempunyai tumbuh-tumbuhan, dan ini merupakan suatu sifat fundamental planet bumi yang kita huni ini.</p>
<p>5) Ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang berbicara tentang berbagai fenomena laut yang sangat urgen. Seperti gelapnya lautan dan samudra (peranan gelombang yang bersifat intern dan ekstern dalam pembentukannya). Pertemuan air laut air tawar dengan air asin.</p>
<p>6) Ayat-ayat yang berbicara tentang gunung. Antara lain ada yang mensifatinya sebagai &#8220;Pasak , tiang bumi&#8221;.</p>
<p>7) Ayat yang mengisyaratkan tentang proses pertumbuhan kulit bumi yang yang terdiri dari air dan udara. Itu terjadi dengan dikeluarkannya bagian-bagian kedua aspek tersebut dari perut bumi atau ayat-ayat yang mensifati tabi&#8217;at retroactive protective, bagi kulit bumi yang bersifat gas.</p>
<p> <img src='http://tauziyah.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang lembutnya kulit bumi yang membatu, rata gelombang permukaannya, terpecah lembah dan anak sungainya serta semakin berkurangnya ujung-ujung bumi.</p>
<p>9) Ayat yang menjelaskan tentang mengendapnya air hujan didalam bumi,dan mengisyaratkan adanya semacam selokan (kolam) air disekitar bumi dan bebatuannya.</p>
<p>10) Dan lain-lainnya. Fakta ilmiyah ini, tak pernah dikenal oeh manusia sebelum abad ini, justru banyak fakta-fakta ilmiyah itu yang belum dicapai oleh manusia kecuali pada beberapa dawarsa terakhir ini, setelah adanya upaya-upaya brilliant dan analisis mendalam tentang sejumlah besar observasi dan eksprimen-eksprimen ilmiyah dalam berbagai aspek yang ditangkap dari fenomena jagad raya.</p>
<p>Sesungguhnya keterdahuluan Al Qur&#8217;an dalam mengisyaratkan fakta-fakta ilmiyah tersebut dengan ungkapan yang sangat teliti, baik dari segi llmiyahnya, ataupun bahasanya, serta cakupan dan totalitasnya. Inilah ia mukjizat ilmiyah Al Qur&#8217;anulkarim.</p>
<p>Al Qur&#8217;an tetap terpelihara kata perkata, kalimat perkalimat, karena Allah akan memeliharanya &#8220;Inna nahnu nazzalnaa Ad Dzikra, wainnaa lahuu lahaafidzuun&#8221; (Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur&#8217;an itu, maka kami juga yang akan memeliharanya.)</p>
<p>(Rahima, Cairo 1 Oktober 2003)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2008/04/30/ilmu-bumi-geologi-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aisyah Bhutta (d/h Debbie Rogers) Islamkan Orangtua dan 30 Temannya</title>
		<link>http://tauziyah.com/2008/04/30/aisyah-bhutta-dh-debbie-rogers-islamkan-orangtua-dan-30-temannya/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2008/04/30/aisyah-bhutta-dh-debbie-rogers-islamkan-orangtua-dan-30-temannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 07:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang senantiasa mengingatkan Aisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat. Wajahnya kini terbungkus rapi oleh jilbab yang makin menunjukkan kesalehannya. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Tidak saja untuk keluarganya dan kerabat bahkan tetangga-tetangga juga tak luput dari dakwahnya. Alhasil, dia dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan 30 temannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.</p>
<p><span id="more-220"></span>Bagi seorang gadis Kristen taat seperti Debbie Rogers, masuk Islam lalu menikah dengan pria Muslim, adalah suatu hal yang luar biasa. Tak hanya itu, ia juga telah mengislamkan kedua orantuanya, beberapa orang saudaranya. Dan yang menakjubkan ia telah mengajak sedikitnya 30 orang teman dan tetangganya masuk Islam!</p>
<p>Debbie Rogers dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka, katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitasnya sebelum kenal Islam.</p>
<p>Tapi akhirnya dia &#8220;lelah&#8221; sendiri. Ia merasa tak mendapatkan apa-apa dari apa yang dipelajarinya. Bahkan banyak sekali daftar pertanyaan tentang paham Kristen yang tak berjawab. Debbie Rogers kemudian berkenalan dengan seorang pria keturunan Pakistan, Muhammad Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan dikemudian hari menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara jatuh cinta dengan Muhammad.</p>
<p><strong>Terkesan dengan shalat</strong></p>
<p>&#8220;Waktu itu saya masih kecil. Baru berumur 10 tahun. Kebetulan keluarga kami punya toko dan Muhammad adalah salah satu pelanggan tetapnya. Saya sering mengintip Muhammad kala shalat di belakang toko kami.</p>
<p>&#8220;Dari wajahnya saya melihat pancaran kedamaian. Tampaknya dia sangat ikhlas dan menikmati shalatnya. Kala saya tanya, dia bilang dia orang Islam. Apa itu Islam?&#8221; tanya Aisyah kecil heran.</p>
<p>Berselang beberapa lama, dengan bantuan Muhammad, Aisyah cilik mulai mendalami Islam lebih jauh. Sekitar lima tahunan ia pelajari kitab suci tersebut dan menariknya dia telah mampu membaca seluruh isi Al-Quran dengan bahasa Arab.</p>
<p>&#8220;Semua saya baca. Sungguh sangat menarik sekali. Serasa menancap di hati,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Alhasil, di usianya yang ke-16 Debbie Rogers pun mengucap dua kalimah syahadat. &#8220;Ketika saya mengucapkan kalimah itu, serasa seperti baru melepaskan beban berat yang lepas dari pundak saya. Luar biasa. Saya merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan,&#8221; ujarnya. Ia lantas mengganti namanya, Debbie Rogers menjadi Aisyah.</p>
<p>Meskipun Aisyah sudah memeluk Islam, namun bakal calon mertuanya –ayah kandung Muhammad&#8211; tidak setuju putranya menikah dengan wanita Barat. Orangtua Muhammad masih berpikiran tradisional yang menganggap perempuan Barat sulit menerima Islam. Dan, menurut mereka, malah nanti Muhammad yang dibawa ke jalan yang tidak benar. Mereka takut nanti nama keluarga menjadi jelek di mata masyarakat Islam. Namun tekad Muhammad sudah bulat. Iman Aisyah harus diselamatkan.</p>
<p>Muhammad melaksanakan pernikahan di mesjid setempat. Bahkan pakaian nikah yang dikenakan Aisyah dijahit sendiri oleh ibu kandung Muhammad dan saudaranya yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi. Sebab bapaknya menolak menghadiri acara sakral dalam hidup anaknya itu. Halnya Michael dan Marjory Rogers, orangtua Aisyah, turut hadir di pernikahan anaknya. Mereka mengaku terkesan dengan baju nikah Aisyah.</p>
<p>Hubungan hambar dengan bapaknya akhirnya mencair. Ceritanya, nenek Muhammad datang khusus dari Pakistan untuk menjenguk cucunya yang baru menikah. Bagi neneknya, pernikahan dengan perempuan Barat juga masih tabu. Namun, semuanya berubah tatkala nenek Muhammad berjumpa dengan Aisyah. Dia sangat takjub dengan perempuan Skotlandia itu yang sudah mampu membaca Al-Quran dan menariknya lagi Aisyah bisa bercakap dalam bahasa Punjab. Perlahan Aisyah telah jadi bagian dari keluarga besar Muhammad.</p>
<p><strong>Islamkan orangtua</strong></p>
<p>Enam tahun kemudian, Aisyah mulai menjalankan misi sulit, yakni mengislamkan kedua orangtua dan anggota keluarganya. Aisyah dan suaminya menceritakan apa itu Islam. Aisyah sendiri kini telah berubah banyak dan hal itu tentu bagian dari dakwah kepada kedua orangtuanya. Misalnya kini dia jadi anak yang sopan, tidak suka membantah kata-kata orangtuanya seperti dulu. Kesan perubahan sikap dan tingkah laku sang anak rupanya merasuk ke hati sang ibu. Tak lama, ibunya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sumayyah.</p>
<p>&#8220;Bahkan ibu kini sudah mengenakan jilbab. Ibu shalat tepat waktu. Kini tak ada yang menarik baginya kecuali senantiasa berhubungan dengan Allah,&#8221; tutur Aisyah bangga. Akan halnya dengan ayah Aisyah, ternyata sangat sulit untuk diajak. Ibu Aisyah turut membantu mengenalkan sang ayah kepada Islam. &#8220;Ibu dan saya sering berdiskusi tentang Islam. Nah satu hari kami duduk-duduk di dapur. Lalu ayah berkata, &#8220;Kalimat apa yang kalian ucapkan ketika masuk Islam? Spontan saya dan ibu melompat ke atasnya,&#8221; cerita Aisyah sumringah. Ayah pun memeluk Islam.</p>
<p>Lalu, tiga tahun kemudian, abang kandung Aisyah juga mengucap dua kalimah syahadah. Uniknya sang abang memeluk Islam melalui telepon karena ia tinggal agak jauh. Aisyah makin bersemangat tatkala melihat istri abangnya, diikuti oleh anak-anaknya juga memeluk Islam. Bahkan keponakan istri si abang juga masuk Islam. Bukan main bahagianya Aisyah.</p>
<p><strong>Membuka kelas Islam</strong></p>
<p>&#8220;Saya belum mau berhenti berdakwah. Keluarga sudah, lalu saya beralih kepada para tetangga di Cowcaddens. Kawasan ini perumahannya sangat padat, bahkan bisa dikatakan kumuh. Tiap hari Senin selama 13 tahun saya membuka kelas khusus tentang Islam bagi wanita-wanita Skotlandia yang ada di situ,&#8221; kisah Aisyah mengenang. Sejauh ini dia sudah berhasil mengislamkan tetangga sekitar 30 orang.</p>
<p>&#8220;Latar belakang mereka macam-macam. Trudy misalnya, dia seorang dosen di Universitas Glasgow. Trudy adalah seorang Katolik yang awalnya mengikuti kelas saya untuk mengumpulkan data penelitian yang sedang dikerjakannya. Namun setelah berjalan enam tahun Trudy memutuskan memeluk Islam. Menurutnya Kristen sulit diterima akal dan membingungkan, &#8221; sebut Aisyah. Trudy sendiri mengaku masuk Islam karena terkesan dengan kuliah Aisyah yang mudah diterima dan masuk akal.</p>
<p>Disamping siswa non-Muslim, kelas binaan Aisyah juga dipenuhi oleh gadis-gadis Islam yang telah terkena polusi pemikiran Barat. Menurut Aisyah, justru mereka yang patut diselamatkan. Aisyah pun fleksibel dalam kuliahnya. Dia menerima secara terbuka setiap pertanyaan dan mengajak peserta berdiskusi.</p>
<p>Suami Aisyah, Muhammad Bhutta (43), tampaknya tidak begitu tertarik untuk berdakwah di kalangan warga asli Skotlandia. Dia konsentrasi pada usaha restorannya. Fokus suami Aisyah adalah keluarga dan usaha. Suaminya yang bertugas memberikan ajaran Islam kepada kelima anaknya. Tumbuh dengan akhlak dan nuansa Islam, itulah obsesi Aisyah dan suaminya akan anak-anak mereka. Bahkan Safia, anaknya tertua yang berusia 14 tahun menjadi sebab masuk Islamnya seorang wanita tua.</p>
<p>Ceritanya, suatu hari Safia melihat seorang nenek di jalan, dia tergerak untuk membantu si nenek dengan membawakan belanjaannya. Sang nenek rupanya terkesan. Tak berapa lama si nenek pun ikut kelas Aisyah Bhutta, dan beberapa waktu kemudian akhirnya bersyahadat.</p>
<p>&#8220;Muhammad orangnya romatis,&#8221; ujar Aisyah tersipu. &#8220;Saya seakan telah mengenalnya selama berabad-abad. Jadi tak mungkin terpisahkan. Dia bukan hanya kawan dalam hidup di dunia ini, tapi yang lebih penting lagi semoga juga kawan di surga nanti dan selama-lamanya. Itulah hal terindah,&#8221; tutup Aisyah.</p>
<p>[Zulkarnain Jalil/www.hidayatul lah.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2008/04/30/aisyah-bhutta-dh-debbie-rogers-islamkan-orangtua-dan-30-temannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Amerika Memeluk Islam</title>
		<link>http://tauziyah.com/2008/04/30/gadis-amerika-memeluk-islam/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2008/04/30/gadis-amerika-memeluk-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 07:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Hajar adalah nama baru bagi YAMILA,  seorang gadis Amerika umur 28 tahun, mahasiswi MISSOURI UNIVERSITY, Columbia, jurusan ilmu sosial. Dua tahun yang lalu ia mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan mendalami mengenai “apa hakikat Islam itu.” Masalah ini adalah masalah yang sulit yang belum pernah dijumpai di Amerika yang matrealistis itu. Setelah dua tahun mendalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hajar adalah nama baru bagi YAMILA,  seorang gadis Amerika umur 28 tahun, mahasiswi MISSOURI UNIVERSITY, Columbia, jurusan ilmu sosial. Dua tahun yang lalu ia mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan mendalami mengenai “apa hakikat Islam itu.” Masalah ini adalah masalah yang sulit yang belum pernah dijumpai di Amerika yang matrealistis itu. Setelah dua tahun mendalami Islam ia memproklamirkan dirinya memeluk agama Islam dan mengubah namanya YAMILA menjadi HAJAR. Ia mencintai nama itu karena ada hubungannya dengan Islam.</p>
<p><span id="more-219"></span>Hajar menceritakan pengalamannya demikian :<br />
“Sudah lama timbul pertanyaan dalam hati saya tentang alam ini, existensi dan kehidupan dalam alam ini. Untuk mendapatkan jawaban ini secara filosofis telah membuat saya menjadi kurus,” katanya. “karena saya sewaktu mempelajari kebudayaan Amerika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hal itu.”</p>
<p>Saya sebenarnya sudah pernah mendengar tentang agama Islam tetapi gambarannya belum jelas dalam hatiku, bahkan gambaran  yang saya dapati malah jelek. Saya menduga bahwa Islam adalah agama pemisah antara laki-laki dan perempuan dan berdiri di atas kebengisan dan kekerasan. Demikianlah saya belum juga mengerti tentang hakikat Islam. Setelah saya menekuninya barulah saya tahu tentang kesucian Islam dan mengerti bahwa ia adalah agama yang menentang kekuatan materialis. Dari sejak itulah saya lebih giat lagi mempelajarinya walaupun terasa sangat berat karena di sana tidak ada buku-buku berbahasa inggris yang menjelaskan Islam secara benar. Hal ini bukan penghalang bagi saya sebab saya memang sudah cinta kepada Islam dan saya yakin benar bahwa Islam adalah agama yang adil dan obyektif, yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mempertanggung jawabkan perbuatan sendiri. Demikian terus-menerus saya fahami dan bertambah sadar yang akhirnya atas petunjuk Allah saya memeluk agama Islam.”</p>
<p>HAJAR berda’wah kepada Islam :<br />
Setelah hajar memeluk Islam ia bekerja sungguh-sungguh untuk menyebarkan Islam karena ia sadar bahwa tugasnya sekarang adalah berjuang membela dan menegakkan Islam serta menyampaikan da’wah Islamiyah kepada orang-orang Amerika. Mereka menjadi bodoh tentang Islam karena ulah musuh-musuh Islam yang dengki yang memberikan gambaran jelek tentang Islam.</p>
<p>Islam sungguh telah mengubah keadaan Hajar secara total. Kalau dulu sebelum Islam ia hidup seperti gadis-gadis Amerika lain, bermain-main dan menghibur diri, kini ia menjadi orang yang patuh kepada ajaran dan norma-norma Islam. Hal ini terbukti dalam ucapannya yaitu :<br />
“Sesungguhnya tujuanku yang pokok ialah saya berjuang membela Islam dan memerangi kapitalis, kelaliman, kejahatan serta segala keburukan. Saya yakin bahwa Islam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari bahaya perang, kelaparan dan nyanyian.”</p>
<p>Ketika ia ditanya mengapa  hanya Islam yang menjadi penyelamat manusia ia menjawab : “karena  hanya Islam yang mampu menjajikan pemecahan problem dunia sekarang ini, baik dari sudut sosial maupun politik. Karena ia adalah peraturan hidup yang komplex yang mempunyai keseimbangan antara tuntutan rohani dan jasmani tanpa ada kekurangan.</p>
<p>Sungguh aku telah mendapatkan jawaban secara falsafi di dalam Islam yang dulu pertanyaan-pertanyaan itu membuatku gelisah sampai tidak bisa tidur nyenyak.</p>
<p>Dan Hajar pada waktu berbicara tentang Islam yakin benar atas kebenaran apa yang diucapkannya. Bahkan kadang-kadang ia menguraikan ibarat yang Islami dengan bahasa Arab. Pada pokoknya ia benar-benar mengerti bahwa Islam adalah peraturan hidup yang multi komplex bukan hanya untuk ibadah saja.<br />
Ajaran jihad dalam Islam menurut Hajar merupakan yang paling penting dan yang paling diperlukan oleh umat Islam pada saat sekarang ini. Sejak memeluk Islam ia mengubah cara hidupnya. Ia memakai busana muslimah dan melaksanakan shalat lima waktu. Ia mencurahkan tenaga untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an agar mampu melaksanakan shalat  secara lebih sempurna.</p>
<p>Suatu hal yang wajar kalau ia menghadapi hambatan dari keluarga dan rekan-rekannya. Namun hal itu dianggapnya sebagai hal yang ringan saja. Ia mengatakan : “dalam rangka menjalankan kepercayaanku, segala rintangan kuanggap ringan dan itu adalah wajar bagi seorang muslim. Sebelumnya juga memang sudah banyak terjadi orang muslim disiksa, akan tetapi mereka tetap dalam Islam. Demikian pula saya, tidak ada yang saya perdulikan kecuali bahwa saya adalah muslim.”</p>
<p>Kegiatan Hajar tidak terbatas dalam segi sosial dan agama saja. Ia juga aktif dalam bidang politik dan beranggapan bahwa ada hak yang adil bagi bangsa Palestina Muslim. Karena itu ia selalu memberikan ceramah tentang penindasan dan penganiayaan terhadap bangsa Palestina.</p>
<p>Hajar memang gadis tunggal yang tiada duanya. Ia seorang gadis berkulit putih yang merubah profesinya manjadi da’iyah Islamiyah yang membela urusan bangsa Palestina, padahal ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak mau mendengarkan omongannya, namun ia tidak goyah dan tidak bosan. Tugas dakwahnya secara  umum ditujukan kepada segenap umat Islam dan secara khusus ditujukan kepada bangsa Arab.</p>
<p>Hai bangsa Arab, kalau kamu menyinari jalan semua umat manusia janganlah kamu lemah menghadapi israil dan antek-anteknya yang telah merampas bumimu yang suci itu.</p>
<p>(Sumber : Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu, Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat)</p>
<h4 style="margin: 6pt 0cm; text-indent: 0cm;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Palatino Linotype&quot;;" lang="EN-US"></span></strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2008/04/30/gadis-amerika-memeluk-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesalahan dan Kebaikan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu kepada orang lain dan kebaikan orang lain kepadamu. Lupakan dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu.&#8221; Nasihat ahli hikmah ini, perlu kita jadikan bahan renungan dan introspeksi dalam upaya mencapai pribadi yang ber-akhlakul karimah. Nilai seseorang bukanlah berada pada penampilan dirinya, bukan pula dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu kepada orang lain dan kebaikan orang lain kepadamu. Lupakan dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu.&#8221;</p>
<p>Nasihat ahli hikmah ini, perlu kita jadikan bahan renungan dan introspeksi dalam upaya mencapai pribadi yang ber-akhlakul karimah. Nilai seseorang bukanlah berada pada penampilan dirinya, bukan pula dari jabatan dan harta benda yang telah dikumpulkan. Seseorang dinilai bukan dari kursi yang diduduki, bukan pula berapa pangkat yang disandang dan tanda jasa yang melekat pada dadanya, serta bukan karena garis keturunannya. Seorang itu dinilai dari budi pekerti luhur yang menghiasi perilakunya.Â </p>
<p><span id="more-217"></span>Dikatakan dalam pepatah Arab, &#8221;Kemuliaan seseorang itu dengan budi pekerti yang baik, bukan karena keturunan.&#8221; Mengapa kita harus mengingat kesalahan yang telah dikerjakan pada orang lain? Dengan mengingatnya, akan menimbulkan perasaan menyesal dalam diri kita, perasaan yang mendorong untuk bertobat kepada Allah, kemudian berusaha memperbaikinya dengan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya.Â </p>
<p>Mengingat kebaikan orang lain terhadap kita akan mendorong kita selalu berbuat baik kepada orang lain. Kehidupan tidak akan terbina dengan baik tanpa kebaikan orang lain, yang pada hakikatnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.&#8221; (HR Bukhari-Muslim) .Â </p>
<p>Melupakan kebaikan yang telah diperbuat pada orang lain akan mendorong kita menjadi pribadi yang mukhlis. Setiap kebaikan, hanya diniatkan lillah ta&#8217;la, seikhlas-ikhlasnya. Sebagai Muslim, sudah semestinya menjaga agar hati selalu suci dari kemunafikan, perbuatan harus selalu suci dari riya&#8217;, lidah harus selalu suci dari kebohongan. Sedangkan dengan melupakan kesalahan orang lain, akan mendorong kita menjadi pribadi pemaaf. Kita akan gampang memaafkan, sebesar apa pun kesalahan orang.Â </p>
<p>(Mahmudi Arif D )Â </p>
<p>Source : republika.co. id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Labu</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/labu/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/labu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thibbun Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/labu/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu makanan yang biasa dikonsumsi Rosululloh saw adalah makanan yang oleh para ilmuwan telah dijadikan tema riset dan analisis, di mana akhirnya mereka menemukan khasiat yang besar, dengan izin Alloh, yaitu dubÃ¢â€™ atau yaqthÃ®n atau qorâ€˜ (labu). BukhÃ´rÃ® telah membuat bab khusus tentang dubÃ¢â€™ ini, dalam kitabnya. Di dalamnya disebutkan hadits Nabi saw. yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu makanan yang biasa dikonsumsi Rosululloh saw adalah makanan yang oleh para ilmuwan telah dijadikan tema riset dan analisis, di mana akhirnya mereka menemukan khasiat yang besar, dengan izin Alloh, yaitu dubÃ¢â€™ atau yaqthÃ®n atau qorâ€˜ (labu).</p>
<p>BukhÃ´rÃ® telah membuat bab khusus tentang dubÃ¢â€™ ini, dalam kitabnya. Di dalamnya disebutkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan dari Anas : â€œBahwa Rosululloh saw datang kepada seorang budaknya yang ahli menjahit, budak itu menyuguhkan labu, lantas beliau terus memakannya. Saya jadi suka makan labu semenjak saya melihat Rosululloh saw memakannya.â€283)</p>
<p><span id="more-216"></span>Alloh Ta&#8217;ala berfirman :Â  â€œSesungguhnya YÃ»nus benar-benar salah seorang rosul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi lalu ia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Alloh. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan ia ke daerah yang tandus, sedangkan ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu.â€ (Ash-ShÃ´ffÃ¢t [37] : 139-147)</p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim secara panjang lebar telah berbicara mengenai labu284). Saudaraku mulia! Perhatikan, bagaimana Alloh menyebut pohon ini di dalam Al-Quran. Kemudian, mari kita perhatikan, bagaimana Rosululloh saw menyukai labu. Nanti Anda akan mengetahui khasiat-khasiat dari pohon ini.</p>
<p>AbÃ» ThÃ´lÃ»t berkata : Saya pernah berkunjung kepada Anas bin MÃ¢lik ra, sedangkan pada saat itu ia sedang makan labu. Ia mengatakan, â€œDuh, engkau adalah pohon yang tidak kusukai, kecuali karena Rosululloh saw menyukaimu.â€285) Ketahuilah, saudara, bahwa para pelaku riset ilmiah telah menegaskan bahwa tumbuhan jenis labu-labuan merupakan pencegah penyakit sekaligus obat dan gizi.286)</p>
<p>Dr. KamÃ¢l Fadhl berkata, â€œPara peneliti di bidang tumbuh-tumbuhan, kimia, farmasi, dan kedokteran seyogyanya melanjut-kan penelitian mereka, sebagai salah satu bentuk dakwah di tengah-tengah masyarakat non muslim, sekaligus sebagai bentuk perenungan di tengah-tengah masyarakat yang beriman dengan izin Alloh, tentang ayat-ayat Al-Quranul Karim yang berbicara mengenai pohon ini.</p>
<p>Ada suatu ide ilmiah yang dilontarkan dalam dua buah forum yang diakhiri dengan dua buah tulisan yang ditulis untuk meraih gelar master, salah satunya sudah selesai dan penulisnya meraih gelar master, sedangkan yang kedua hampir selesai.</p>
<p>Fokus ide dan tulisan tersebut dimulai dari tema labu, beberapa hikmah tentang relevansi penyebutan labu dengan kondisi Nabi YÃ»nus yang telah dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Quran, di mana beliau sempat tinggal di dalam perut ikan, keluar dari perut ikan itu dalam keadaan sakit, yang dalam tafsir dise-butkan bahwa beliau lemah tak berdaya atau sakit. Itu bisa terjadi karena apa yang dialaminya, sejak ditelan ikan, tinggal di dalam perut, dan dimuntahkan di daerah yang tandus.</p>
<p>Seorang ahli klasifikasi tumbuhan mengatakan bahwa sifat-sifat morfologis (bentuk luar) dan anatomis di antara masing-masing jenis tumbuhan dari satu famili kadang-kadang bermiripan dan kadang-kadang sama.Demikian pula para ahli farmakologi mengatakan bahwa bisa jadi komposisi kimiawi antara beberapa jenis tumbuhan dari satu famili memiliki kesamaan.</p>
<p>Berdasarkan hal itu, penelitian diarahkan untuk mengetahui komposisi sebagian jenis tumbuhan dari keluarga labu-labuan dan pengaruh pencegahan dan pengobatan yang dikandungnya terkait dengan keluarnya Nabi YÃ»nus as. dari perut ikan dalam keadaan sakit dan lemah tak berdaya. Hasil-hasil riset menunjukkan bahwa tumbuhan dari famili labu-labuan sangat efektif membunuh bakteri, kemudian tingkat efektivitas ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan jenis tumbuhan, bagian yang digunakan, jenis bakteri, dan ekstrak.</p>
<p>Labu â€˜asali (madu) adalah yang paling efektif membunuh bakteri.Adapun terkait dengan jenis bakteri, maka efektivitas dalam melawan bakteri gram positif287) lebih kuat dibandingkan dengan bakteri gram negatif.<br />
Semua ini menegaskan khasiat labu-labuan dalam mencegah dan mengobati mikroba.</p>
<p>Demikianlah, sedangkan riset dalam bidang ini masih terus berlangsung dan ini menguatkan pengaruh labu-labuan untuk mencegah adanya berbagai serangga, dan kemudian mencegah penyakit-penyakit yang ditularkan oleh serangga tersebut.Sebagian jenis labu-labuan sudah dikenal secara populer memiliki khasiat mengobati sejumlah penyakit, contohnya :</p>
<p>a.Â  Luka bakar, memar, keseleo.</p>
<p>b.Â  Menghilangkan demam ketika suhu badan tinggi.</p>
<p>Bisakah semua khasiat itu dianggap sebagai sebagian relevansi penyebutan labu dengan keadaan YÃ»nus as begitu keluar dari perut ikan? Tanpa melihat apakah junjungan kita Nabi YÃ»nus as memakan buah labu tersebut atau tidak, sesungguhnya labu merupakan tumbuhan bergizi tinggi, mudah dicerna, tidak memberatkan lambung dan usus, sangat bermanfaat bagi pengidap penyakit jantung, orang tua, dan siapa saja yang berada dalam masa-masa pemulihan kesembuhan secara umum.â€ Sampai di sini perkataan Dr. KamÃ¢l Fadhl KholÃ®fah.</p>
<p>_____________________</p>
<p>283) BukhÃ´rÃ® (5433).</p>
<p>284) Ath-Thibbu `n-NabawÃ®, Ibnu Qoyyim, hal. 404. Siapa yang ingin memperluas pengetahuannya tentang labu, hendaklah merujuk kepadanya.</p>
<p>285) Ath-Thibbu `n-NabawÃ®, Ibnu Qoyyim, hal. 404. Siapa yang ingin memperluas pengetahuannya tentang labu, hendaklah merujuk kepadanya.</p>
<p>286)Judul tulisan Dr. KamÃ¢l Fadhl KholÃ®fah, Dosen Ilmu Tumbuh-tumbuhan di Universitas Khortoum, Haiâ€™atul Iâ€˜jÃ¢zi `l-â€˜IlmÃ® li `l-Qurâ€™Ã¢n wa `s-Sunnah, edisi keempat belas, Dzulqoâ€˜dah 1423 H.</p>
<p>287)Gram adalah nama sejenis pewarna dalam mikrobiologi, untuk mewarnai bakteri. Bakteri gram negatif tak meresap zat warna tersebut, sedangkan bakteri gram positif meresapnya -penerj.</p>
<p>Sumber : www.thibbun-nabawi.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/labu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kayu Manis Obat Asam Urat</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/kayu-manis-obat-asam-urat-2/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/kayu-manis-obat-asam-urat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thibbun Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/kayu-manis-obat-asam-urat-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kayu manis adalah salah satu rempah yang biasa dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai bumbu penyedap masakan dan pembuatan kue, kayu manis sejak dulu dikenal memiliki berbagai khasiat. Bahkan, kayu manis saat ini sudah menjadi bagian dari bahan baku dalam industri jamu dan kosmetika. Kayu manis (Cinnamomum burmani) memang memiliki efek farmakologis yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayu manis adalah salah satu rempah yang biasa dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai bumbu penyedap masakan dan pembuatan kue, kayu manis sejak dulu dikenal memiliki berbagai khasiat. Bahkan, kayu manis saat ini sudah menjadi bagian dari bahan baku dalam industri jamu dan kosmetika.</p>
<p>Kayu manis (Cinnamomum burmani) memang memiliki efek farmakologis yang dibutuhkan dalam obat-obatan. Tumbuhan yang kulit batang, daun, dan akarnya bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan ini berkhasiat sebagai peluruh kentut (carminative), peluruh keringat (diaphoretic), antirematik, meningkatkan napsu makan (istomachica), dan menghilangkan sakit (analgesik).</p>
<p>Â <span id="more-215"></span>Kandungan kimia ada terdapat dalam kayu manis adalah minyak atsiri, eugenol, safrole, sinamaldehide, tanin, kalsium oksalat, damar, dan zat penyamak. Sifat kimia dari kayu manis adalah pedas, sedikit manis, hangat, dan wangi.</p>
<p>Menurut pakar obat-obatan herbal, Prof Hembing Wijayakusuma, kayu manis memiliki banyak khasiat obat. Di antaranya, obat asam urat, tekanan darah tinggi (hipertensi), radang lambung atau maag (gastritis), tidak napsu makan, sakit kepala (vertigo), masuk angin, perut kembung, diare, muntah-muntah, hernia, susah buang air besar, sariwan, asma, sakit kuning, dan lain-lain.</p>
<p>Sebagai obat asam urat, sebanyak 1 ibujari kayu manis, 5 gram biji pala, 5 butir kapulaga, 5 butir cengkeh, 200 gram ubi jalar merah, 10 butir merica, 15 gram jahe merah, direbus dengan 1.500 cc air hingga tersisa 500 cc. Ramuan kemudian disaring lalu ditambahkan 200 cc air susu cair dan diminum. Sementara ubinya yang ikut direbus dimakan.</p>
<p>Resep obat asam urat lainnya, 1 ibu jari kayu manis, 15 gram jahe merah, 5 gram biji pala, 5 butir kapulaga, 5 butir cengkeh, 4 lembar daun sosor bebek, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Air rebusan disaring dan diminum.</p>
<p>Mengatasi tekanan darah tinggi, 2 jari kayu manis, 10 gram asam trengguli, 10 gram kencur, 15 gram daun sena, dan 20 gram daun saga direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc. Rebusan disaring dan diminum selagi hangat. Resep lainnya, 1 jari kulit kayu manis, 10 gram asam trengguli, 60 gram rambut jagung, dan 30 gram seledri, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Airnya kemudian disaring dan diminum hangat-hangat.</p>
<p>Obat maag, 10 gram kayu manis direbus dengan 200 cc air hingga tersisa 100 cc, lalu disaring dan diminum selagi hangat. Obat sakit kepala, 10 gram kayu manis, 3 butir cengkeh, 5 gram biji pala, 5 gram merica, 10 gram jahe, ditumbuk hingga menjadi bubuk. Lalu diseduh dengan air secukupnya, disaring, dan diminum secara teratur.</p>
<p>Mengatasi masuk angin dan perut kembung, 5 gram kayu manis, 10 gram jahe, 5 butir cengkeh, 5 gram pulasari, 5 gram adas, 5 gram biji pala, dan gula aren secukupnya, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 450 cc. Kemudian disaring dan diminum selagi hangat sebanyak 150 cc, lakukan tiga kali sehari.</p>
<p>Obat diare, 5 gram kayu manis, 5 lembar daun jambu biji, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Air disaring dan ditambahkan gula secukupnya, kemudian diminum 150 cc sebanyak dua kali sehari. Mag</p>
<p>Sumber : republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/kayu-manis-obat-asam-urat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

