<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/tags/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengapa? Karena Dia Manusia Biasa</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/mengapa-karena-dia-manusia-biasa/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/mengapa-karena-dia-manusia-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/mengapa-karena-dia-manusia-biasa/</guid>
		<description><![CDATA[by Ugik Madyo Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir,Â  manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by Ugik Madyo</p>
<p>Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir,Â  manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.</p>
<p>Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.</p>
<p><span id="more-208"></span>Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.</p>
<p>Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.</p>
<p>Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That&#8217;s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.</p>
<p>Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.</p>
<p>&#8220;Aku gak bisa tidur.&#8221; Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. &#8220;Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.&#8221; &#8220;Iya.. ya.&#8221; Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. IngÃ¡ akhirnya terlontar<br />
juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu memilih dia?&#8221; Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas di dalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.</p>
<p>&#8220;Buka aja.&#8221; Sebuah kertas saya tarik keluar. Yertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.</p>
<p>&#8220;Busyet dah nih orang.&#8221; Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.</p>
<p>Kepada Yth</p>
<p>Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya</p>
<p>Di tempat</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb</p>
<p>Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat<br />
ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.</p>
<p>Saya, yang bernama &#8230;&#8230; menginginkan anda &#8230;&#8230; untuk menjadi istri saya.Â <br />
Â <br />
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.Â <br />
Â <br />
Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.</p>
<p>Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa<br />
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.Â <br />
Â <br />
Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.</p>
<p>Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.</p>
<p>Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.</p>
<p>Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum Wr Wb</p>
<p>Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat &#8216;lamaran&#8217; yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu memilih dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena dia manusia biasa.&#8221; Dia menjawab mantap. &#8220;Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ssttt.&#8221; Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. &#8220;Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.&#8221; Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.</p>
<p>&#8220;Gik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidur. Dah malam.&#8221; Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih. * * *</p>
<p>Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah &#8216;proses usaha&#8217;.</p>
<p>Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan &#8216;nama&#8217;. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang &#8216;melekat&#8217; pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.</p>
<p>Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.</p>
<p>Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.</p>
<p>Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.</p>
<p>Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan.</p>
<p>Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas: &#8220;Cinta tumbuh karena suami/istri( belahan jiwa).&#8221;</p>
<p>Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.</p>
<p>Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/mengapa-karena-dia-manusia-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan Hati</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/pertemuan-hati/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/pertemuan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/pertemuan-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh D. Zawawi Imron Si pemuda musafir bercaping dan bertongkat itu akhirnya berteduh juga di bawah pohon yang rindang di tepi jalan desa yang sepi. Siang memang menyengat, musim kemarau sedang sempurna panasnya. Anak muda itu duduk pada akar pohon yang menyembul dari tanah. Ia berpikir, telah berapa tahun umur pohon besar itu dan sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh D. Zawawi Imron</p>
<p>Si pemuda musafir bercaping dan bertongkat itu akhirnya berteduh juga di bawah pohon yang rindang di tepi jalan desa yang sepi. Siang memang menyengat, musim kemarau sedang sempurna panasnya. Anak muda itu duduk pada akar pohon yang menyembul dari tanah. Ia berpikir, telah berapa tahun umur pohon besar itu dan sampai kapan ia akan berhenti berdaun dan kemudian mati.</p>
<p><span id="more-207"></span>&#8220;Pohon besar ini mungkin akan hidup terus sampai kiamat, kecuali ada tangan manusia yang menebangnya, &#8221; pikirnya. &#8220;Tapi mungkin pohon ini akan mati sebelum kiamat atau sebelum ditebang. Pohon ini sangat tua. Tapi yang mengherankan ia selalu menggugurkan daun-daunnya dan menggantinya dengan daun-daun muda yang baru. Mungkin pohon besar ini tidak pernah merasa tua. Ia hanya hidup dan terus melanjutkan kehidupan. Pohon ini seakan-akan menganggap hidup ini tugas, dan bukan beban.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tiba-tiba ada orang tua mendatangi sang pemuda. Mereka berkenalan dengan bahasa keramahan. Kakek tua itu juga duduk di akar pohon yang satunya lagi. Mereka saling berhadapan.</p>
<p>&#8220;Bapak akan ke mana?&#8221; tanya si pemuda. &#8220;Aku mencari sebuah â€™entahâ€™, tiba-tiba aku melihat dirimu duduk di sini. Aku melihat di dalam dirimu ada diriku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, saya tak yakin itu. Saya adalah saya dan Anda adalah Anda. Dan saya lahir dari ibu yang berbeda dengan ibu Anda. Serta pada tanggal yang berbeda pula, karena saya sekarang masih berumur 35 tahun, sedangkan Bapak saya kira-kira sudah lebih 70 tahun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, tapi aku melihat bayang-bayang diriku dalam telaga sukmamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Anda melihat saya seperti matahari memandang cahayanya sendiri yang memantul pada bulan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, jauh dari itu. Yang aku rasakan sekarang, rohani kita bagaikan bayi kembar tapi dari rahim ibu yang berlainan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, saya kira rumusan itu yang lebih mendekati kebenaran. Jadi kita ini sebenarnya bersaudara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar-benar bersaudara atau bersepakat untuk merasa bersaudara?&#8221; &#8220;Terserah Bapak. Tapi yang penting kita telah merasa bersaudara. Karena seandainya saya mati sekarang, Bapaklah yang pasti bertugas untuk mengubur.&#8221;</p>
<p>Perhatian sang pemuda tiba-tiba beralih ke temapt yang jauh. Seakan-akan ia tidak merasa ada teman bicara di dekatnya. Sementara Pak Tua dengan penuh arif hanya memperhatikan teman barunya yang sedang memandang ke arah yang jauh. Udara memang panas, tapi untunglah mereka berada di bawah kerindangan pohon besar. Beberapa ekor burung berkicauan di ranting-ranting yang tinggi seakan-akan menyanyikan kasih sayang Tuhan yang mencelup warna daun-daun.</p>
<p>&#8220;Apa yang sedang kau perhatikan, kawan?&#8221; tanya Pak Tua. Sang pemuda terkejut menyadari bahwa dirinya tidak sendiri. Kemudian jawabnya, &#8220;Maaf, perhatian saya tadi digoda oleh bangau yang hinggap di punggung kerbau di tengah sabah itu. Kedua binatang itu seakan mengajar kita dengan indahnya persahabatan. &#8221;</p>
<p>&#8220;Pemaknaanku lain lagi,&#8221; kata Pak Tua. &#8220;Kedua binatang itu siapa tahu mengejek sebagian manusia yang kini suka bermusuhan, saling fitnah, dan bahkan suka berperang dengan sesamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebuah interpretasi yang bagus,&#8221; ujar sang pemuda. &#8220;Saya setuju. Apalagi kalau dikaitkan dengan peristiwa di Campuchia sekitar 20 tahun yang lalu. Kita seakan tidak percaya bahwa pada zaman rezim Kmer Merah di sana, kelaparan telah membuat banyak orang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bagaimana itu bisa terjadi?&#8221; &#8220;Dalam agama, berburuk sangka, membuka aib saudara atau teman, itu sama dengan memakan daging saudara sendiri. Bayangkan, kalau di sebuah negeri, kekayaan negaranya ratusan triliun yang dikorupsi, apa secara hakikat tidak ada orang yang makan daging bangsanya sendiri?&#8221;</p>
<p>Sang pemuda termenung agak lama. Memang tak ada air mata menetes. Cuma di balik itu terasa air mata meleleh di dalam hatinya. Kemudian ia berpikir, &#8220;seandainya tak ada korupsi dan kekayaan itu digunakan di atas jalan yang lurus, tentu tidak ada orang miskin.&#8221;</p>
<p>Cuma, kalimat di atas itu tak sempat ia ucapkan. Pemuda itu lalu pamit menjabat tangan Pak Tua, yang kemudian disambut dengan pelukan erat. Lalu keduanya berpisah tanpa selarik kata. Mereka seperti telah memahami duka kemanusiaan yang sangat lama dan panjang. Mereka adalah orang-orang yang sulit untuk senang sendiri bila bangsanya masih banyak yang menderita.** *</p>
<p>Sumber : jawapos.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/pertemuan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Diri Generasi Nanti</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/potret-diri-generasi-nanti/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/potret-diri-generasi-nanti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 11:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/potret-diri-generasi-nanti/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag. &#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.&#8221; (Q.S. An-Nisaa : 9) Hari itu, tidak lama selepas adzan maghrib, saya masih dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag.</p>
<p>&#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.&#8221; (Q.S. An-Nisaa : 9)</p>
<p><span id="more-193"></span>Hari itu, tidak lama selepas adzan maghrib, saya masih dalam perjalanan pulang di sebuah angkutan kota di pinggiran kota Bogor. Ketika melalui sebuah &#8220;Polisi Tidur&#8221;, angkot yang saya tumpangi melaju lambat dan tiba-tiba saja seorang anak kecil melompat ke pintu angkot, lalu duduk di lantai angkot di pintu masuk.</p>
<p>Umurnya baru sekitar 4 atau kurang dari 5 tahun, berkaos oblong, celana pendek, rambut kusam, kulit legam, mata berbinar tajam. Dengan suara sengau ia mulai menyanyikan lagu yang pertama sambil tangan kanannya memukul-mukulkan tamborein dari tutup-tutup botol yang dipipihkan ke tangan kirinya. Dengan syair lagu yang lebih sering salah dan nada yang amat tidak beraturan ia mengakhiri lagu pertamanya, dan disambung dengan lagu kedua yang isinya amat terang sebagai sebuah permintaan kepada penumpang untuk memberinya uang.</p>
<p>Usai itu ia mengangsurkan gelas plastik bekas air mineral ke wajah-wajah para penumpang. Satu dua penumpang memberinya uang recehan, lebih karena kasihan, sebagian lagi hanya menggeleng dan sisanya tetap asyik dengan lamunannya masing-masing. Selagi angkot masih melaju anak itu melompat turun meninggalkan para penumpang angkot yang memandangnya dengan berbagai komentar dan kecamuk perasaan dalam benak masing-masing hingga akhirnya anak itu hilang dari pandangan ketika angkot melewati sebuah tikungan.</p>
<p>Di tahun 90-an awal, seingat saya, jika kita bepergian kemanapun, kita hanya menjumpai pengamen satu-dua di bis-bis kota. Di tahun 90-an akhir ada banyak peningkatan, bukan lagi satu-dua di bis-bis kota, tetapi dua, atau tiga atau empat atau bahkan lebih bayak dari itu di satu bis kota yang kita tumpangi. Di tahun 2000-an, peningkatannya jauh lebih spektakuler lagi karena di samping intensitasnya yang jauh membengkak, ekstensitasnya pun menyebar dengan sangat luas. Para &#8220;seniman jalanan&#8221; kini menjangkau angkot-angkot dan mikrolet yang penumpangnya paling minim sekalipun hingga ke kota-kota kecil dan pinggiran kota seperti kenyataan yang saya ungkapkan di atas.</p>
<p>Dulu, yang namanya anak jalanan sesungguhnya bukanlah melulu anak-anak. Tetapi lebih banyak yang merupakan orang dewasa atau beranjak dewasa. Kini anak jalanan lebih banyak yang memang anak-anak bahkan balita. Perkembangan dan pertumbuhan kuantitasnya semakin hari semakin mencengangkan. Dan karena demikian banyaknya, hal itu kemudian seolah-olah hanya sesuatu yang biasa tanpa dirasa sebagai suatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan, padahal di jalanan, hal yang paling buruk yang tidak dapat kita bayangkanpun bisa saja terjadi.</p>
<p>Dulu, semasa saya masih anak-anak, selepas Ashar akan makan lalu menghafal pelajaran diajari orangtua atau kakak, selepas Maghrib akan pergi ke Mushalla untuk mengaji dan bersosialisasi, selepas Isya pergi tidur, selepas Shubuh bermain bola di lapangan, ketika matahari mulai meninggi akan berjalan kaki berbarengan ke sekolah, pulang sekolah rame-rame mandi di kali, selepas Dzuhur bermain layang-layang, kelereng atau petak umpet sampai waktu Ashar menjelang. Setiap hari diisi dengan kegembiraan, tanpa perlu pusing dengan urusan-urusan yang tidak perlu menjadi pikiran anak-anak karena itu urusan orang dewasa.</p>
<p>Apa hendak dikata, kini anak-anak harus hidup di dua sisi. &#8220;Anak-anak harus berkelahi dengan waktu, anak-anak tak sempat niâ€™mati waktu, anak-anak tidur dengan perut lapar dan diganggu mimpi buruk, anak-anak menjadi pecandu narkoba, anak-anak dieksploitasi sampai kering, anak-anak dipaksa untuk memecahkan karang hanya dengan jari yang lemah terkepal.(Bahwa ini tidak terjadi pada semua anak, ya Alhamdulillah) Fenomena anak jalanan sesungguhnya hanya merupakan sebagian kecil, hanya salah satu sisi cerita, dari representasi kenyataan yang terjadi terhadap anak-anak dalam kehidupan kita. Anak-anak lebih banyak yang menjadi korban dan alat tinimbang mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka terima. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa tertawa, bermain dan gembira. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa bermanja yang penuh ceria. Semestinya masa anak-anak adalah masa untuk belajar dan memupuk cita-cita. Tidak semestinya keluguan anak-anak menjadi bahan eksploitasi dari orang yang lebih dewasa. Tidak semestinya kepolosan anak-anak dijadikan bahan untuk menopang kehidupan malas orang tua. Tidak semestinya anak-anak diajak ikut menjadi korban keadaan &#8220;cuaca buruk&#8221; orang-orang sekitarnya.</p>
<p>Mungkin tidak separah itu, tetapi kenyataan bahwa anak-anak kian hari kian banyak yang merintih mencari nafkah di jalanan menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat ini tengah mengidap penyakit yang luar biasa berbahaya, yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengerti nilai-nilai kemanusiaan, tanpa perlu ia orang Islam atau bukan.<br />
Kenyataan bahwa sangat banyak anak-anak menjadi korban kekerasan orang tua atau orang yang lebih tua; kekerasan kata-kata, kekerasan fisik, bahkan kekerasan seksual. Demikian banyak anak-anak yang dimaki, dicaci, dipukul, diterlantarkan dan bahkan dibunuh dan atau diperkosa.</p>
<p>Tahukah Anda bahwa mereka itu sebenarnya anak-anak kita juga. Anak-anak muslim, anak-anak yang akan melanjutkan eksistensi kita di dunia ini untuk menjadi hamba Allah SWT.? Lalu bagaimana mereka menjadi abdi Allah jika kenalpun tidak dengan Allah? Bahkan banyak yang tidak kenal orangtua mereka sendiri. Kita baru ribut kalau ada berita bahwa mereka dibawa ke gereja, di kasih makan lalu dikristenkan. Kita baru ribut kalau ada berita ada anak yang dibunuh setelah disodomi atau diperkosa, kita baru ribut kalau ada berita ada anak yang mati karena over dosis.</p>
<p>Sesungguhnya, jika negara ini tidak salah diurus, hal itu dapat kita hindari mengingat demikan banyak potensi untuk kemakmuran dan kemajuan yang dimiliki bangsa besar ini. Jika pengurusan negara ini benar sejak awal, pastilah Undang-Undang Dasar yang antara lain menyatakan &#8220;Fakir miskin dan anak terlantar dijamin (kehidupannya) oleh negara&#8221; dapat direalisasikan. Bahkan mungkin teks seperti itu akan dihilangkan dari UUD karena tidak ada lagi yang namanya Fakir Miskin dan Anak Terlantar.</p>
<p>Okelah, terlalu muluk mendambakan negara seperti itu, lebih baik kita mulai dari diri kita masing-masing. Mari kita berkaca, tanyakan pada diri-diri dalam refleksi di cermin itu, apa yang telah kau pikirkan (pikirkan saja dulu) untuk anak-anak bangsa. Ambil premis-premis minor yang biasa kita dapati dalam keseharian kita, lalu simpulkan apa yang tengah terjadi terhadap anak-anak bangsa. Penyadaran terhadap diri-diri untuk ikut peduli dan memikirkan terhadap apa yang tengah terjadi terhadap dunia anak-anak saja sulitnya bukan main, karena terlalu banyak yang berfikir; &#8220;Yang penting bukan anak saya&#8221;.</p>
<p>Tidak peduli dan tidak ambil peduli. Jangan lagi ini terjadi. Jika kepedulian itu sudah tumbuh, mulailah tengok kanan kiri kita, amati, amat banyak anak-anak di sekitar kita, bahkan mungkin anak kita sendiri dan anak dari keluarga kita, yang membutuhkan sedikit (sedikit saja dulu) kasih sayang dan sentuhan lembut di kepala. Saringlah, mana prioritas utama untuk dibantu, karena tidak mungkin satu orang membantu semuanya. Selanjutnya Anda akan tahu apa yang harus dilakukan, dan akan tahu bagaimana niâ€™matnya bisa membantu anak-anak meniâ€™mati masa kecil mereka, dan tanpa sadar anda telah menegakkan potret anak masa depan yang tadinya tergeletak tak terurus dan kusam diterpa cuaca ketidakpedulian.</p>
<p>Sesungguhnya kuncinya cuma dua; pertama taqwa, kedua perkataan yang baik dan benar. Apa itu taqwa, apa saja isinya taqwa, bagaimana realisasi taqwa, silahkan Anda gali Al-Quran dan Sunnah Nabi. Bacalah Al-Quran, pahami isinya (dengan terjemahnya cukup banyak membantu). Pelajari Sunnah Nabi, bagaimana Nabi bersikap terhadap anak-anak, hak-hak anak dan sebagainya dan sebagainya. Memahami ajaran Islam tentang anak-anak dari sumber aslinya akan lebih membekas di hati kita. Perkataan yang baik dan benar siapapun tentu tahu hakikatnya, termasuk pentingnya kata-kata positip terhadap pembentukan masa depan seorang anak. Pada akhirnya, &#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.&#8221; (An-Nisaa : 9)</p>
<p>Wallahu aâ€™lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/potret-diri-generasi-nanti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petaka</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/petaka/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/petaka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 11:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/petaka/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag Allah berfirman : &#8220;Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa yang kafir diantaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.&#8221; (QS. Al-Maaidah : 115) Setiap kita dalam skala kecil ataupun besar, pastilah pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag</p>
<p>Allah berfirman : &#8220;Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa yang kafir diantaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.&#8221; (QS. Al-Maaidah : 115)</p>
<p><span id="more-192"></span>Setiap kita dalam skala kecil ataupun besar, pastilah pernah didera petaka, musibah, kecelakaan, tragedi atau dengan apapun kita menamakannya, secara kolektif ataupun secara individual. Dengan apapun kita menyebutnya, namun intinya kurang lebih sama, yaitu suatu peristiwa yang terjadi kepada diri kita atau orang terdekat kita yang menimbulkan kerugian dan penderitaan, secara langsung ataupun tidak langsung, menyangkut fisik ataupun rohani.</p>
<p>Adakalanya penderitaan yang ditanggung manusia-manusia yang bersangkutan hanya sebentar dan temporer, namun amat tidak sedikit manusia-manusia yang didera petaka itu menderita teramat lama, panjang dan melelahkan. Mereka harus menanggung kepedihan yang teramat mendalam. Menghabiskan segala macam potensi yang dimilikinya, dan tidak sedikit yang mengakhirinya dengan tebusan jiwa.</p>
<p>Apapun bentuk dan berapa lamapun sebuah petaka yang terjadi, rasanya sungguh pahit dan tidak enak, karena itu, di negeri kita ini, kalau kita cuma manusia biasa-biasa saja atau bahkan yang selalu kurang, lebih baik selalu waspada, jangan sampai tertimpa petaka (kalau sudah hati-hati masih kena juga, itu namanya takdir), karena beberapa hal :<br />
Pertama, karena manusia-manusia di lingkungan negeri ini, terutama di kota besar, rata-rata masihÂ  menganut asas â€œargumentum ad hominemâ€. â€œArgumen menyalahkan korbanâ€. Jangankan cepat-cepat dibantu dan ditolong, malah â€œdigerundeliâ€; â€œsalah sendiri kenapa tidak hati-hatiâ€, â€œSitu sendiri yang cari penyakitâ€ dan sebagainya dan sebagainya.</p>
<p>Kedua, karena di negeri ini anda harus punya banyak uang untuk mendapat pertolongan. Coba saja Anda kecelakaan, terus ke RS, Anda akan tahu bahwa besarnya pertolongan dan tindakan medis yang AndaÂ  terima berbanding lurus dengan besarnya fulus yang keluar dari dompet atau saku Anda. Artinya , kalau pas tidak punya asuransi, tidak bawa atau tidak punya doku, tidak akan ada tindakan medis yang dapat dilakukan kepada Anda. Saya pernah menyaksikan seorang korban kecelakaan yang â€œdianggurinâ€ selama lebih dari 24 jam di sebuah RS karena kenyataan seperti ini.</p>
<p>Ketiga, karena di lingkungan kita sekarang ini, â€œurusan Anda bukan urusan saya, dan derita saya tidak Anda rasakanâ€. Karena itu mari kita nikmati penderitaan masing-masing tanpa perlu meributkan segala macam kepedulian atas apa yang terjadi pada Anda atau saya.</p>
<p><strong>Petaka Dalam Al-quran</strong></p>
<p>Terlepas dari hal-hal di atas, dalam Al-quran terdapat paling tidak tiga macam petaka yang terjadi pada tiga kelompok yang berbeda dan secara langsung menimbulkan perbedaan dalam mensikapinya.</p>
<p>Pertama, petaka yang terjadi sebagai sebuah ujian dan cobaan, yang banyak kita sebut sebagai musibah. Dan memang Al-quran pun menamakannya â€œmusibahâ€ : â€œDan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa Lillaahi wa inna ilaihi raajiuun (Sungguh kami ini milik Allah, dan sungguh kepada-Nya lah kami akan kembali)â€. (QS. Al-Baqarah : 155-156).</p>
<p>Ini mengandung arti, sikap kita akan suatu petaka juga menentukan jenis malapetaka yang bagaimana yang terjadi pada kita itu. Ayat ini menunjukkan bahwa jika kita mendapat suatu petaka, padahal selama ini telah berusaha secara maksimal untuk menjadi manusia beriman dan berislam yang baik, maka petaka yang terjadi itu tidak lain adalah ujian dan cobaan atas keimanan dan kesabaran kita yang harus kita jalaniÂ  untuk lebih mempertinggi nilai keimanan, keislaman dan kehambaan kita, dan kita sikapi dengan lapang dada sambil berucap; innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun.</p>
<p>Contoh kecil saja; ketika Anda berjalan terburu-buru (atau biasa saja), kemudian terantuk jalanan yang tidak rata atau terantuk batu hingga Anda terhuyung-huyung hampir â€œngusrukâ€, lalu Anda berkata â€œinnaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun, pertanda Anda lumayan bagus keimanan dan kesabarannya. Namun jika AndaÂ  tersandung dan hampir jatuh terjerembab, kemudian dari mulut Anda keluar bunyi-bunyian yang merupakan nama dari binatang berkaki empat atau berkaki dua dan berbulu, maka cobalah Anda berkunjung ke majelis-majelis ilmu agama, atau rajin-rajinlah ibadah karena ada nilai minus yang berbahaya dari bunyi yang keluar dari mulut Anda itu.</p>
<p>Kedua, petaka yang menimpa sebagai sebuah teguran dan peringatan dari Allah kepada hamba-hambanya yangÂ  (sebenarnya masih beriman namun) telah jauh menyimpang dari kepatutan, dengan tujuan agar mereka kembali kepada nilai-nilai utama yang seharusnya mereka lakoni dalam menempuh peran sebagai hamba: â€œTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS. Ar-Ruum : 41.</p>
<p>Gunung dan bukit kesepian tanpa pepohonan. Laut merana karena tiada lagi terumbu karang dan hutan bakau, akibatnya, banjir, longsor, ikan tak ada tempat berbiak, abrasi dsb.dsb. Dalam hukum kausalitaspun hal seperti ini amat rasional; â€œJika Anda menabur angin, Anda akan menuai badai. Maksudnya kurang lebih bahwa segala hal buruk yang dilakukan manusia, baik itu pengrusakan fisik semacam penggundulan hutan, ataupun secara mental seumpama pornografi atau pornoaksi ataupun pelanggaran moral lainnya, termasuk korupsi, pada akhirnyaÂ  dampaknya akan dirasakan yang bersangkutan.</p>
<p>Jenis petaka yang kedua ini â€œrada-rada ngeselinâ€, karena seringkali yang melakukan kerusakan hanya sekelompok orang dalam suatu komunitas, namun giliran datang malapetaka, yang terkena hampir seluruh komponen masyarakat, bahkan kadang-kadang yang bikin ulah tenang-tenang saja. Yang korupsi cuma segelintir orang, yang bangkrut seluruh masyarakat. Di sini ada indikasi bahwa secara tidak langsung seluruh komunitas juga bersalah karena tidak peduli pada kerusakan yang terjadi, membiarkan para perusak berkeliaran dengan bebas, atau bahkan jadi fans beratnya. (beberapa tahun lalu di indo pernah ada FBI = Fans Berat I***).</p>
<p>Untunglah malapetaka jenis ini masih merupakan tanda sayang Allah terhadap hambanya. Dengan petaka seperti ini, Allah berkehendak agar para perusak dan pelampau batas, para pelanggar hukum Allah beserta seluruh jajarannya, mau sadar, bertobat dan kembali kejalan dan aturan main yang digariskan Allah dalam mengarungi kehidupan.</p>
<p>Ketiga, petaka yang merupakan refleksi dari murka Allah. Siksaan yang amat pedih. Adzab yang membuat sengsara dunia akhirat. khusus untuk manusia-manusia yang tidak bisa disadarkan lagi. Manusia-manusia yang amat menikmati maksiat dan kekafiran. Manusia-manusia yang menjadikan Allah sebagai keset.</p>
<p>Ingat terkuburnya kota Sodom dan Gomorah, ingat Firâ€™aun, ingat Abu Lahab, mereka diadzab oleh Allah dalam sejarah sebagai contoh besar, namun jangan lupa contoh-contoh kecil yang bisa terus ada sampai akhir zaman, mungkin tidak jauh dari kita.</p>
<p>Bewara dari Allah : â€œDan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya.&#8221; (QS. Al-Anfaal : 25) Orang-orang kafir, musyrik, munafik, orang yang sombong, sebagian Yahudi, Sebagian Nasrani, orang zalim, dan orang fasik adalah sebagian kategori orang-orang yang berhak mendapat adzab dari Allah yang disebutkan Al-Quran. (Lihat; Al-Baqarah : 90, 104, An-Nisa : 138, 151, Al-Maidah : 41,73, Al-Anâ€™aam : 47, 148 dan banyak lagi. Maka segeralah lihat diri kita masing-masing, jangan sampai masuk golongan petaka ketiga ini. Jauhkan segala bentuk kekafiran dan kemusyrikan dari diri pribadi, keluarga, dan dari jangkauan anak-anak.</p>
<p>Seperti kata Iwan Fals : â€œPetaka terjadi, karena salah kita sendiriâ€. Jadi, jika petaka menimpa periksalah catatan harian, di situ tertulis apa yang sesungguhnya terjadi. Cobaan, teguran atau Adzab?</p>
<p>Wallahu aâ€™lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/petaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Shalehah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/istri-shalehah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/istri-shalehah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 09:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/istri-shalehah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Bahron Anshori Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya. Â  Mendapatkan istri shalehah adalah idaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Bahron Anshori</p>
<p>Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya.<br />
Â <br />
Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik dari dunia beserta isinya. &#8221;Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalehah.&#8221; (HR Muslim dan Ibnu Majah).</p>
<p><span id="more-180"></span>Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama, melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, &#8221;Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.&#8221; (HR Ibnu Majah).<br />
Â <br />
Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, &#8221;Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu &#8230;&#8221; (HR Hakim).<br />
Â <br />
Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, &#8221;Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.&#8221;( QS Ar Rum [30]: 21).<br />
Â <br />
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, &#8221;Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.&#8221; (HR Thabrani dan Hakim).<br />
Â <br />
Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istri menjadi &#8216;yang terbaik&#8217;, sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.</p>
<p>Sumber : www.republika. co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/istri-shalehah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/anak/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 09:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/anak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Nurul Fathimah Az-Zahra Â  &#8221;Tidaklah ada seorang anak kecuali ia dilahirkan di atas fitrah. Lalu, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu (menjadi) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.&#8221; (HR Bukhari dan Muslim). Â  Anak pada dasarnya merupakan titipan dari Allah kepada para orang tua. Sebagai barang titipan, tentu saja orang tua berkewajiban menjaga, memelihara, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Nurul Fathimah Az-Zahra<br />
Â <br />
&#8221;Tidaklah ada seorang anak kecuali ia dilahirkan di atas fitrah. Lalu, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu (menjadi) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.&#8221; (HR Bukhari dan Muslim).<br />
Â <br />
Anak pada dasarnya merupakan titipan dari Allah kepada para orang tua. Sebagai barang titipan, tentu saja orang tua berkewajiban menjaga, memelihara, dan merawat barang titipan itu sesuai dengan kehendak dan peraturan &#8216;Sang Penitip&#8217;-nya.</p>
<p><span id="more-179"></span>Para orang tua berkewajiban memelihara, menjaga, dan merawat anak agar tetap dalam fitrahnya sebagai hamba Allah. Caranya adalah dengan memberikan pendidikan dan mengupayakan agar kefitrahan anak tersebut tetap terjaga.<br />
Â <br />
Allah menandaskan dalam firman-Nya, &#8221;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. &#8221; (QS At-Tahrim [66]: 6).<br />
Â <br />
Upaya menjaga anak agar tetap terjaga kefitrahannya sebagai titipan Ilahi, antara lain, melalui pendidikan akhlak (budi pekerti). Rasulullah SAW memerintahkan dalam sabdanya, &#8221;Didiklah anak-anakmu atas tiga hal, mencintai nabimu, mencintai keluarga (nabi), dan gemar membaca Alquran. Penyandang Alquran kelak akan dikumpulkan di bawah naungan Allah, di mana pada waktu itu tidak ada naungan selain naungan-Nya, bersama para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya. &#8221; (HR Ath-Thabrani) .<br />
Â <br />
Dengan pendidikan akidah yang benar dan akhlak yang terpuji insya Allah anak tumbuh menjadi generasi yang kuat menghadapi tantangan kehidupan. Dia tidak akan menjadi generasi yang lemah, baik lemah akidah, akhlak, jasmani, mental, maupun lemah secara material.<br />
Â <br />
Allah mengingatkan, &#8221;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.&#8221; (QS An-Nisa [114]: 9). Mari kita jaga titipan-Nya dan jadikan dia generasi yang kuat dan memberi manfaat bagi sesamanya.<br />
Â <br />
Sumber : www.republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cukuplah Hanya Allah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/15/cukuplah-hanya-allah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/15/cukuplah-hanya-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/15/cukuplah-hanya-allah/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Emilia Febru Handini KotaSantri.com : Sesuatu yang menurut kita baik untuk diri kita, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Karena belum tentu menurut pandangan ALLAH sesuatu yang disukai itu membawa kita pada kebaikan untuk diri kita atau pun lingkungan sekitar kita, dan belum tentu pula bisa menghantarkan kedekatan dengan ALLAH Ta&#8217;ala. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Emilia Febru Handini</p>
<p>KotaSantri.com : Sesuatu yang menurut kita baik untuk diri kita, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Karena belum tentu menurut pandangan ALLAH sesuatu yang disukai itu membawa kita pada kebaikan untuk diri kita atau pun lingkungan sekitar kita, dan belum tentu pula bisa menghantarkan kedekatan dengan ALLAH Ta&#8217;ala.</p>
<p>Sesuatu yang kita hindari atau yang tidak kita harapkan terjadi dalam kehidupan kita, belum tentu tidak baik untuk masa depan kita menurut kacamata ALLAH. Mungkin saja di balik ketidaksukaan atau ketidaknyamanan yang kita rasakan itu, ALLAH memberikan petunjuk kepada kita untuk melangkahkan kaki menuju fase hidup selanjutnya. Di balik kejadian yang tidak sesuai dengan harapan, ALLAH menuntun kita agar kita tak bingung dalam menentukan arah. Agar kita terselamatkan dari segala macam keburukan atau malapetaka.</p>
<p><span id="more-157"></span>Sepertinya tidak terima. Sepertinya sulit untuk bisa mengikhlaskan hati. Sepertinya berat untuk menjalaninya. Seperti hampir tak menemukan pintu tanpa kunci. Tapi, semua kepahitan, kegetiran, dan keberatan itu hanya untuk sementara. Sampai kapan? Tak kan bisa terjawab, karena hanya Dia yang berhak mengatur diri kita. Hanya Dia yang berhak menentukan apa yang terbaik buat diri kita.</p>
<p>Hari esok tak kan pernah ada yang tahu. Esok hanyalah milikNya. Jangan ciptakan harapan muluk-muluk, sebab biasanya tak kan terjadi, atau mungkin tidak terjadi. Tak usah pikirkan kebahagiaan diri, karena kebahagiaan tidak pernah berlabuh pada suatu titik, malah akan terus berlanjut seiring dengan kepahitan hidup yang harus kita lalui. Jalan tak bisa selamanya lurus. Kadang ada tikungan tajam yang harus kita lewati dengan penuh kehati-hatian, kadang jalan itu riskan penuh dengan bebatuan yang terjal, kadang banyak sekali belokan yang membuat diri bisa tersesat kehilangan arah.</p>
<p>Sekarang mungkin kita sedang berada di jalan yang penuh dengan belokan yang membingungkan. Menuntut diri untuk membuat suatu keputusan dalam memilih belokan yang tepat. Harus ke mana melangkah? Belokan manakah yang akan menyelamatkan diri kita? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Akankah Tuhan terangi sinarNya?</p>
<p>&#8220;&#8230; Dan hati kan menjadi tentram manakala kau pasrahkan semua hanya kepadaNya&#8230; &#8221; Ketika kebimbangan itu menyentuh nurani, ingatlah padaNya. Ketika merasa seperti tak ada pilihan arah tuk berjalan, tetapkan hati hanya kepadaNya. Ketika kebahagiaan sepertinya sangat jauh terjangkau, syukuri banyak nikmatNya. Ketika harapan seakan memudar, jangan pernah putus asa dari rahmatNya.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.kotasantri.com/">www.kotasantri.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/15/cukuplah-hanya-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putus Asa</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/15/putus-asa/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/15/putus-asa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:57:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/15/putus-asa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hidayatul Karomah Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Hidayatul Karomah</p>
<p>Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim. Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat apabila memvonis usaha kita sia-sia.</p>
<p><span id="more-156"></span>&#8221;Katakanlah, Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (QS Az-Zumar [39]: 53).</p>
<p>Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak berhasil. Ingatlah, &#8221;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.&#8217; &#8216; (QS Al Baqarah [2]: 216).</p>
<p>Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.</p>
<p>Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. Na&#8217;udzubillahi min dzalik.</p>
<p>Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan kerugian demi kerugian.</p>
<p>Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba- Nya. Apa yang kita terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi &#8216;penyelamat&#8217; kita di kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita.Â </p>
<p>Sumber : <a href="http://www.republika.co.id/">www.republika.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/15/putus-asa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Hidayah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/15/hakikat-hidayah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/15/hakikat-hidayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/15/hakikat-hidayah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : AS Rumawan Hidayat Sebagian orang berpandangan bahwa hidayah itu gratis dari Allah dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sehingga, mereka beralasan ketika masih dalam kemaksiatan, &#8221;Kita kan belum dapat hidayah.&#8221; Di sisi lain, ada orang yang tidak ingin memperoleh hidayah. Mereka menganggap petunjuk agama hanya seperti candu yang tidak membantunya sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : AS Rumawan Hidayat</p>
<p>Sebagian orang berpandangan bahwa hidayah itu gratis dari Allah dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sehingga, mereka beralasan ketika masih dalam kemaksiatan, &#8221;Kita kan belum dapat hidayah.&#8221;</p>
<p>Di sisi lain, ada orang yang tidak ingin memperoleh hidayah. Mereka menganggap petunjuk agama hanya seperti candu yang tidak membantunya sama sekali dalam meraih kesuksesan. Benarkah hidayah diberikan gratis, tanpa upaya dari kita untuk meraihnya? Hidayah terambil dari huruf-huruf ha&#8217;, dal, dan ya&#8217;, yang artinya menunjuki atau menuntun kepada sesuatu. Sedangkan dalam Alquran dan sunah dipakai untuk sesuatu yang dapat mengantarkan kepada kebenaran agama. Dalam konteks ini, Alquran disebut hidayah karena mampu mengantarkan kepada kebenaran.</p>
<p><span id="more-155"></span>Allah SWT berfirman, &#8221;Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS Al Isra [17]: 9).</p>
<p>Rasulullah juga disebut hidayah karena mampu mengantarkan pada jalan yang benar. Allah SWT berfirman, &#8221;&#8230;. Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memberi petunjuk ke jalan yang lurus.&#8221; (QS As Syura [42]: 52). Allah SWT memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki. Namun, hal ini bukan berarti Allah SWT memberi hidayah kepada siapa saja tanpa syarat. Karena, Allah hanya memberi petunjuk kepada mereka yang siap dan lapang dalam menyambut kedatangannya.</p>
<p>Allah SWT tidak akan memberi hidayah kepada orang yang berpaling, menutup diri, dan kontinu dalam kemaksiatan. Sehingga, Allah SWT tidak akan memberi petunjuk kepada orang kafir, zalim, dan fasik, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 264, Al Maidah ayat 51 dan 108. Di sisi penerima hidayah, dia harus bisa mengambil keputusan secara tepat.Â </p>
<p>Berpikir secara sungguh-sunguh dan ikhlas menjadi keniscayaan agar tidak tergelincir kepada jurang kesesatan. Allah SWT berfirman, &#8221;Dan kami telah memberi petunjuk kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Sesungguhnya kami yang menyediakan bagi orang-orang kafir rantai belenggu, dan api neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang yang berbuat kebaikan minum dari gelas yang berisi minuman kafur (dari mata air syurga yang lezat).&#8221; (QS Al Insan [76]: 3-5). Raihlah hidayah, dan tetapkan hati untuk meraih damai bersama-Nya.Â </p>
<p>Sumber : <a href="http://www.republika.co.id/">www.republika.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/15/hakikat-hidayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Wajah Teduh Itu</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/15/di-balik-wajah-teduh-itu/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/15/di-balik-wajah-teduh-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/15/di-balik-wajah-teduh-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :Â Faradays Muhammad Hari itu seperti biasa, dia yang terbungkus pakaian putih itu sedang duduk di sajadahnya. Mulutnya bergerak-gerak melantunkan dzikir kepada Tuhan-Nya. Wajahnya pun sama seperti hari-hari sebelumnya. Putih bersih, bercahaya&#8230; Menggambarkan kebeningan hatinya. Kau tahu apa yang paling kusenangi untuk dilakukan saat melihatnya seperti itu? Aku akan berbaring dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :Â Faradays Muhammad</p>
<p>Hari itu seperti biasa, dia yang terbungkus pakaian putih itu sedang duduk di sajadahnya. Mulutnya bergerak-gerak melantunkan dzikir kepada Tuhan-Nya. Wajahnya pun sama seperti hari-hari sebelumnya. Putih bersih, bercahaya&#8230; Menggambarkan kebeningan hatinya. Kau tahu apa yang paling kusenangi untuk dilakukan saat melihatnya seperti itu? Aku akan berbaring dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Sambil menengadah melihat wajah teduhnya yang menenangkan. Enak sekali rasanya saat itu, sulit diungkapkan. Terlebih saat ia berdoa untuk kebaikan diriku.</p>
<p><span id="more-154"></span>Dan setelah dia menyelesaikan doanya, aku akan segera mencium tangannya, juga kedua pipinya. Hhm&#8230; Wangi sekali. Dan seperti biasanya dia hanya akan tersenyum, apalagi jika kugoda dengan ucapan, â€ cantik sekali hari ini. â€ Ingin tertawa rasanya jika mengingat wajahnya saat itu. Oya, dia memang jarang berbicara, karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya bisa berbahasa jawa. Dia adalah nenekku&#8230;</p>
<p>Umurnya sudah mencapai 1 abad, melebihi umur bangsa ini jika dimulai dari kemerdekaannya. Sehingga dia termasuk saksi hidup pergiliran generasi di negeri ini, sejak zaman penjajahan, hingga zaman reformasi. Tapi kujamin jika kau lihat langsung dirinya, kau akan terkagum-kagum dibuatnya. Bagaimana tidak? Dengan umur segitu, fisiknya masih bagus. Dia tidak memerlukan tongkat atau kursi roda untuk berjalan. Dia bahkan mencuci beberapa pakaiannya sendiri. Penglihatan dan pendengarannya juga masih bagus.Â </p>
<p>Dia bisa mengenali delapan cucunya dengan baik, tanpa tertukar. Begitu juga ingatannya. Dia masih bisa bercerita tentang masa kecilku, yang membuatku tersenyum karenanya. Dia senang sekali mengulang-ulang perkataan yang seringkali kuucapkan saat kecil jika aku melakukan sebuah kesalahan, â€ Ga sengaja.. ga sengaja kok. â€ Dan yang paling hebat adalah, dia bisa menyebutkan satu persatu hari kelahiran (hari jawa, seperti sabtu pon dan sebagainya) cucunya dengan baik. Tidak cuma delapan cucunya dari ibuku, karena ibuku adalah anak bungsu. Semua cucu-cucu dari semua anak-anaknya! Jumlahnya mungkin mencapai sekitar 25-an.</p>
<p>Tapi itu semua tidak terlalu menakjubkan bagiku, dibandingkan hal ini. Dia suka sekali bersedekah. Uang yang didapat dari cucu-cucunya selalu ia simpan dengan rapi. Hanya digunakan seperlunya saja, untuk dibelikan jamu atau balsem kesukaannya. Sebagian besar dia sedekahkan. Seringkali dia menitipkan uang untuk kusedekahkan ke masjid atau ke orang-orang yang memerlukan, dengan mewanti-wanti supaya aku tidak menceritakannya kepada ibuku.Â </p>
<p>Dia juga suka melakukan shaum (puasa) sunnah. Begitu juga shalat malam, bahkan membuatku malu sebagai laki-laki yang masih kuat dan sehat. Biasanya saat bangun tengah malam, dia akan mandi terlebih dahulu, dengan air panas di termos yang sudah disediakan kakak perempuanku, yang diletakkan di dekat tempat tidurnya.</p>
<p>Mungkin pola hidup seperti itulah yang membuatnya tetap sehat di usianya. Ditambah satu rahasia lagi, yang baru kutemukan belakangan: hatinya selalu tulus, dia tidak pernah mendengki terhadap orang lain. Tak pernah kudengar ucapannya terhadap orang lain (dalam Islam disebut ghibah). Itu membuatnya menikmati hidup. Selalu tersenyum dan tidak pernah bermasalah dengan orang lain. Bahkan semua orang menyukainya.</p>
<p>Aku sempat berangan-angan dulu, untuk mengenalkannya dengan pasanganku kelak. Walaupun juga ada kekhawatiran, mengingat usianya yang sudah sangat tua. Ah, betapa bahagianya jika bisa menjalani hidup dengan wanita-wanita hebat dan kukagumi: nenek, ibu dan isteriku, begitu pikirku saat itu. Tapi takdir Allah telah mendahului keinginanku. Dia dipanggil sekitar 3 tahun yang lalu. Meninggalkan kenangan indah dan banyak pelajaran bagi diriku, dan kami, keluarga yang ditinggalkannya.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.eramuslim.com/">www.eramuslim.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/15/di-balik-wajah-teduh-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

