<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com &#187; Ibroh</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/tags/biografi-tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Apr 2008 08:04:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah Abu Dzar r.a, Pejuang Sebatang Kara</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.</p>
<p>Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), berta&#8217;wa dan wara&#8217; (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar&#8221;, dikali lain beliau SAW bersabda, &#8220;Abu Dzar &#8212; diantara umatku &#8212; memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam&#8221;.</p>
<p><span id="more-210"></span>Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, &#8220;Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut &#8216;La Haula Walaa Quwwata Illa Billah&#8217;. &#8221;</p>
<p>Dipinggangnya selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, &#8220;Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu) Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)&#8221;, maka sejak itu ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.</p>
<p>Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan, keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, &#8220;Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!&#8221;</p>
<p>Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, &#8220;Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku&#8221;</p>
<p>Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin Affan turun tangan untuk menengahi. Ustman bin Affan menawarkan tempat tinggal dan berbagai kenikmatan, tapi Abu Dzar yang zuhud berkata, &#8220;aku tidak butuh dunia kalian!&#8221;.</p>
<p>Akhir hidupnya sangat mengiris hati. Istrinya bertutur, &#8220;Ketika Abu Dzar akan meninggal, aku menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, &#8220;Mengapa engkau menangis wahai istriku? Aku jawab, &#8220;Bagaimana aku tidak menangis,Â engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku menguburkanmu&#8221;.</p>
<p>Namun akhirnya dengan pertolongan Allah serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Ma&#8217;ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga) melewatinya. Abdullah bin Mas&#8217;ud pun membantunya dan berkata, &#8220;Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara&#8221;.</p>
<p>(Sumber tulisan oleh : NN, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)</p>
<p>Sumber : kebunhikmah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bening Hati Berbalas Surga</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur&#8217;an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,&#8221;Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga&#8221;. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.
Tak berapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur&#8217;an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,&#8221;Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga&#8221;. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.</p>
<p><span id="more-209"></span>Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.</p>
<p>Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang laki-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?</p>
<p>Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.</p>
<p>Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. &#8220;Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,&#8221; pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur&#8217;an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.Â </p>
<p>Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.</p>
<p>Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya, &#8220;Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salah satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu&#8221;.</p>
<p>Si laki-laki menjawab, &#8220;Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.&#8221;</p>
<p>Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. &#8220;Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini&#8221;. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.</p>
<p>Sumber : oaseislam.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Lukman Al Hakim pada Anaknya</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/</guid>
		<description><![CDATA[Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur&#8217;an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.
&#8220;Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur&#8217;an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.</p>
<p><span id="more-202"></span>&#8220;Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggungÂ  hutang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:</p>
<p>1.Â Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.<br />
2.Â Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.<br />
3.Â Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.<br />
4.Â Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.<br />
5.Â Ingatlah Allah selalu.<br />
6.Â Ingatlah maut yang akan menjemputmu.<br />
7.Â Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.<br />
8.Â Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.</p>
<p>(Dikutip dari majalah Sabili)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Seorang Anak</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang dini hari Khalifah Umar bin Khathab disertai stafnya melakukan inspeksi mendadak ke pinggiran kota. Dari sebuah rumah kecil, didengarnya percakapan dua orang wanita. Kata sang Ibu, &#8221;Nak, campur saja susunya dengan air.&#8221;
&#8221;Tapi Bu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang hendak kita jual dengan air,&#8221; jawab anak gadisnya. &#8221;Tapi banyak orang melakukan hal itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang dini hari Khalifah Umar bin Khathab disertai stafnya melakukan inspeksi mendadak ke pinggiran kota. Dari sebuah rumah kecil, didengarnya percakapan dua orang wanita. Kata sang Ibu, &#8221;Nak, campur saja susunya dengan air.&#8221;<br />
&#8221;Tapi Bu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang hendak kita jual dengan air,&#8221; jawab anak gadisnya. &#8221;Tapi banyak orang melakukan hal itu, Nak. Toh Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,&#8221; kilah sang Ibu. &#8221;Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, namun Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahuinya!&#8221; jawab sang anak.</p>
<p><span id="more-201"></span>Mendengar ucapan gadis itu, berlinanglah air mata keharuan dan kegembiraan Umar bin Khathab. Esok harinya ia menyuruh stafnya untuk meyelidiki. Ternyata suami ibu itu telah syahid di medan perang. Mereka hidup serba kekurangan.</p>
<p>Lalu Umar berkata kepada putranya, Ashim bin Umar. &#8221;Pergilah temui mereka, dan lamarlah anak gadis itu untuk menjadi istrimu. Aku melihat ia akan memberikan berkah kepadamu kelak. Semoga ia dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat.&#8221;</p>
<p>Ashim bin Umar pun memenikahi gadis itu. Hasil pernikahan mereka lahirlah anak perempuan bernama Laila, yang kelak dinikahi Abdul Azis bin Marwan. Dari pasangan ini lahirlah Umar bin Abdul Azis, pemimpin umat yang dikenal adil dan zuhud.</p>
<p>Dari kisah ini, ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama, perlunya pemimpin mengontrol umat yang dipimpinnya. Pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang gembalaannya. &#8221;Tidaklah dari seorang pemimpin yang menggembala kaum Muslimin, lalu ia mati dalam keadaan menipu (curang) kepada mereka, kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya.&#8221; (HR Bukhari Muslim).</p>
<p>Kedua, pentingnya memberi nasihat, sekalipun terhadap orang tua atau pemimpin sendiri. Walau terasa berat, namun ini demi mendapat ridha dan keselamatan bersama di hadapan Allah SWT. &#8221;Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dengan tiga perkara dan benci kepada kalian dengan tiga perkara. Adapun (tiga perkara) yang menjadikan Allah ridha hendaklah kalian memperibadati- Nya jangan mempersekutukan- Nya dengan sesuatu apa pun, hendaklah kamu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dengan berjamaah dan jangan berpecah-belah, dan hendaklah kalian senantiasa menasihati yang memimpin urusan kalian.</p>
<p>Adapun Allah membenci kalian dengan tiga perkara, mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, menghambur-hamburka n harta, dan banyak bertanya yang tidak berfaidah.&#8221; (HR Ahmad dari Abi Hurairah). Ketiga, berjiwa ihsan, yakni merasakan pengawasan Allah dalam melakukan aktivitas kehidupan, sehingga terhindar dari perbuatan seperti korupsi, kolusi, menipu, berbuat curang, dan kegiatan maksiat lainnya.Â  (Ali Farkhan Tsani )</p>
<p>Sumber : www.republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ali dan Yahudi Tua</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih muda, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi ia lebih baik dariku. (Bakr bin Abdullah Al Mazni)
Ali bin Abi Thalib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih muda, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi ia lebih baik dariku. (Bakr bin Abdullah Al Mazni)</p>
<p><span id="more-200"></span>Ali bin Abi Thalib terburu-buru pergi dari rumahnya untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah di masjid Nabi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua, seorang Yahudi tua, yang berjalan menuju arah yang sama. Ali, karena kemuliaan dan keluhuran akhlaknya, berusaha memberikan hormat kepada orang yang lebih tua darinya itu, sehingga ia tidak mau mendahului Yahudi tersebut, walau jalannya sangat lamban. Sesampainya ia masjid, shalat berjamaah sudah dimulai, bahkan Nabi SAW sudah dalam keadaan ruku bahkan hampir berdiri dari rukunya tersebut. Namun, dengan perintah Allah, Jibril turun, lalu meletakkan tangannya di atas bahu Nabi SAW. Jibril menyuruh beliau menahan rukunya, agar Ali tidak sampai kehilangan rakaat pertama.Â </p>
<p>Setelah shalat selesai dilaksanakan, yang kemudian dilanjutkan dengan zikir, doa, serta mengajarkan ilmu-ilmu dari Alquran kepada sahabat, beliau berpaling kepada Jibril, lalu bertanya tentang sebab gaib yang membuatnya harus memperpanjang ruku. Jibril menjawab bahwa sangat tidak patut jika Ali bin Abi Thalib kehilangan pahala yang terdapat pada rakaat pertama shalat Subuh, karena sikap hormat yang ditunjukkannya kepada seorang Yahudi tua yang ditemuinya di tengah perjalanan menuju masjid Nabi.Â </p>
<p>Setiap manusia, siapapun dia, memiliki hak untuk dihargai, dihormati dan diperlakukan sesuai kedudukan serta kapasitas dirinya. Ada yang layak dihormati karena ilmunya, seperti halnya para ulama, cerdik cendekia, para guru, ilmuwan, dsb. Ada yang harus dihormati karena sebab hubungan darah dengannya, misal orangtua, kakak, paman, bibi, serta saudara-saudara lainnya. Ada pula yang dihormati karena sebab usianya, di sini ada orang yang lebih tua, ada yang seusia, ada pula yang lebih muda. Semuanya harus diperlakukan secara proporsional sesuai haknya.</p>
<p>Ada pula urutan-urutan prioritas dalam proses hormat-menghormati ini, mana yang paling layak dihormati, mana yang harus lebih dulu dihormati, mana pula yang paling wajib memberi penghormatan dibanding yang lainnya. Misalnya, yang berkendaraan lebih wajib memberi salam kepada yang berjalan kaki. Yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Yang sendirian lebih wajib memberi salam kepada yang berkumpul, dsb (HR Muttafaqun &#8216;Alaih).Â </p>
<p>Jika kita menelaah kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, maka kita akan menemukan nuansa keadilan dalam pergaulan hidup mereka. Setiap orang diperlakukan sesuai dengan kedudukannya, dalam arti dipenuhi haknya, serta diberi keleluasaan untuk menunaikan kewajibannya. Akibatnya, lahirlah proses timbal balik, di mana setiap orang akan berusaha memberikan yang terbaik untuk yang lainnya. Dalam kondisi seperti inilah, konsep persaudaraan yang diungkapkan dalam Alquran dan hadits benar-benar teraplikasikan secara optimal.Â </p>
<p>Sejatinya, apa yang dicontohkan Ali bin Abi Thalib dalam kisah ini, adalah gambaran puncak bagaimana seorang manusia menunaikan hak-hak yang dimiliki manusia lainnya, siapa pun orang tersebut. Di mana yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua. Seorang anak harus menaati orangtuanya. Seorang murid harus memuliakan gurunya. Walau pun ada tuntutan bagi yang lebih tua untuk menghargai, mengayomi, serta memberi teladan yang baik pula kepada yang muda.Â </p>
<p>Sesungguhnya, mudah saja bagi Ali untuk mendahului Yahudi tua tersebut, toh ia hanya seorang Yahudi tua kafir, tidak bisa melihat, serta berjalan bukan untuk ke masjid. Ia pun tidak terkena dosa jika mendahului jalannya. Namun Ali tidak melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena beliau tidak ingin mencederai hak orang lain. Biarlah orang lain tidak balas menghormati, biarlah orang lain tidak melihat apa yang dilakukannya, yang penting ia telah menunaikan kewajibannya sebaik mungkin. Sebab, bagaimana pun keadaannya, Yahudi tersebut tetaplah orang yang harus dihargai nilai kemanusiaannya. Inilah yang dinamakan ihsan.Â </p>
<p>Dalam arti, tidak sekadar melakukan yang baik, namun melakukan yang terbaik. Karena sikapnya itu, Ali beroleh bonus luar biasa dari Allah SWT. Betapa tidak luar biasa, Allah SWT sampai memerintahkan Rasulullah SAW untuk memperlama rukunya, sebagaimana Dia perantarakan pesan-Nya kepada Malaikat Jibril. Berkaca dari peristiwa ini, Imam Bakr bin Abdullah Al Mazni mengungkapkan sebuah prinsip hidup terkait hubungan interpersonal. Prinsip ini layak kita jadikan pegangan dalam bergaul. Katanya, Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usia lebih mudanya, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi, ia lebih baik dariku .</p>
<p>Sumber: republika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Khansa</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 02:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :</p>
<p><span id="more-188"></span>&#8220;Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang dii ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, nescaya aku bunuh diriku.&#8221;</p>
<p>Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajar ilmu bersyair dna dididik berjuang dengan berani. Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam. Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran.Â </p>
<p>Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk menentang Farsi. Semua Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang, maka terkumpullah seramai 41,000 orang tentera. Khansa telah mengerahkan keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuan tentera Islam.</p>
<p>Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang sebentar lagi akan ke medan perang, &#8220;Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah memburuk-burukkan saudara-maramu, aku tidak pernah merendahkan keturuna kamu, dan aku tidak pernah mengubah perhubungan kamu. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahwasaya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.&#8221;Â </p>
<p>Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud, &#8220;Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, moga-moga menjadi orang yang beruntung.&#8221; Putera-putera Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bonda yang disayanginya.<br />
Seterusnya Khansa berkata, &#8220;Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah akmu ke dalamnya. Dan dapatkanlah puncanya ketika terjadi perlagaan pertempurannya, semoga kamu akan berjaya mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.&#8221;Â </p>
<p>Subuh esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar sembahyang masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah iaitu solat Subuh, kemudian berdoa moga-moga Allah memberikan mereka kemenangan atau syurga. Kemudian Saad bin Abu Waqas panglima besar Islam telah memberikan arahan agar bersiap-sedia sebaik saja semboyan perang berbunyi. Perang satu lawan satu pun bermula dua hari. Pada hari ketiga bermulalah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah .Â </p>
<p>Putera-putera Khansa maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat dari bondanya, mereka tidak sedikit pun berasa takut. Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka bersyair,<br />
&#8220;Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu, telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bernas dan berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan sedikit masa lagi.&#8221;</p>
<p>Kemudian ia maju menetak setiap musuh yang datang. Seterusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang mencabar. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair,Â &#8221;Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasihat dari ibu tua kami Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur mush-musuh bersama-sama Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.&#8221;</p>
<p>Anak Khansa yang ketiga pula segera melompat dengan beraninya dan bersyair, &#8220;Sungguh ibu tua kami kuat keazamannya, tetap tegas tidak goncang Beliau telah menggalakkan kita agar bertindak cekap dan berakal cemerlang Itulah nasihat seorang ibu tua yang mengambil berat terhadap anak-anaknya sendiri Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri Dapatkan kemenangan yang bakal membawakegembiraan di dalam hati Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.&#8221;Â </p>
<p>Akhir sekali anak keempat menghunus pedang dan melompat menyusul abang-abangnya. Untuk menaikkan semangatnya ia pun bersyair, &#8220;Bukanlah aku putera Khansa&#8217;, bukanlah aku anak jantan Dan bukanlah pula kerana &#8216;Amru yang pujiannya sudah lama terkenal Kalau aku tidak membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjunam ke jurang bahay, dan musnah mangsa oleh senjataku.&#8221;</p>
<p>Bergelutlah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga diiringi oleh doa munajat bondanya yang berada di garis belakang. Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada mulanya kebingungan dan kacau kerana pada mulanya tentera Farsi menggunakan tentera bergajah di barisan hadapan, sementara tentera berjalan kaki berlindung di belakang binatang tahan lasak itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu marah dengan menghempaskan tuan yang menungganginya, memijak-mijak tentera Farsi yang lannya. Kesempatan ini digunakan oleh pihak Islam untuk memusnahkan mereka. Panglima perang bermahkota Farsi dapat dipenggal kepalanya, akhirnya mereka lari lintang-pukang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam hingga air sungai menjadi merah. Pasukan Farsi kalah teruk, dari 200,000 tenteranya hanya sebahagian kecil saja yang dapat menyelamatkan diri.Â </p>
<p>Umat Islam lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000 orang. Dan daripada 7,000 orang syuhada itu terbujur empat orang adik-beradik Khansa. Seketika itu juga ramailah tentera Islam yang datang menemui Khansa memberitahukan bahwa keempat-empat anaknya telah menemui syahid. Al-Khansa menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang.</p>
<p>Al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan,Â &#8221;Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka, dan aku mengahrapkan darii Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!&#8221;</p>
<p>Al-Khansa kembali semula ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperanan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran kehormatan &#8216;Ummu syuhada yang ertinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shuhaib bin Sinan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 07:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang berhijrah Seperti Dia
Setelah memastikan tempat persembuyian hartanya tak dapat dijangkau oleh orang â€“ orang quraisy, Shuhaib berkemas â€“ kemas untuk mengadakan perjalanan jauh. Menemui manusia terkasih yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi Mekkah ke tanah harapan, Yatsrib. Dipenuhinya wadah anak panahnya dengan anak panah terbaik. Disiapkannya juga pedangnya. Itu semua sebagai jaga- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang berhijrah Seperti Dia</p>
<p>Setelah memastikan tempat persembuyian hartanya tak dapat dijangkau oleh orang â€“ orang quraisy, Shuhaib berkemas â€“ kemas untuk mengadakan perjalanan jauh. Menemui manusia terkasih yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi Mekkah ke tanah harapan, Yatsrib. Dipenuhinya wadah anak panahnya dengan anak panah terbaik. Disiapkannya juga pedangnya. Itu semua sebagai jaga- jaga kalau di jalan terjadi apa â€“ apa.</p>
<p><span id="more-178"></span>Semula orang â€“ orang Quraisy tidak mengetahui ihwal keberangkatan Shuhaib. Mereka mengira Shuhaib termasuk orang yang lemah imannya dan lebih mencintai hartanya daripada Rasulullah saw. Biasa orang kaya baru!Â Benar, Shuahaib memang orang kaya baru. Saat ia datang dari Romawi beberapa tahun sebelumnya, ia hanyalah bekas budak yang miskin papa. Tapi seiring bergulirnya waktu Shuhaib telah menjelma menjadi slah seorang konglomerat di kota Mekkah. Dan saat sahabat â€“ sahabat Muhammad meningglakan Mekkah yang lantas disusul Muhammad sendiri bersama Abu Bakar, tampak Shuhaib masih sibuk dengan hartanya.</p>
<p>Orang Quraisy terkecoh. Tepatnya nyaris terkecoh. Sebab akhirnya mereka tahu bahwa Shuhaib telah meninggalkan Mekkah. Mereka pun menugaskan para penunggang kuda terbaik untuk mengejarnya. Orang â€“ orang yang ditugaskan itu pun memacu kuda sekencang â€“ kencangnya. Mereka tak akan membiarkan Shuaib lolos begitu saja.</p>
<p>Begitu tahu bahwa orang â€“ orang Quraisy memburunya, Shuhaib turun dari kudanya. Tak ada rasa gentar takut. Diambilnya busur panah dan sebatang anak panah. Rombongan itu berhenti pada jarak beberapa hasta. â€œKalian tahu, aku adalah pemanah ulung,â€ kata Shuhaib, â€œAku tak pernah meleset jika melepaskannya.â€</p>
<p>â€œDemi Allah, kalian tidak akan bisa menjamahku sehingga semua anak panah yang ada dikantung anak panahku ini habis dan lalu kugunakan pedangku untuk membela diri! Gertak Shuhaib. Orang â€“ orang Quraisy itu hanya diam dan saling berpandangan. Nyali sebagian mereka menciut. Tak ada yang tak ingin hidup lebih lama.Â Shuhaib mengambil kesempatan, â€œJika kalian mau membiarkanku hijrah ke Madinah, akan kutunjukkan kepada kalian tempat persembunyian harta kekayaanku. Silahkan kalian mengambilnya sekehendak hati kalian!â€</p>
<p>â€œBagaimana? Harta atau nyawa?!â€ gertak Shuhaib lagi. Tentu saja, diberi pilihan seperti itu rombongan Quraisy itu lebih memilih harta ketimbang menyerang Shuhaib yang belum tentu dapat dikalahkan. Dan Shuhaib pun selamat sampai Madinah menyusul sahabat lain yang telah lebih dulu sampai di sana.</p>
<p>Begitu tampak dari kejauhan, Nabi yang kebetulan sedang duduk â€“ duduk bersama para sahabat segera menyambut kedatangan Shuhaib. Belum sempat Shuhaib menceritakan pengalaman hijrahnya kepada mereka, tiba â€“ tiba Nabi bersabda, â€œWahai Abu Yahya, perniagaan yang benar â€“ benar untung!â€ Shuhaib sangat tersanjung, sementara para sahabat bingung.</p>
<p>Tak lama kemudian turun ayat, â€œ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbanan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba â€“ hamba-Nya.â€ (QS. Al-Baqarah: 207)Â  Saat diberitahu oleh Nabi saw bahwa ayat ini berkenaan dengannya, hati Shuhaib semakin melambung. Ia tak pernah bermimpi ada ayat turun berkenaan denganya. Dengan seorang yang tak fasih bahasa Arab. Dengan seorang bekas budak dari Romawi.</p>
<p>Sebenarnya Shuhaib orang Arab asli. Tetapi karena saat kanak â€“ kanak ia dijadikan tawanan oleh orang â€“ orang Romawi dan hidup puluhan tahun di sana, lupalah ia pada bahasa Arab. Namun ia tahu bahwa sebenarnya ia orang Arab. Kerinduan Shuhaib kepada tanah kelahirannya tak dapat dibendung lagi saat ia tumbuh dewasa. Apalagi di dengarnya dari seorang pendeta Nasrani, telah dekat masa kedatangan seorang Nabi dari Jazirah Arab yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.</p>
<p>Sesampainya di Mekah, pusat Arab waktu itu, dan kerinduannya terobati, Shuhaib memasang telinga baik â€“ baik untuk mencari kabar kebenaran ucapan pendeta Nasrani yang pernah ditemuinya. Upayanya tidak sia â€“ sia. Ia sudah sampai di depan pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Di sana ia bertemu dengan â€˜Ammar bin Yasir yang punya niatan sama dengannya. Keduanya pun masuk dan mendengarkan penuturan Nabi dengan seksama. Hati Shuhaib sangat tertarik kepada semua yang diajarkan oleh Nabi. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi shuhaib pun berikrar untuk hanya beribadah kepada Allah dan mengikuti semua yang diajarkan dan diperintahkan Rasululah.</p>
<p>Sepanjang hidupnya Shuhaib membuktikan ikrarnya. Menjelang senja usia Shuhaib menuturkan perjalanan hidupnya, â€œTidak ada suatu peperangan pun yang diterjuni Rasulullah, kecuali pasti aku menyertainya. Dan tidak ada satu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tidak ada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa â€“ masa pertama Islam atau masa â€“ masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku aku mundur ke belakang. Satu lagi, aku sama sekali tak rela membiarkan Rasulullah saw berada dalam jangkauan musuh sampai beliau kembali menemui Allah.â€</p>
<p>Shuhaib meninggalkan alam fana untuk selama â€“ lamanya pada 28 H. (Syafiâ€™I / ar-risalah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utsman bin Affan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 06:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua sahabat Nabi memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bersinergi dan berpadunya kompetensi yang unik tersebut menjadikan barisan Rasululah dan sahabat menjadi barisan yang kuat, kokoh dan maju.
Softness (Kelembutan)
Keunikan Utsman bin Affan terletak pada kelembutan dan sifat pemalunya. Beliau adalah sahabat yang sangat lembut dan pemalu. Meskipun, tentu saja dapat bersikap garang. Karena beliau juga mengikuti hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir semua sahabat Nabi memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bersinergi dan berpadunya kompetensi yang unik tersebut menjadikan barisan Rasululah dan sahabat menjadi barisan yang kuat, kokoh dan maju.</p>
<p><strong>Softness (Kelembutan)</strong></p>
<p>Keunikan Utsman bin Affan terletak pada kelembutan dan sifat pemalunya. Beliau adalah sahabat yang sangat lembut dan pemalu. Meskipun, tentu saja dapat bersikap garang. Karena beliau juga mengikuti hampir seluruh peperangan bersama Nabi. Kecuali perang Badar, karena ia sedang merawat istrinya, Ruqayyah yang sedang sakit.</p>
<p><span id="more-177"></span>Suatu hari Rasulullah tidur terlentang, sedang kedua betisnya terbuka. Abu Bakar dan Utsman meminta masuk dan beliau tetap membiarkan betisnya terbuka. Tatkala Utsman meminta izin masuk, beliau langsung menutup betisnya dan berkata, &#8220;Bagaimana aku tidak merasa malu dengan orang yang malaikat saja malu kepadanya&#8221; (HR Muslim).</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman &#8230;&#8221;(HR Ahmad &amp; HR Tirmidzi)</p>
<p>Syaikh Khalid Muhammad Khalid berkata, &#8220;Ustman memiliki banyak watak yang penuh dengan kebaikan dan harga diri. Dari pribadinya memancar bau semerbak kasih sayang dimanapun anda menjumpainya. &#8221;</p>
<p>&#8220;Kasih sayang yang tersebar dalam kehidupannya seperti air mengalir dalam batang yang hijau. &#8230;.kita dapati kasih sayangnya menjadi pelita seluruh hidupnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kasih sayang telah meresap dalam hdup dan tingkah lakunya. &#8230;.kesetiannya terhadap kasih sayang jauh lebih kuat dibanding hidup tanpa mendapatkan tempat di barisan terdepan dari orang-orang yang penyayang dan shalih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia seorang yang taat kepada Allah dan penyayang. Ia suka berpuasa di siang hari, sholat di malam hari, dan hatinya memancarkan kasih sayang.&#8221; Utsman berkata terhadap dirinya, &#8220;Aku tidak pernah berzina maupun mencuri, baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam.&#8221; Adakah diantara kita yang memiliki sejarah yang begitu bersih dan jernih sebagaimana Utsman?</p>
<p>&#8220;ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: &#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221; Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.&#8221; (Az Zumar ayat 9)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan ayat tersebut. Abdullah bin Umar berkata, &#8220;Ia adalah Utsman.&#8221; Sikap lembutnya juga ditunjukkan oleh beliau dalam membantu kesulitan kaum muslimin.</p>
<p><strong>Charitbale (Dermawan)</strong></p>
<p>Utsman adalah sosok yang sangat dermawan. Ia pernah menanggung semua perlengkapan separuh dari pasukan kaum muslimin dalam perang &#8216;asrah. Saat itu, ia mendermakan 300 ekor onta dan 50 ekor kuda lengkap dengan segala peralatannya. Kemudian ia datang membawa seribu dinar dan memberikannya di hadapan Rasulullah. (HR Tirmidzi).</p>
<p>Diantara kemurahan hati dan sedekah yang diberikannya di jalan Allah SWT yaitu ketika Rasulullah menyiapkan tentara dalam perang Tabuk. Imam Ahmad meriwayatkan, &#8220;Bahwa Utsman datang dengan membawa 1000 dinar dibajunya lalu menuangkannya di kamar Rasulullah SAW. Lalu Nabi bersabda, &#8220;Utsman tidak akan miskin karena melakukan hal ini.&#8221;</p>
<p>Ibnu Syihab Zuhri meriwayatkan bahwa pada perang Tabuk Utsman membawa lebih dari 940 onta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi seribu.&#8221; Kini berarti setara dengan 1000 mobil.</p>
<p>Ia juga pernah membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi. Setelah itu ia mewakafkannya. Kemudian kaum muslimin memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Menurut riwayat Al Baghawi ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ketika orang-orang mengalami paceklik di masa pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar berkata kepada mereka insya Allah besok sore kalian dibebaskan Allah dari kesulitan.</p>
<p>Besok paginya datang kafilah Utsman. Para pedagang datang kepada utsman dan meminta kepadanya supaya menjual barang-barang tersebut kepada mereka.</p>
<p>Utsman bertanya kepada mereka, &#8220;Berapa keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Sepuluh dengan dua belas.&#8221; Utsman berkata, &#8220;Saya telah mendapat lebih dari itu.&#8221; Pedagang-pedagang tersebut bertanya, &#8220;Siapa yang menambahimu sedangkan kami adalah pedagang-pedagang Madinah.&#8221; Utsman menjawab, &#8220;Ia adalah Allah, Dia menambahiku setiap dirham dengan sepuluh dirham, maka apakah kalian bisa menambahiku? &#8221; Pedagang-pedagang tersebut berlalu dan Utsman berkata, &#8220;Yaa Allah kuberikan barang-barang ini kepada orang-orang miskin di Madinah tanpa bayar dan tanpa perhitungan. &#8221;</p>
<p><strong>Kesabaran Utsman bin Affan RA (Patient)</strong></p>
<p>Utsman RA adalah sahabat yang sangat-sangat sabar. Beliau menghadapi berbagai cobaan dan ujian dengan tabah.</p>
<p>Ketika beliau masuk Islam, pamannya Al Hakam bin Al &#8216;Ash bin Umayyah menangkapnya dan mengikatnya dengan tali. Lalu Hakam berkata, &#8220;Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu dan kamu berganti dengan agama yang baru? Demi Tuhan saya tidak akan melepaskanmu dari ikatan ini hingga kamu meninggalkan agama yang kamu anut sekarang juga.&#8221; Utsman berkata, &#8220;Demi Allah! Saya tidak akan meninggalkan agama ini untuk selamanya, dan saya tidak akan memisahkan diri darinya! Melihat keteguhan dan kesabaran Utsman, akhirnya Al hakam meninggalkan Utsan RA.</p>
<p>Kesabaran dan ketabahan lainnya adalah tatkala terjadi huru hara dalam pemerintahannya yang dipicu dan diprovokasi oleh orang-orang khawarij. Beliau juga tetap dalam kesabaran. Padahal jika mau, pada saat itu beliau dapat minta bantuan sahabat Anshar dan Muhajirin untuk mengawalnya. Atau dengan mengasingkan diri ke luar daerah. Atau dengan melepaskan kekhalifahan. Namun demi menjaga persatuan umat Utsman rela dirinya dijadikan sasaran pembunuhan oleh kaum durjana.</p>
<p>Maka benar sabda Rasulullah SAW, &#8220;Dia (Utsman) akan dibunuh dengan cara yang zhalim pada suatu peristiwa.&#8221; (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar). Dalam riwayat Ibnu Asakir dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah bersabda, &#8220;Utsman datang kepadaku, dan pada saat itu ada seorang malaikat bersamaku, dia berkata, &#8220;Dia akan mati syahid dan akan dibunuh oleh kaumnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi dia berkata, &#8220;Dua sifat yang dimiliki oleh Utsman dan tidak dimiliki Abu Bakar maupun Umar, yaitu kesabarannya saat dikepung hingga ia terbunuh serta penghimpunan mushaf Alqur&#8217;an dalam bentuknya sekarang.&#8221;</p>
<p><strong>Leadership</strong></p>
<p>Meskipun tidak seperti Abu Bakar dan Umar, namun Utsman juga memiliki watak kepemimpinan yang tidak diragukan lagi. Buktinya hampir seluruh sahabat sepakat memba&#8217;iat Ustman sebagai khalifah pengganti Umar.</p>
<p>Pasca terbunuhnya khalifah Umar, Abdurrahman bin &#8216;Auf bertanya kepada kaum muhajirin dan anshar, &#8220;Menurut anda siapa yang patut menjadi khalifah setelah Umar?&#8221; Semua orang yang ditanya dan diminta pendapatnya selalu mengatakan, &#8220;Utsman.&#8221;. Maka segera ia membai&#8217;atnya dan diikuti bai&#8217;at oleh masyarakat secara masal.</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Kami membai&#8217;at orang terbaik diantara kami.&#8221; Dalam riwayat lain dinyatakan, &#8220;Kami mengangkat orang terbaik (sebagai pemimpin) dan kami sungguh-sungguh. &#8221;</p>
<p>Bukti lainnya adalah dimasa Utsman banyak wilayah dan daerah baru yang ditaklukkannya. Sehingga wilayah Islam membentang jauh dari Timur hingga ke Barat. Terbentang dari Sind di sebeah Timur, Kaukasus di sebelah utara, Afrika dan pulau-pulau Mediteranian di sebelah Barat dan Habasyah (Ethiopia) di sebelah selatan. Ibnu Katsier berkata, &#8220;Semua itu benar-benar terbukti dan terjadi pada masa Utsman RA.&#8221;</p>
<p>Yang termasuk negeri-negeri tersebut adalah Hamazan, Rayy, Safur, Arjan, Asfahan, Astakhar, Jurjan, Kabul, Sijistan, Tabristan, Azarbaijan, Armenia, Afrika, Ethiopia, Siprus, Malta dll.</p>
<p>Utsman pula yang membentuk armada angkatan laut Islam untuk pertama kalinya. Sebelumnya Umar menolak hal itu karena khawatir terhadap tentara muslim yang belum berpengalaman perang di laut. Utsman mebentuk armada laut dan memperoleh kemenangan besar dalam perang di atas kapal laut. Dan menyerang armada-armada yang sombong (armada laut Byzantium) dan kemudian menaklukkan pulau-pulau di Mediterania.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wibawa Seorang Umar bin Khaththab</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 14:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bentangan sejarah, selain dikenal sebagai sosok pemberani, Umar juga mempunyai wibawa yang luar biasa. Mereka yang mengenal Umar akan merasa lebih gentar berhadapan dengannya dibandingkan dengan orang yang belum mengenalnya. Kenyataan ini membuktikan, kehebatan Umar mampu merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Berbeda dengan mereka yang belum mengenalnya. Mereka akan menganggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bentangan sejarah, selain dikenal sebagai sosok pemberani, Umar juga mempunyai wibawa yang luar biasa. Mereka yang mengenal Umar akan merasa lebih gentar berhadapan dengannya dibandingkan dengan orang yang belum mengenalnya. Kenyataan ini membuktikan, kehebatan Umar mampu merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Berbeda dengan mereka yang belum mengenalnya. Mereka akan menganggap Umar seperti manusia biasa.</p>
<p><span id="more-103"></span>Penilaian sekilas itu mereka kemukakan karena melihat sikap Umar yang begitu sangat sederhana dan wajar. Kesehariannya tak berbeda dengan orang biasa. Bahkan, bisa jadi lebih sederhana dari rakyat jelata. Namun, bagi yang telah mengenal Umar lebih jauh, akan mengetahui wibawa Umar. Khalifah Rasulullah saw yang kedua ini tak segan-segan menindak orang yang berbuat kesalahan, meski orang tersebut sudah lama bersahabat dengannya.</p>
<p>Suatu ketika Umar berjalan di depan beberapa sahabat Rasulullah saw. Tiba-tiba Umar menoleh dengan pandangan tajam. Dikisahkan oleh Mahmud Abbas Aqqad, seketika mereka yang berada di belakangnya gemetar hingga ikat pinggang hampir lepas. Tatapan mata Umar benar-benar memancarkan cahaya wibawa yang sangat luar biasa.</p>
<p>Pada saat berbeda, Umar pernah menggoyang-goyangkan badannya di atas tempat duduk seorang tukang cukur yang sedang memangkas rambutnya. Seketika tukang cukur itu gemetar melihat sikap Umar. Setelah selesai, Umar memberinya 40 Dirham.</p>
<p>Kewibawaan Umar benar-benar serasi dengan kekuatan jiwa dan tubuhnya. Kekuatan fisik dan bentuk tubuhnya yang kekar turut menopang kehebatannya. Tidak mengherankan jika ada musuh yang melihat tubuhnya, langsung gemetar. Sosok tubuh Umar tinggi besar. Jika duduk, Umar terlihat seperti orang yang sedang berada di atas hewan kendaraannya. Kegemarannya menunggang kuda tanpa pelana makin menonjolkan kekuatan fisiknya. Umar juga dikenal sebagai jago gulat yang sulit dikalahkan. Suaranya jelas terdengar ketika mengemukakan pendapat atau memberikan perintah.</p>
<p>Kepekaan indra Umar bin Khaththab sangat sensitif. Ia bisa membedakan semua rasa dan bau yang tidak mampu dibedakan oleh orang lain. Ketajaman perasaannya dibuktikan ketika salah seorang pembantunya menghidangkan segelas susu. Ia tidak langsung meminum susu itu lantaran mencium aroma yang tidak biasa. Ketika Umar menanyakan dari mana pembantunya mendapatkan susu itu, dijelaskan bahwa minuman tersebut diambil dari uang Baitul Mal lantaran hewan peliharaan milik Umar sudah tidak mengeluarkan susu lagi. Umar langsung menolak susu tersebut lantaran merasa tidak berhak meminumnya.</p>
<p>Kewibawaan itu yang menjadi modal Umar bin Khaththab saat diamanahi sebagai khalifah. Bahkan, kewibawaan ini tetap tersisa meski dirinya sudah wafat. Aisyah pernah menuturkan, ketika Umar masih hidup, ia biasa mendatangi makam ayahnya Abu Bakar yang berdampingan dengan makam Rasulullah saw. Kala itu, Aisyah biasa membuka bagian luar penutup kepalanya. Namun, ketika Umar meninggal dan dimakamkan di samping makam Abu Bakar, saat mengunjungi pemakaman itu, Aisyah tak pernah membuka penutup luar kepalanya. Ia merasa segan dengan Umar bin Khaththab meski sosoknya telah tiada.</p>
<p>Tentu yang membuat Umar memiliki kewibawaan demikian rupa, bukan semata karena fisiknya. Selain fisik, Umar juga dikenal dengan ketakwaan dan keadilannya. Ketakwaannya terpancar dari kekhusyuk-annya beribadah. Ia kerap dijumpai menangis tersedu-sedu hingga menyisakan bekas hitam di kedua pipinya. Keadilannya diakui semua orang. Ia tak segan-segan menghukum orang yang bersalah apapun kedudukannya. Ini yang menambah wibawa Umar.</p>
<p>Banyak fakta membuktikan, para pemimpin Muslim â€“ dalam skala apa pun yang biasa melakukan Qiyamul Lail, akan disegani. Ucapannya didengar, perintahnya ditaati. Hal ini kita temukan pada para ulama dulu yang begitu disegani banyak orang. Para pimpinan pesantren, disegani banyak santri. Penjelasannya, ketakwaan mereka pada Allah benar-benar nyata.</p>
<p>Jika para pemimpin negeri ini telah kehilangan wibawa, wajar kalau kita bertanya: sejauh mana mereka mendekatkan diri pada Allah. Hal yang sama kita ajukan pada para orang tua. Kalau anak-anak sudah tidak segan dan menghormati orang tua mereka lagi, kita ajukan pertanyaan serupa : sejauh mana ibadah mereka pada Allah.</p>
<p>(Hepi Andi Bastoni, disadur dari Majalah Sabili No.24 th.XIV, 14 Juni 2007)Â Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/10/keteladanan-shalahuddin-al-ayyubi-dalam-perang-salib/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/10/keteladanan-shalahuddin-al-ayyubi-dalam-perang-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2007 13:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/10/keteladanan-shalahuddin-al-ayyubi-dalam-perang-salib/</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari perebutan wilayah Palestina, peperangan pasukan Kristen-Islam berlangsung sekitar 174 tahun.Â  Bagaimana akhlaq Islam dari peristiwa ini?
Hidayatullah. com&#8211; â€œPemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari perebutan wilayah Palestina, peperangan pasukan Kristen-Islam berlangsung sekitar 174 tahun.Â  Bagaimana akhlaq Islam dari peristiwa ini?</p>
<p>Hidayatullah. com&#8211; â€œPemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.â€</p>
<p><span id="more-71"></span>Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).</p>
<p>Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.</p>
<p><strong>Sepak Terjang Tentara Salib</strong></p>
<p>Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.</p>
<p>Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut â€œorang kafirâ€.</p>
<p>Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakimâ€”yang menguasai Palestina saat ituâ€”menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. â€œIni perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,â€ kata Paus.</p>
<p>Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.</p>
<p>Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatanâ€”terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipilâ€”untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, â€œDeus Vult!â€ (Tuhan menghendakinya! )</p>
<p>Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai â€œPerang Demi Salibâ€ untuk merebut tanah suci.</p>
<p>Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).</p>
<p>Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. .</p>
<p><strong>Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi</strong></p>
<p>Pada tahun 1145-1147Â  berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.</p>
<p>Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syiâ€™ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.</p>
<p>Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.</p>
<p>Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.</p>
<p>Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.</p>
<p>Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.</p>
<p>Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.</p>
<p>Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Israâ€™ Miâ€™rajÂ  (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.</p>
<p>Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: â€œBersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.â€</p>
<p>Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: â€œDan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.â€ (Al-Baqarah: 193)</p>
<p>Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.</p>
<p>Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).</p>
<p>Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks&#8211;bukan bagian dari Tentara Salibâ€”tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.</p>
<p>Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar JermanÂ  Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard â€œSi Hati Singaâ€ (the Lion Heart).</p>
<p>Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.</p>
<p>Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.</p>
<p>Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.</p>
<p>***</p>
<p>Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).</p>
<p>Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.</p>
<p>Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa â€˜alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.</p>
<p>Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.</p>
<p>Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.</p>
<p>Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.*</p>
<p>[Agung Pribadi, Pambudi. Dikutip dari Majalah Hidayatullah/www.hidayatullah. com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/10/keteladanan-shalahuddin-al-ayyubi-dalam-perang-salib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
