<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com &#187; Ibroh</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/tags/biografi-tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian</title>
		<link>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Abu Dzar Al Ghifari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Sosok Pejuang Sendirian</strong></p>
<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi&#8217;at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi&#8217;at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.</p>
<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah <strong>Jundub bin Junadah Al Ghifari</strong> dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.</p>
<p>Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.</p>
<p>Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya&#8217;ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya&#8217;ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya&#8217;ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.</p>
<p>Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka&#8217;bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis.</p>
<p>Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau shalallahu <em>alaihi wa sallam</em>, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Dia hanya menanti dan menanti di Ka&#8217;bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.</p>
<p>Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka&#8217;bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka&#8217;bah tanpa bercerita panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di Ka&#8217;bah dan segera menanyainya : “Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”. Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa wasallam</em> dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> berwasiat kepadanya : “Wahai Abu Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.</p>
<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.</p>
<p>Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka&#8217;bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.</p>
<p>Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka&#8217;bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.</p>
<p>Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda&#8217;wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi&#8217;ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.</p>
<p>Hijrah Ke Al Madinah :</p>
<p>Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Sehingga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.</p>
<p>Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Maka beliau langsung menasehatinya :</p>
<p>(tulis hadisnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad 3 / 164)</p>
<p>“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> pernah berpesan kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya&#8217; 1 / 162)</p>
<p>“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. HR. Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.</p>
<p>Asma&#8217; bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dia beristirahat di masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab : Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu. Kemudian Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bertanya lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab : Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah. Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457.</p>
<p>Disamping berbagai wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :</p>
<p>(tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 161).</p>
<p>“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Abu Dzar berjuang sendirian :</p>
<p>Setelah wafatnya Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, Abu Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> disamping kebenciannya kepada segala bentuk kebid&#8217;ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>). Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin. Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi sebagaimana yang beliau ceritakan : (artinya) “Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rasulullah) dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku. Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159.</p>
<p>Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya&#8217;ni duduk bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : Beri kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.</p>
<p>Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu Dzar.</p>
<p>Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) <em>shalallahu alaihi wasallam</em> pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.</p>
<p>Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan beliau : Aku melihatnya.</p>
<p>Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga dinar (untuk keperluanku).</p>
<p>Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.</p>
<p>Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian harta mereka.</p>
<p>Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”.</p>
<p>Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 &#8211; 1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35.</p>
<p>Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram. Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> yang mulai makmur hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut :</p>
<p>“Ketika Abu Musa Al Asy&#8217;ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek. Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !!</p>
<p>Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”.</p>
<p>Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.</p>
<p>Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Tidak.</p>
<p>Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”. Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.</p>
<p>Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 162)</p>
<p>“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162.</p>
<p>Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di hari kiamat kelak.</p>
<p>Meninggal dunia di tempat pengasingan :</p>
<p>Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu anhu</em>. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu anhu</em>. Maka Mu&#8217;awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta&#8217;ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan. Abu Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu&#8217;minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu&#8217;minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau : “Wahai Amirul Mu&#8217;minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”.</p>
<p>Maka Amirul Mu&#8217;mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau : “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.</p>
<p>Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur&#8217;an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu&#8217;minin dan di sana ada Ka&#8217;ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan Abdurrahman bi A&#8217;uf. Maka Amirul Mu&#8217;minin bertanya kepada Ka&#8217;ab : Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang mengumpulkannya. Maka Ka&#8217;ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.</p>
<p>Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka&#8217;ab dengan tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada Ka&#8217;ab : Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman : (artinya)”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya”. S. Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu&#8217;minin itu memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. S. Ad Daher (dinamakan juga S. Al Insan) ayat ke 8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur&#8217;an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya.</p>
<p>Melihat kejadian itu, Amirul Mu&#8217;minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. Juga Amirul Mu&#8217;minin meminta kepada Ka&#8217;ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka&#8217;abpun akhirnya memaafkannya.</p>
<p>Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya. Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau menangis ?”.</p>
<p>Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.</p>
<p>Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu&#8217;minin”.</p>
<p>Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.</p>
<p>Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.</p>
<p>Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan itupun menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu&#8217;minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.</p>
<p>Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”.</p>
<p>Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubbahmu itu”.</p>
<p>Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.</p>
<p>P e n u t u p :</p>
<p>Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah sepeninggalnya. Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan amat pilu mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan : “Semoga Allah merahmati Abu Dzar”. Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman bin Affan dalam keluarganya.</p>
<p>Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya, sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan bimbingan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.</p>
<p>Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan tentang ilmu Al Qur&#8217;an dan Al Hadits. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada keridho&#8217;anNya.</p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<p>1. Al Qur&#8217;an Al Karim.</p>
<p>2. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.</p>
<p>3. Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Al Imam Abu Zakaria An Nawawi.</p>
<p>4. At Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa&#8217;ad.</p>
<p>5. Hilyatul Awliya&#8217; Wa Thabaqatul Ashfiya&#8217;, Al Hafidl Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani.</p>
<p>6. Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;, Al Imam Adz Dzahabi.</p>
<p>7. Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani.</p>
<p>8. Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At tirmidzi.</p>
<p><a href="http://www.alghuroba.org/abudzar.php">http://www.alghuroba.org/abudzar.php</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Abu Dzar r.a, Pejuang Sebatang Kara</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.</p>
<p>Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), berta&#8217;wa dan wara&#8217; (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar&#8221;, dikali lain beliau SAW bersabda, &#8220;Abu Dzar &#8212; diantara umatku &#8212; memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam&#8221;.</p>
<p><span id="more-210"></span>Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, &#8220;Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut &#8216;La Haula Walaa Quwwata Illa Billah&#8217;. &#8221;</p>
<p>Dipinggangnya selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, &#8220;Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu) Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)&#8221;, maka sejak itu ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.</p>
<p>Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan, keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, &#8220;Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!&#8221;</p>
<p>Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, &#8220;Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku&#8221;</p>
<p>Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin Affan turun tangan untuk menengahi. Ustman bin Affan menawarkan tempat tinggal dan berbagai kenikmatan, tapi Abu Dzar yang zuhud berkata, &#8220;aku tidak butuh dunia kalian!&#8221;.</p>
<p>Akhir hidupnya sangat mengiris hati. Istrinya bertutur, &#8220;Ketika Abu Dzar akan meninggal, aku menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, &#8220;Mengapa engkau menangis wahai istriku? Aku jawab, &#8220;Bagaimana aku tidak menangis,Â engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku menguburkanmu&#8221;.</p>
<p>Namun akhirnya dengan pertolongan Allah serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Ma&#8217;ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga) melewatinya. Abdullah bin Mas&#8217;ud pun membantunya dan berkata, &#8220;Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara&#8221;.</p>
<p>(Sumber tulisan oleh : NN, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)</p>
<p>Sumber : kebunhikmah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/kisah-abu-dzar-ra-pejuang-sebatang-kara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bening Hati Berbalas Surga</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur&#8217;an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,&#8221;Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga&#8221;. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu. Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur&#8217;an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,&#8221;Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga&#8221;. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.</p>
<p><span id="more-209"></span>Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.</p>
<p>Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang laki-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?</p>
<p>Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.</p>
<p>Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. &#8220;Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,&#8221; pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur&#8217;an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.Â </p>
<p>Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.</p>
<p>Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya, &#8220;Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salah satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu&#8221;.</p>
<p>Si laki-laki menjawab, &#8220;Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.&#8221;</p>
<p>Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. &#8220;Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini&#8221;. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.</p>
<p>Sumber : oaseislam.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/bening-hati-berbalas-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Lukman Al Hakim pada Anaknya</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/</guid>
		<description><![CDATA[Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur&#8217;an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup. &#8220;Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur&#8217;an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.</p>
<p><span id="more-202"></span>&#8220;Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggungÂ  hutang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:</p>
<p>1.Â Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.<br />
2.Â Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.<br />
3.Â Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.<br />
4.Â Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.<br />
5.Â Ingatlah Allah selalu.<br />
6.Â Ingatlah maut yang akan menjemputmu.<br />
7.Â Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.<br />
8.Â Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.</p>
<p>(Dikutip dari majalah Sabili)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasehat-lukman-al-hakim-pada-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Seorang Anak</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang dini hari Khalifah Umar bin Khathab disertai stafnya melakukan inspeksi mendadak ke pinggiran kota. Dari sebuah rumah kecil, didengarnya percakapan dua orang wanita. Kata sang Ibu, &#8221;Nak, campur saja susunya dengan air.&#8221; &#8221;Tapi Bu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang hendak kita jual dengan air,&#8221; jawab anak gadisnya. &#8221;Tapi banyak orang melakukan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang dini hari Khalifah Umar bin Khathab disertai stafnya melakukan inspeksi mendadak ke pinggiran kota. Dari sebuah rumah kecil, didengarnya percakapan dua orang wanita. Kata sang Ibu, &#8221;Nak, campur saja susunya dengan air.&#8221;<br />
&#8221;Tapi Bu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang hendak kita jual dengan air,&#8221; jawab anak gadisnya. &#8221;Tapi banyak orang melakukan hal itu, Nak. Toh Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,&#8221; kilah sang Ibu. &#8221;Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, namun Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahuinya!&#8221; jawab sang anak.</p>
<p><span id="more-201"></span>Mendengar ucapan gadis itu, berlinanglah air mata keharuan dan kegembiraan Umar bin Khathab. Esok harinya ia menyuruh stafnya untuk meyelidiki. Ternyata suami ibu itu telah syahid di medan perang. Mereka hidup serba kekurangan.</p>
<p>Lalu Umar berkata kepada putranya, Ashim bin Umar. &#8221;Pergilah temui mereka, dan lamarlah anak gadis itu untuk menjadi istrimu. Aku melihat ia akan memberikan berkah kepadamu kelak. Semoga ia dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat.&#8221;</p>
<p>Ashim bin Umar pun memenikahi gadis itu. Hasil pernikahan mereka lahirlah anak perempuan bernama Laila, yang kelak dinikahi Abdul Azis bin Marwan. Dari pasangan ini lahirlah Umar bin Abdul Azis, pemimpin umat yang dikenal adil dan zuhud.</p>
<p>Dari kisah ini, ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama, perlunya pemimpin mengontrol umat yang dipimpinnya. Pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang gembalaannya. &#8221;Tidaklah dari seorang pemimpin yang menggembala kaum Muslimin, lalu ia mati dalam keadaan menipu (curang) kepada mereka, kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya.&#8221; (HR Bukhari Muslim).</p>
<p>Kedua, pentingnya memberi nasihat, sekalipun terhadap orang tua atau pemimpin sendiri. Walau terasa berat, namun ini demi mendapat ridha dan keselamatan bersama di hadapan Allah SWT. &#8221;Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dengan tiga perkara dan benci kepada kalian dengan tiga perkara. Adapun (tiga perkara) yang menjadikan Allah ridha hendaklah kalian memperibadati- Nya jangan mempersekutukan- Nya dengan sesuatu apa pun, hendaklah kamu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dengan berjamaah dan jangan berpecah-belah, dan hendaklah kalian senantiasa menasihati yang memimpin urusan kalian.</p>
<p>Adapun Allah membenci kalian dengan tiga perkara, mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, menghambur-hamburka n harta, dan banyak bertanya yang tidak berfaidah.&#8221; (HR Ahmad dari Abi Hurairah). Ketiga, berjiwa ihsan, yakni merasakan pengawasan Allah dalam melakukan aktivitas kehidupan, sehingga terhindar dari perbuatan seperti korupsi, kolusi, menipu, berbuat curang, dan kegiatan maksiat lainnya.Â  (Ali Farkhan Tsani )</p>
<p>Sumber : www.republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/nasihat-seorang-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ali dan Yahudi Tua</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih muda, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi ia lebih baik dariku. (Bakr bin Abdullah Al Mazni) Ali bin Abi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih muda, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi ia lebih baik dariku. (Bakr bin Abdullah Al Mazni)</p>
<p><span id="more-200"></span>Ali bin Abi Thalib terburu-buru pergi dari rumahnya untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah di masjid Nabi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua, seorang Yahudi tua, yang berjalan menuju arah yang sama. Ali, karena kemuliaan dan keluhuran akhlaknya, berusaha memberikan hormat kepada orang yang lebih tua darinya itu, sehingga ia tidak mau mendahului Yahudi tersebut, walau jalannya sangat lamban. Sesampainya ia masjid, shalat berjamaah sudah dimulai, bahkan Nabi SAW sudah dalam keadaan ruku bahkan hampir berdiri dari rukunya tersebut. Namun, dengan perintah Allah, Jibril turun, lalu meletakkan tangannya di atas bahu Nabi SAW. Jibril menyuruh beliau menahan rukunya, agar Ali tidak sampai kehilangan rakaat pertama.Â </p>
<p>Setelah shalat selesai dilaksanakan, yang kemudian dilanjutkan dengan zikir, doa, serta mengajarkan ilmu-ilmu dari Alquran kepada sahabat, beliau berpaling kepada Jibril, lalu bertanya tentang sebab gaib yang membuatnya harus memperpanjang ruku. Jibril menjawab bahwa sangat tidak patut jika Ali bin Abi Thalib kehilangan pahala yang terdapat pada rakaat pertama shalat Subuh, karena sikap hormat yang ditunjukkannya kepada seorang Yahudi tua yang ditemuinya di tengah perjalanan menuju masjid Nabi.Â </p>
<p>Setiap manusia, siapapun dia, memiliki hak untuk dihargai, dihormati dan diperlakukan sesuai kedudukan serta kapasitas dirinya. Ada yang layak dihormati karena ilmunya, seperti halnya para ulama, cerdik cendekia, para guru, ilmuwan, dsb. Ada yang harus dihormati karena sebab hubungan darah dengannya, misal orangtua, kakak, paman, bibi, serta saudara-saudara lainnya. Ada pula yang dihormati karena sebab usianya, di sini ada orang yang lebih tua, ada yang seusia, ada pula yang lebih muda. Semuanya harus diperlakukan secara proporsional sesuai haknya.</p>
<p>Ada pula urutan-urutan prioritas dalam proses hormat-menghormati ini, mana yang paling layak dihormati, mana yang harus lebih dulu dihormati, mana pula yang paling wajib memberi penghormatan dibanding yang lainnya. Misalnya, yang berkendaraan lebih wajib memberi salam kepada yang berjalan kaki. Yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Yang sendirian lebih wajib memberi salam kepada yang berkumpul, dsb (HR Muttafaqun &#8216;Alaih).Â </p>
<p>Jika kita menelaah kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, maka kita akan menemukan nuansa keadilan dalam pergaulan hidup mereka. Setiap orang diperlakukan sesuai dengan kedudukannya, dalam arti dipenuhi haknya, serta diberi keleluasaan untuk menunaikan kewajibannya. Akibatnya, lahirlah proses timbal balik, di mana setiap orang akan berusaha memberikan yang terbaik untuk yang lainnya. Dalam kondisi seperti inilah, konsep persaudaraan yang diungkapkan dalam Alquran dan hadits benar-benar teraplikasikan secara optimal.Â </p>
<p>Sejatinya, apa yang dicontohkan Ali bin Abi Thalib dalam kisah ini, adalah gambaran puncak bagaimana seorang manusia menunaikan hak-hak yang dimiliki manusia lainnya, siapa pun orang tersebut. Di mana yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua. Seorang anak harus menaati orangtuanya. Seorang murid harus memuliakan gurunya. Walau pun ada tuntutan bagi yang lebih tua untuk menghargai, mengayomi, serta memberi teladan yang baik pula kepada yang muda.Â </p>
<p>Sesungguhnya, mudah saja bagi Ali untuk mendahului Yahudi tua tersebut, toh ia hanya seorang Yahudi tua kafir, tidak bisa melihat, serta berjalan bukan untuk ke masjid. Ia pun tidak terkena dosa jika mendahului jalannya. Namun Ali tidak melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena beliau tidak ingin mencederai hak orang lain. Biarlah orang lain tidak balas menghormati, biarlah orang lain tidak melihat apa yang dilakukannya, yang penting ia telah menunaikan kewajibannya sebaik mungkin. Sebab, bagaimana pun keadaannya, Yahudi tersebut tetaplah orang yang harus dihargai nilai kemanusiaannya. Inilah yang dinamakan ihsan.Â </p>
<p>Dalam arti, tidak sekadar melakukan yang baik, namun melakukan yang terbaik. Karena sikapnya itu, Ali beroleh bonus luar biasa dari Allah SWT. Betapa tidak luar biasa, Allah SWT sampai memerintahkan Rasulullah SAW untuk memperlama rukunya, sebagaimana Dia perantarakan pesan-Nya kepada Malaikat Jibril. Berkaca dari peristiwa ini, Imam Bakr bin Abdullah Al Mazni mengungkapkan sebuah prinsip hidup terkait hubungan interpersonal. Prinsip ini layak kita jadikan pegangan dalam bergaul. Katanya, Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripadaku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usia lebih mudanya, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam dosa dan kesalahan. Jadi, ia lebih baik dariku .</p>
<p>Sumber: republika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/ali-dan-yahudi-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Khansa</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 02:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :</p>
<p><span id="more-188"></span>&#8220;Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang dii ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, nescaya aku bunuh diriku.&#8221;</p>
<p>Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajar ilmu bersyair dna dididik berjuang dengan berani. Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam. Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran.Â </p>
<p>Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk menentang Farsi. Semua Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang, maka terkumpullah seramai 41,000 orang tentera. Khansa telah mengerahkan keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuan tentera Islam.</p>
<p>Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang sebentar lagi akan ke medan perang, &#8220;Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah memburuk-burukkan saudara-maramu, aku tidak pernah merendahkan keturuna kamu, dan aku tidak pernah mengubah perhubungan kamu. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahwasaya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.&#8221;Â </p>
<p>Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud, &#8220;Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, moga-moga menjadi orang yang beruntung.&#8221; Putera-putera Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bonda yang disayanginya.<br />
Seterusnya Khansa berkata, &#8220;Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah akmu ke dalamnya. Dan dapatkanlah puncanya ketika terjadi perlagaan pertempurannya, semoga kamu akan berjaya mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.&#8221;Â </p>
<p>Subuh esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar sembahyang masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah iaitu solat Subuh, kemudian berdoa moga-moga Allah memberikan mereka kemenangan atau syurga. Kemudian Saad bin Abu Waqas panglima besar Islam telah memberikan arahan agar bersiap-sedia sebaik saja semboyan perang berbunyi. Perang satu lawan satu pun bermula dua hari. Pada hari ketiga bermulalah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah .Â </p>
<p>Putera-putera Khansa maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat dari bondanya, mereka tidak sedikit pun berasa takut. Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka bersyair,<br />
&#8220;Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu, telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bernas dan berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan sedikit masa lagi.&#8221;</p>
<p>Kemudian ia maju menetak setiap musuh yang datang. Seterusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang mencabar. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair,Â &#8221;Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasihat dari ibu tua kami Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur mush-musuh bersama-sama Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.&#8221;</p>
<p>Anak Khansa yang ketiga pula segera melompat dengan beraninya dan bersyair, &#8220;Sungguh ibu tua kami kuat keazamannya, tetap tegas tidak goncang Beliau telah menggalakkan kita agar bertindak cekap dan berakal cemerlang Itulah nasihat seorang ibu tua yang mengambil berat terhadap anak-anaknya sendiri Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri Dapatkan kemenangan yang bakal membawakegembiraan di dalam hati Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.&#8221;Â </p>
<p>Akhir sekali anak keempat menghunus pedang dan melompat menyusul abang-abangnya. Untuk menaikkan semangatnya ia pun bersyair, &#8220;Bukanlah aku putera Khansa&#8217;, bukanlah aku anak jantan Dan bukanlah pula kerana &#8216;Amru yang pujiannya sudah lama terkenal Kalau aku tidak membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjunam ke jurang bahay, dan musnah mangsa oleh senjataku.&#8221;</p>
<p>Bergelutlah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga diiringi oleh doa munajat bondanya yang berada di garis belakang. Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada mulanya kebingungan dan kacau kerana pada mulanya tentera Farsi menggunakan tentera bergajah di barisan hadapan, sementara tentera berjalan kaki berlindung di belakang binatang tahan lasak itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu marah dengan menghempaskan tuan yang menungganginya, memijak-mijak tentera Farsi yang lannya. Kesempatan ini digunakan oleh pihak Islam untuk memusnahkan mereka. Panglima perang bermahkota Farsi dapat dipenggal kepalanya, akhirnya mereka lari lintang-pukang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam hingga air sungai menjadi merah. Pasukan Farsi kalah teruk, dari 200,000 tenteranya hanya sebahagian kecil saja yang dapat menyelamatkan diri.Â </p>
<p>Umat Islam lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000 orang. Dan daripada 7,000 orang syuhada itu terbujur empat orang adik-beradik Khansa. Seketika itu juga ramailah tentera Islam yang datang menemui Khansa memberitahukan bahwa keempat-empat anaknya telah menemui syahid. Al-Khansa menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang.</p>
<p>Al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan,Â &#8221;Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka, dan aku mengahrapkan darii Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!&#8221;</p>
<p>Al-Khansa kembali semula ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperanan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran kehormatan &#8216;Ummu syuhada yang ertinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/09/08/al-khansa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shuhaib bin Sinan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 07:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang berhijrah Seperti Dia Setelah memastikan tempat persembuyian hartanya tak dapat dijangkau oleh orang â€“ orang quraisy, Shuhaib berkemas â€“ kemas untuk mengadakan perjalanan jauh. Menemui manusia terkasih yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi Mekkah ke tanah harapan, Yatsrib. Dipenuhinya wadah anak panahnya dengan anak panah terbaik. Disiapkannya juga pedangnya. Itu semua sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang berhijrah Seperti Dia</p>
<p>Setelah memastikan tempat persembuyian hartanya tak dapat dijangkau oleh orang â€“ orang quraisy, Shuhaib berkemas â€“ kemas untuk mengadakan perjalanan jauh. Menemui manusia terkasih yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi Mekkah ke tanah harapan, Yatsrib. Dipenuhinya wadah anak panahnya dengan anak panah terbaik. Disiapkannya juga pedangnya. Itu semua sebagai jaga- jaga kalau di jalan terjadi apa â€“ apa.</p>
<p><span id="more-178"></span>Semula orang â€“ orang Quraisy tidak mengetahui ihwal keberangkatan Shuhaib. Mereka mengira Shuhaib termasuk orang yang lemah imannya dan lebih mencintai hartanya daripada Rasulullah saw. Biasa orang kaya baru!Â Benar, Shuahaib memang orang kaya baru. Saat ia datang dari Romawi beberapa tahun sebelumnya, ia hanyalah bekas budak yang miskin papa. Tapi seiring bergulirnya waktu Shuhaib telah menjelma menjadi slah seorang konglomerat di kota Mekkah. Dan saat sahabat â€“ sahabat Muhammad meningglakan Mekkah yang lantas disusul Muhammad sendiri bersama Abu Bakar, tampak Shuhaib masih sibuk dengan hartanya.</p>
<p>Orang Quraisy terkecoh. Tepatnya nyaris terkecoh. Sebab akhirnya mereka tahu bahwa Shuhaib telah meninggalkan Mekkah. Mereka pun menugaskan para penunggang kuda terbaik untuk mengejarnya. Orang â€“ orang yang ditugaskan itu pun memacu kuda sekencang â€“ kencangnya. Mereka tak akan membiarkan Shuaib lolos begitu saja.</p>
<p>Begitu tahu bahwa orang â€“ orang Quraisy memburunya, Shuhaib turun dari kudanya. Tak ada rasa gentar takut. Diambilnya busur panah dan sebatang anak panah. Rombongan itu berhenti pada jarak beberapa hasta. â€œKalian tahu, aku adalah pemanah ulung,â€ kata Shuhaib, â€œAku tak pernah meleset jika melepaskannya.â€</p>
<p>â€œDemi Allah, kalian tidak akan bisa menjamahku sehingga semua anak panah yang ada dikantung anak panahku ini habis dan lalu kugunakan pedangku untuk membela diri! Gertak Shuhaib. Orang â€“ orang Quraisy itu hanya diam dan saling berpandangan. Nyali sebagian mereka menciut. Tak ada yang tak ingin hidup lebih lama.Â Shuhaib mengambil kesempatan, â€œJika kalian mau membiarkanku hijrah ke Madinah, akan kutunjukkan kepada kalian tempat persembunyian harta kekayaanku. Silahkan kalian mengambilnya sekehendak hati kalian!â€</p>
<p>â€œBagaimana? Harta atau nyawa?!â€ gertak Shuhaib lagi. Tentu saja, diberi pilihan seperti itu rombongan Quraisy itu lebih memilih harta ketimbang menyerang Shuhaib yang belum tentu dapat dikalahkan. Dan Shuhaib pun selamat sampai Madinah menyusul sahabat lain yang telah lebih dulu sampai di sana.</p>
<p>Begitu tampak dari kejauhan, Nabi yang kebetulan sedang duduk â€“ duduk bersama para sahabat segera menyambut kedatangan Shuhaib. Belum sempat Shuhaib menceritakan pengalaman hijrahnya kepada mereka, tiba â€“ tiba Nabi bersabda, â€œWahai Abu Yahya, perniagaan yang benar â€“ benar untung!â€ Shuhaib sangat tersanjung, sementara para sahabat bingung.</p>
<p>Tak lama kemudian turun ayat, â€œ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbanan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba â€“ hamba-Nya.â€ (QS. Al-Baqarah: 207)Â  Saat diberitahu oleh Nabi saw bahwa ayat ini berkenaan dengannya, hati Shuhaib semakin melambung. Ia tak pernah bermimpi ada ayat turun berkenaan denganya. Dengan seorang yang tak fasih bahasa Arab. Dengan seorang bekas budak dari Romawi.</p>
<p>Sebenarnya Shuhaib orang Arab asli. Tetapi karena saat kanak â€“ kanak ia dijadikan tawanan oleh orang â€“ orang Romawi dan hidup puluhan tahun di sana, lupalah ia pada bahasa Arab. Namun ia tahu bahwa sebenarnya ia orang Arab. Kerinduan Shuhaib kepada tanah kelahirannya tak dapat dibendung lagi saat ia tumbuh dewasa. Apalagi di dengarnya dari seorang pendeta Nasrani, telah dekat masa kedatangan seorang Nabi dari Jazirah Arab yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.</p>
<p>Sesampainya di Mekah, pusat Arab waktu itu, dan kerinduannya terobati, Shuhaib memasang telinga baik â€“ baik untuk mencari kabar kebenaran ucapan pendeta Nasrani yang pernah ditemuinya. Upayanya tidak sia â€“ sia. Ia sudah sampai di depan pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Di sana ia bertemu dengan â€˜Ammar bin Yasir yang punya niatan sama dengannya. Keduanya pun masuk dan mendengarkan penuturan Nabi dengan seksama. Hati Shuhaib sangat tertarik kepada semua yang diajarkan oleh Nabi. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi shuhaib pun berikrar untuk hanya beribadah kepada Allah dan mengikuti semua yang diajarkan dan diperintahkan Rasululah.</p>
<p>Sepanjang hidupnya Shuhaib membuktikan ikrarnya. Menjelang senja usia Shuhaib menuturkan perjalanan hidupnya, â€œTidak ada suatu peperangan pun yang diterjuni Rasulullah, kecuali pasti aku menyertainya. Dan tidak ada satu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tidak ada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa â€“ masa pertama Islam atau masa â€“ masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku aku mundur ke belakang. Satu lagi, aku sama sekali tak rela membiarkan Rasulullah saw berada dalam jangkauan musuh sampai beliau kembali menemui Allah.â€</p>
<p>Shuhaib meninggalkan alam fana untuk selama â€“ lamanya pada 28 H. (Syafiâ€™I / ar-risalah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/shuhaib-bin-sinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utsman bin Affan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 06:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua sahabat Nabi memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bersinergi dan berpadunya kompetensi yang unik tersebut menjadikan barisan Rasululah dan sahabat menjadi barisan yang kuat, kokoh dan maju. Softness (Kelembutan) Keunikan Utsman bin Affan terletak pada kelembutan dan sifat pemalunya. Beliau adalah sahabat yang sangat lembut dan pemalu. Meskipun, tentu saja dapat bersikap garang. Karena beliau juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir semua sahabat Nabi memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bersinergi dan berpadunya kompetensi yang unik tersebut menjadikan barisan Rasululah dan sahabat menjadi barisan yang kuat, kokoh dan maju.</p>
<p><strong>Softness (Kelembutan)</strong></p>
<p>Keunikan Utsman bin Affan terletak pada kelembutan dan sifat pemalunya. Beliau adalah sahabat yang sangat lembut dan pemalu. Meskipun, tentu saja dapat bersikap garang. Karena beliau juga mengikuti hampir seluruh peperangan bersama Nabi. Kecuali perang Badar, karena ia sedang merawat istrinya, Ruqayyah yang sedang sakit.</p>
<p><span id="more-177"></span>Suatu hari Rasulullah tidur terlentang, sedang kedua betisnya terbuka. Abu Bakar dan Utsman meminta masuk dan beliau tetap membiarkan betisnya terbuka. Tatkala Utsman meminta izin masuk, beliau langsung menutup betisnya dan berkata, &#8220;Bagaimana aku tidak merasa malu dengan orang yang malaikat saja malu kepadanya&#8221; (HR Muslim).</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman &#8230;&#8221;(HR Ahmad &amp; HR Tirmidzi)</p>
<p>Syaikh Khalid Muhammad Khalid berkata, &#8220;Ustman memiliki banyak watak yang penuh dengan kebaikan dan harga diri. Dari pribadinya memancar bau semerbak kasih sayang dimanapun anda menjumpainya. &#8221;</p>
<p>&#8220;Kasih sayang yang tersebar dalam kehidupannya seperti air mengalir dalam batang yang hijau. &#8230;.kita dapati kasih sayangnya menjadi pelita seluruh hidupnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kasih sayang telah meresap dalam hdup dan tingkah lakunya. &#8230;.kesetiannya terhadap kasih sayang jauh lebih kuat dibanding hidup tanpa mendapatkan tempat di barisan terdepan dari orang-orang yang penyayang dan shalih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia seorang yang taat kepada Allah dan penyayang. Ia suka berpuasa di siang hari, sholat di malam hari, dan hatinya memancarkan kasih sayang.&#8221; Utsman berkata terhadap dirinya, &#8220;Aku tidak pernah berzina maupun mencuri, baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam.&#8221; Adakah diantara kita yang memiliki sejarah yang begitu bersih dan jernih sebagaimana Utsman?</p>
<p>&#8220;ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: &#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221; Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.&#8221; (Az Zumar ayat 9)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan ayat tersebut. Abdullah bin Umar berkata, &#8220;Ia adalah Utsman.&#8221; Sikap lembutnya juga ditunjukkan oleh beliau dalam membantu kesulitan kaum muslimin.</p>
<p><strong>Charitbale (Dermawan)</strong></p>
<p>Utsman adalah sosok yang sangat dermawan. Ia pernah menanggung semua perlengkapan separuh dari pasukan kaum muslimin dalam perang &#8216;asrah. Saat itu, ia mendermakan 300 ekor onta dan 50 ekor kuda lengkap dengan segala peralatannya. Kemudian ia datang membawa seribu dinar dan memberikannya di hadapan Rasulullah. (HR Tirmidzi).</p>
<p>Diantara kemurahan hati dan sedekah yang diberikannya di jalan Allah SWT yaitu ketika Rasulullah menyiapkan tentara dalam perang Tabuk. Imam Ahmad meriwayatkan, &#8220;Bahwa Utsman datang dengan membawa 1000 dinar dibajunya lalu menuangkannya di kamar Rasulullah SAW. Lalu Nabi bersabda, &#8220;Utsman tidak akan miskin karena melakukan hal ini.&#8221;</p>
<p>Ibnu Syihab Zuhri meriwayatkan bahwa pada perang Tabuk Utsman membawa lebih dari 940 onta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi seribu.&#8221; Kini berarti setara dengan 1000 mobil.</p>
<p>Ia juga pernah membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi. Setelah itu ia mewakafkannya. Kemudian kaum muslimin memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Menurut riwayat Al Baghawi ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ketika orang-orang mengalami paceklik di masa pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar berkata kepada mereka insya Allah besok sore kalian dibebaskan Allah dari kesulitan.</p>
<p>Besok paginya datang kafilah Utsman. Para pedagang datang kepada utsman dan meminta kepadanya supaya menjual barang-barang tersebut kepada mereka.</p>
<p>Utsman bertanya kepada mereka, &#8220;Berapa keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Sepuluh dengan dua belas.&#8221; Utsman berkata, &#8220;Saya telah mendapat lebih dari itu.&#8221; Pedagang-pedagang tersebut bertanya, &#8220;Siapa yang menambahimu sedangkan kami adalah pedagang-pedagang Madinah.&#8221; Utsman menjawab, &#8220;Ia adalah Allah, Dia menambahiku setiap dirham dengan sepuluh dirham, maka apakah kalian bisa menambahiku? &#8221; Pedagang-pedagang tersebut berlalu dan Utsman berkata, &#8220;Yaa Allah kuberikan barang-barang ini kepada orang-orang miskin di Madinah tanpa bayar dan tanpa perhitungan. &#8221;</p>
<p><strong>Kesabaran Utsman bin Affan RA (Patient)</strong></p>
<p>Utsman RA adalah sahabat yang sangat-sangat sabar. Beliau menghadapi berbagai cobaan dan ujian dengan tabah.</p>
<p>Ketika beliau masuk Islam, pamannya Al Hakam bin Al &#8216;Ash bin Umayyah menangkapnya dan mengikatnya dengan tali. Lalu Hakam berkata, &#8220;Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu dan kamu berganti dengan agama yang baru? Demi Tuhan saya tidak akan melepaskanmu dari ikatan ini hingga kamu meninggalkan agama yang kamu anut sekarang juga.&#8221; Utsman berkata, &#8220;Demi Allah! Saya tidak akan meninggalkan agama ini untuk selamanya, dan saya tidak akan memisahkan diri darinya! Melihat keteguhan dan kesabaran Utsman, akhirnya Al hakam meninggalkan Utsan RA.</p>
<p>Kesabaran dan ketabahan lainnya adalah tatkala terjadi huru hara dalam pemerintahannya yang dipicu dan diprovokasi oleh orang-orang khawarij. Beliau juga tetap dalam kesabaran. Padahal jika mau, pada saat itu beliau dapat minta bantuan sahabat Anshar dan Muhajirin untuk mengawalnya. Atau dengan mengasingkan diri ke luar daerah. Atau dengan melepaskan kekhalifahan. Namun demi menjaga persatuan umat Utsman rela dirinya dijadikan sasaran pembunuhan oleh kaum durjana.</p>
<p>Maka benar sabda Rasulullah SAW, &#8220;Dia (Utsman) akan dibunuh dengan cara yang zhalim pada suatu peristiwa.&#8221; (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar). Dalam riwayat Ibnu Asakir dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah bersabda, &#8220;Utsman datang kepadaku, dan pada saat itu ada seorang malaikat bersamaku, dia berkata, &#8220;Dia akan mati syahid dan akan dibunuh oleh kaumnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi dia berkata, &#8220;Dua sifat yang dimiliki oleh Utsman dan tidak dimiliki Abu Bakar maupun Umar, yaitu kesabarannya saat dikepung hingga ia terbunuh serta penghimpunan mushaf Alqur&#8217;an dalam bentuknya sekarang.&#8221;</p>
<p><strong>Leadership</strong></p>
<p>Meskipun tidak seperti Abu Bakar dan Umar, namun Utsman juga memiliki watak kepemimpinan yang tidak diragukan lagi. Buktinya hampir seluruh sahabat sepakat memba&#8217;iat Ustman sebagai khalifah pengganti Umar.</p>
<p>Pasca terbunuhnya khalifah Umar, Abdurrahman bin &#8216;Auf bertanya kepada kaum muhajirin dan anshar, &#8220;Menurut anda siapa yang patut menjadi khalifah setelah Umar?&#8221; Semua orang yang ditanya dan diminta pendapatnya selalu mengatakan, &#8220;Utsman.&#8221;. Maka segera ia membai&#8217;atnya dan diikuti bai&#8217;at oleh masyarakat secara masal.</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Kami membai&#8217;at orang terbaik diantara kami.&#8221; Dalam riwayat lain dinyatakan, &#8220;Kami mengangkat orang terbaik (sebagai pemimpin) dan kami sungguh-sungguh. &#8221;</p>
<p>Bukti lainnya adalah dimasa Utsman banyak wilayah dan daerah baru yang ditaklukkannya. Sehingga wilayah Islam membentang jauh dari Timur hingga ke Barat. Terbentang dari Sind di sebeah Timur, Kaukasus di sebelah utara, Afrika dan pulau-pulau Mediteranian di sebelah Barat dan Habasyah (Ethiopia) di sebelah selatan. Ibnu Katsier berkata, &#8220;Semua itu benar-benar terbukti dan terjadi pada masa Utsman RA.&#8221;</p>
<p>Yang termasuk negeri-negeri tersebut adalah Hamazan, Rayy, Safur, Arjan, Asfahan, Astakhar, Jurjan, Kabul, Sijistan, Tabristan, Azarbaijan, Armenia, Afrika, Ethiopia, Siprus, Malta dll.</p>
<p>Utsman pula yang membentuk armada angkatan laut Islam untuk pertama kalinya. Sebelumnya Umar menolak hal itu karena khawatir terhadap tentara muslim yang belum berpengalaman perang di laut. Utsman mebentuk armada laut dan memperoleh kemenangan besar dalam perang di atas kapal laut. Dan menyerang armada-armada yang sombong (armada laut Byzantium) dan kemudian menaklukkan pulau-pulau di Mediterania.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/utsman-bin-affan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wibawa Seorang Umar bin Khaththab</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 14:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bentangan sejarah, selain dikenal sebagai sosok pemberani, Umar juga mempunyai wibawa yang luar biasa. Mereka yang mengenal Umar akan merasa lebih gentar berhadapan dengannya dibandingkan dengan orang yang belum mengenalnya. Kenyataan ini membuktikan, kehebatan Umar mampu merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Berbeda dengan mereka yang belum mengenalnya. Mereka akan menganggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bentangan sejarah, selain dikenal sebagai sosok pemberani, Umar juga mempunyai wibawa yang luar biasa. Mereka yang mengenal Umar akan merasa lebih gentar berhadapan dengannya dibandingkan dengan orang yang belum mengenalnya. Kenyataan ini membuktikan, kehebatan Umar mampu merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Berbeda dengan mereka yang belum mengenalnya. Mereka akan menganggap Umar seperti manusia biasa.</p>
<p><span id="more-103"></span>Penilaian sekilas itu mereka kemukakan karena melihat sikap Umar yang begitu sangat sederhana dan wajar. Kesehariannya tak berbeda dengan orang biasa. Bahkan, bisa jadi lebih sederhana dari rakyat jelata. Namun, bagi yang telah mengenal Umar lebih jauh, akan mengetahui wibawa Umar. Khalifah Rasulullah saw yang kedua ini tak segan-segan menindak orang yang berbuat kesalahan, meski orang tersebut sudah lama bersahabat dengannya.</p>
<p>Suatu ketika Umar berjalan di depan beberapa sahabat Rasulullah saw. Tiba-tiba Umar menoleh dengan pandangan tajam. Dikisahkan oleh Mahmud Abbas Aqqad, seketika mereka yang berada di belakangnya gemetar hingga ikat pinggang hampir lepas. Tatapan mata Umar benar-benar memancarkan cahaya wibawa yang sangat luar biasa.</p>
<p>Pada saat berbeda, Umar pernah menggoyang-goyangkan badannya di atas tempat duduk seorang tukang cukur yang sedang memangkas rambutnya. Seketika tukang cukur itu gemetar melihat sikap Umar. Setelah selesai, Umar memberinya 40 Dirham.</p>
<p>Kewibawaan Umar benar-benar serasi dengan kekuatan jiwa dan tubuhnya. Kekuatan fisik dan bentuk tubuhnya yang kekar turut menopang kehebatannya. Tidak mengherankan jika ada musuh yang melihat tubuhnya, langsung gemetar. Sosok tubuh Umar tinggi besar. Jika duduk, Umar terlihat seperti orang yang sedang berada di atas hewan kendaraannya. Kegemarannya menunggang kuda tanpa pelana makin menonjolkan kekuatan fisiknya. Umar juga dikenal sebagai jago gulat yang sulit dikalahkan. Suaranya jelas terdengar ketika mengemukakan pendapat atau memberikan perintah.</p>
<p>Kepekaan indra Umar bin Khaththab sangat sensitif. Ia bisa membedakan semua rasa dan bau yang tidak mampu dibedakan oleh orang lain. Ketajaman perasaannya dibuktikan ketika salah seorang pembantunya menghidangkan segelas susu. Ia tidak langsung meminum susu itu lantaran mencium aroma yang tidak biasa. Ketika Umar menanyakan dari mana pembantunya mendapatkan susu itu, dijelaskan bahwa minuman tersebut diambil dari uang Baitul Mal lantaran hewan peliharaan milik Umar sudah tidak mengeluarkan susu lagi. Umar langsung menolak susu tersebut lantaran merasa tidak berhak meminumnya.</p>
<p>Kewibawaan itu yang menjadi modal Umar bin Khaththab saat diamanahi sebagai khalifah. Bahkan, kewibawaan ini tetap tersisa meski dirinya sudah wafat. Aisyah pernah menuturkan, ketika Umar masih hidup, ia biasa mendatangi makam ayahnya Abu Bakar yang berdampingan dengan makam Rasulullah saw. Kala itu, Aisyah biasa membuka bagian luar penutup kepalanya. Namun, ketika Umar meninggal dan dimakamkan di samping makam Abu Bakar, saat mengunjungi pemakaman itu, Aisyah tak pernah membuka penutup luar kepalanya. Ia merasa segan dengan Umar bin Khaththab meski sosoknya telah tiada.</p>
<p>Tentu yang membuat Umar memiliki kewibawaan demikian rupa, bukan semata karena fisiknya. Selain fisik, Umar juga dikenal dengan ketakwaan dan keadilannya. Ketakwaannya terpancar dari kekhusyuk-annya beribadah. Ia kerap dijumpai menangis tersedu-sedu hingga menyisakan bekas hitam di kedua pipinya. Keadilannya diakui semua orang. Ia tak segan-segan menghukum orang yang bersalah apapun kedudukannya. Ini yang menambah wibawa Umar.</p>
<p>Banyak fakta membuktikan, para pemimpin Muslim â€“ dalam skala apa pun yang biasa melakukan Qiyamul Lail, akan disegani. Ucapannya didengar, perintahnya ditaati. Hal ini kita temukan pada para ulama dulu yang begitu disegani banyak orang. Para pimpinan pesantren, disegani banyak santri. Penjelasannya, ketakwaan mereka pada Allah benar-benar nyata.</p>
<p>Jika para pemimpin negeri ini telah kehilangan wibawa, wajar kalau kita bertanya: sejauh mana mereka mendekatkan diri pada Allah. Hal yang sama kita ajukan pada para orang tua. Kalau anak-anak sudah tidak segan dan menghormati orang tua mereka lagi, kita ajukan pertanyaan serupa : sejauh mana ibadah mereka pada Allah.</p>
<p>(Hepi Andi Bastoni, disadur dari Majalah Sabili No.24 th.XIV, 14 Juni 2007)Â Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/17/wibawa-seorang-umar-bin-khaththab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

