<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com &#187; Tazkiyatun Nafs</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/tags/kajian/akhlakul-karimah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Apr 2008 08:04:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kesalahan dan Kebaikan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 12:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu kepada orang lain dan kebaikan orang lain kepadamu. Lupakan dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu.&#8221;
Nasihat ahli hikmah ini, perlu kita jadikan bahan renungan dan introspeksi dalam upaya mencapai pribadi yang ber-akhlakul karimah. Nilai seseorang bukanlah berada pada penampilan dirinya, bukan pula dari jabatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu kepada orang lain dan kebaikan orang lain kepadamu. Lupakan dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu.&#8221;</p>
<p>Nasihat ahli hikmah ini, perlu kita jadikan bahan renungan dan introspeksi dalam upaya mencapai pribadi yang ber-akhlakul karimah. Nilai seseorang bukanlah berada pada penampilan dirinya, bukan pula dari jabatan dan harta benda yang telah dikumpulkan. Seseorang dinilai bukan dari kursi yang diduduki, bukan pula berapa pangkat yang disandang dan tanda jasa yang melekat pada dadanya, serta bukan karena garis keturunannya. Seorang itu dinilai dari budi pekerti luhur yang menghiasi perilakunya.Â </p>
<p><span id="more-217"></span>Dikatakan dalam pepatah Arab, &#8221;Kemuliaan seseorang itu dengan budi pekerti yang baik, bukan karena keturunan.&#8221; Mengapa kita harus mengingat kesalahan yang telah dikerjakan pada orang lain? Dengan mengingatnya, akan menimbulkan perasaan menyesal dalam diri kita, perasaan yang mendorong untuk bertobat kepada Allah, kemudian berusaha memperbaikinya dengan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya.Â </p>
<p>Mengingat kebaikan orang lain terhadap kita akan mendorong kita selalu berbuat baik kepada orang lain. Kehidupan tidak akan terbina dengan baik tanpa kebaikan orang lain, yang pada hakikatnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.&#8221; (HR Bukhari-Muslim) .Â </p>
<p>Melupakan kebaikan yang telah diperbuat pada orang lain akan mendorong kita menjadi pribadi yang mukhlis. Setiap kebaikan, hanya diniatkan lillah ta&#8217;la, seikhlas-ikhlasnya. Sebagai Muslim, sudah semestinya menjaga agar hati selalu suci dari kemunafikan, perbuatan harus selalu suci dari riya&#8217;, lidah harus selalu suci dari kebohongan. Sedangkan dengan melupakan kesalahan orang lain, akan mendorong kita menjadi pribadi pemaaf. Kita akan gampang memaafkan, sebesar apa pun kesalahan orang.Â </p>
<p>(Mahmudi Arif D )Â </p>
<p>Source : republika.co. id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/25/kesalahan-dan-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amanah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/amanah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/amanah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/amanah/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk mashlahat dan kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah diwajibkannya sifat amanah, yang ini merupakan perbendaharaan agama Islam, kekayaan yang sangat mendasar dan bahkan agama itu merupakan amanah.
Ada tiga kata sepadan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk mashlahat dan kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah diwajibkannya sifat amanah, yang ini merupakan perbendaharaan agama Islam, kekayaan yang sangat mendasar dan bahkan agama itu merupakan amanah.</p>
<p><span id="more-205"></span>Ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun, ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau tumaâ€™ninah. Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang didalamnya terdapat pula ketenangan.</p>
<p>Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan mukmin karena hanya orang mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah, artinya,<br />
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (QS. 23:8)</p>
<p>Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah memilki arti tumbuhnya sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam sabda nabi saw, â€œSetiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.â€</p>
<p>Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh hubungan muamalah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan.</p>
<p>Maka secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian:</p>
<p>1.Â Amanah dalam Menunaikan Hak-hak Allah Azza wa Jalla.<br />
Yaitu dengan menauhidkan-Nya, mengesakan-Nya di dalam beribadah, mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.</p>
<p>2.Â Amanah dalam Nikmat yang Diberikan Allah.<br />
Seperti nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan anak-anak. Juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah.</p>
<p>Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Taâ€™ala, maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai tuntutannya.</p>
<p>Dan sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut. Nabi saw bersabda, artinya, â€œJagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka dia akan kau dapati dihadapanmu.â€</p>
<p>Seorang salaf berkata, â€œBarang siapa bertakwa kepada Allah maka dia telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri, sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.â€</p>
<p>Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa nikmat, harta dan sebagainya maka Allah akan menjaganya untuk kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal usaha seseorang sebagaimana firman Allah swt, â€Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).â€ (QS. 2:40)</p>
<p>â€œHai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.â€ (QS. 47:7)</p>
<p>3.Â Amanah dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia</p>
<p>Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan dan lain sebagainya. Al Qurâ€™an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk memelihara dan menjaganya. Diantaranya adalah firman Allah, artinya, â€œSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang berhak mendapatkan surga Firdaus Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanatâ€ (yang dipikulnya) dan janjinya, (QS. 23:8)</p>
<p>Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt berfirman, â€œSesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodohâ€ (QS. 33:72)</p>
<p>Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.</p>
<p>Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.</p>
<p>Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa. Maka dalam lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan mukmin.</p>
<p>â€œSehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu&#8217;min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:73)</p>
<p>Orang musyrik menyia-nyiakan amanah secara lahir dan batin, orang munafik menyia-nyiakan amanah secara batin meskipun secara lahirnya terlihat menunaikan amanah sedangkan orang mukmin menjaga amanah Allah secara lahir dan batin.</p>
<p>Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit, bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong). Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada pilihan lain selain patuh.</p>
<p><strong>Beberapa Pelajaran Seputar Amanah</strong></p>
<p>â€¢Â Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka berarti tidak amanah.</p>
<p>â€¢Â Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah.</p>
<p>â€¢Â Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat.</p>
<p>â€¢Â Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada kebinasaan.</p>
<p>â€¢Â Lawan amanah adalah khianah yaitu meninggalkan dan menyembunyikan yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi saw bersabda, artinya, â€œTanda-tanda orang munafik ada tiga, â€œJika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.â€</p>
<p><strong>Macam-macam Khianat</strong></p>
<p>Allah swt berfirman, artinya, â€Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.â€ (QS. 8:27</p>
<p>Berdasar ayat ini, khianat ada tiga macam:<br />
1.Â Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan â€˜ishyan (kemaksiatan) .Tauhid,shalat, puasa, ikhlas,zakat, rukuâ€™,sujud,mandi janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah swt, yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati.<br />
2.Â Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnah-sunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bidâ€™ah atau membuat hal-hal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau saw.<br />
3.Â Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. Amanah terhadap sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak,orang tua, kerabat,suami- istri, tetangga,amanah dalam jual beli, berbicara, pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah kehidupan ini, amin. Wallahu aâ€™lam bish shawab.</p>
<p>Sumber: â€Al-Amanah, mafhumuha,shuwaruha ,tsamaratuha.â€ Asmaâ€™ binti Rasyid ar- Ruwaisyid.</p>
<p>Sumber : www.alsofwah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/amanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tathayyur, Kesialan Tak Beralasan</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/tathayyur-kesialan-tak-beralasan/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/tathayyur-kesialan-tak-beralasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/tathayyur-kesialan-tak-beralasan/</guid>
		<description><![CDATA[Arti Tathayyur
Tathayyur (baca; tatoyur yakni merasa sial ketika melihat jenis burung tertentu atau selainnya), sebagaimana dikatakan al Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berasal dari kata thiyarah atau tiirah akar kata (mashdar) dari kata tathayyara, sebagaimana kata takhayyara mashdarnya khiyarah.
Asal-usul Tathayyur
Asal usul tathayyaur (dalam kehidupan Arab), bahwa pada masa jahiliyah orang orang mengandalkan arah terbangnya burung. Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti Tathayyur</strong></p>
<p>Tathayyur (baca; tatoyur yakni merasa sial ketika melihat jenis burung tertentu atau selainnya), sebagaimana dikatakan al Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berasal dari kata thiyarah atau tiirah akar kata (mashdar) dari kata tathayyara, sebagaimana kata takhayyara mashdarnya khiyarah.</p>
<p><span id="more-204"></span><strong>Asal-usul Tathayyur</strong></p>
<p>Asal usul tathayyaur (dalam kehidupan Arab), bahwa pada masa jahiliyah orang orang mengandalkan arah terbangnya burung. Jika salah seorang dari mereka akan keluar rumah untuk suatu urusan maka apabila melihat burung terbang ke arah kanan mereka merasa beruntung dan melanjutkan perjalanan. Jika melihat burung terbang ke arah kiri maka mereka beranggapan sial dan membatalkannya. Terkadang juga mereka sengaja melepaskan burung lalu di lihat ke mana arah terbangnya kemudian dari situ ia menentukan sikap.</p>
<p><strong>Tathayyur dalam Lintasan Sejarah </strong></p>
<p>Sejarah tathayyur sudah ada smenjak dahulu kala, sudah lama orang-orang mempunyai anggapan bahwa kesialan itu dapat disebabkan oleh adanya makhluk tertentu yang menurut mereka membawa sial. Kaum Tsamud juga telah bertathayyur, mereka merasa sial dengan keberadaan Nabi Shalih di tengah-tengah mereka, sebagaimana firman Allah swt, Mereka menjawab: &#8220;Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu&#8221;.Shaleh berkata:&#8221;Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji&#8221;. (QS. an-Naml: 47) Demikian pula dengan Bani Israil, sebagaimana firman Allah dalam surat al A&#8217;raf 130-131.</p>
<p>Tathayyur terus berlanjut hingga pada masa Arab Jahiliyah dengan berbagai macam bentuknya. Diantara mereka ada yang beranggapan sial dengan adanya jenis burung tertentu, bagaimana cara terbangnya, atau dengan angin, bintang ataupun dengan suara orang serta binatang tertentu.</p>
<p>Setelah Nabi saw diutus dengan membawa wahyu maka beliau jelaskan bahwa kepercayaan tathayyur tersebut adalah batil. Rasulullah saw bersabda, artinya, â€œTidak ada thiyarah (sial karena burung) dan tidak ada kesialan (karena makhluk tertentu).&#8221;</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa kepercayaan semacam ini timbul hanya berdasarkan persangkaan orang-orang (sama sekali tidak mempunyai dasar yang masuk akal,red). Beliau ajarkan bahwa apa yang mereka peroleh atau apa yang menimpa mereka tidak lain karena (takdir) yang telah ditetapkan Allah untuknya.</p>
<p><strong>Tathayyur di Masa Kini</strong></p>
<p>Di masa kini pengaruh- pengaruh tathayyur masih begitu kental dan terasa, terbukti dengan semakin marak dan menjamurnya paranormal alias dajjal yang mengklaim mengetahui perkara ghaib. Diantara mereka ada yang meramal dengan bintang, membaca telapak tangan ataupun dengan cara lainnya yang pada dasarnya merupakan pelecehan terhadap keberadan akal manusia.</p>
<p>Tak ketinggalan negara- negara yang katanya disebut sebagai negara maju, modern atau negara industri, dimana mereka lebih menyandarkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan logika (akal) ternyata masyarkatnya banyak yang lari kepada dukun dan tukang ramal, bahkan hal itu telah menjadi keyakinan yang menancap pada kebanyakan masyarakatnya.</p>
<p>Tak terhitung para petinggi dan pejabat pemerintahan yang datang menghadap &#8220;orang pinter&#8221; dan tukang ramal baik yang pria maupun wanita, baik ke tempat praktek mereka, ataupun dalam event dan acara-acara yang disiarkan oleh berbagai media. Dan terbukti bahwa mereka yang datang rata-rata terpengaruh dan membenarkan apa saja yang diucapkan oleh sang paranormal. Yang demikian ini juga terjadi di negara-negara Amerika dan Eropa.</p>
<p>Dalam hal ini ada sebuah berita yang dikeluarkan oleh sebuah kantor berita di London bahwa mantan presiden AS Ronald Reagen bukanlah merupakan satu-satunya orang yang mengangkat penasehat dari kalangan dukun dalam membantu mengurus negaranya. (Diterbitkan dalam koran al Qabas (Kuwait) edisi 22 Mei 1998, tentang dunia sihir dan paranormal oleh Dr Sulaiman al Asyqar)</p>
<p>Sementara di Perancis telah diadakan sensus bahwa lebih dari sepuluh juta penduduk Perancis mendatangi paranormal dan tukang ramal secara rutin. Fenomena ini menyebar pada seluruh strata dan kelompok masyarakat mulai dari para petinggi negara hingga tukang sampah. Salah satu hal yang menggiring itu adalah banyak perpustakaan yang dipenuhi dengan buku-buku ramalan bintang dalam setiap penghujung tahun, mereka ingin tahu berbagai peristiwa yang bakal terjadi pada tahun berikutnya.</p>
<p>Telah menjadi kebiasaan orang-orang Prancis pada tiap akhir tahun mereka menunggu terbitnya buku-buku yang memuat ramalan-ramalan tukang tenung, terutama seorang peramal wanita yang dikenal dengan Elizabet Teisyih, yang presiden Faranso Mitaran banyak bertanya kepadanya, meminta petunjuk terhadap permasalahan yang dihadapinya. (Koran asy Syarq al Ausath no 8003 Jum&#8217;at 30-7-1421 H)</p>
<p>Di beberapa negara maju marak juga model perdukunan yang disebut dengan melihat bola kristal. Dimana sang penyihir komat-kamit mulutnya seraya membaca mantera dihadapan bola itu, lalu mendengarkan apa yang dibisikkan oleh setan, setelah itu memberitahukan bisikan setan itu kepada orang lain (pasiennya).</p>
<p>Salah satu bukti yang menunjukkan mendunianya paranormal, khurafat dan keyakinan batil terutama di negara yang mengaku maju adalah apa yang terdapat dalam uang dolar Amerika bergambar mata, yang dimaksudkan untuk menolak mata yang dengki (ain). (lihat &#8216;Alamus sihri wa asy syu&#8217;udzah hal 65, Dr Sulaiman al Asyqar)</p>
<p>Orang-orang barat juga punya keyakinan bahwa angka tertentu merupakan pembawa sial, jika memiliki angka itu maka mereka berasumsi bahwa sial bakal menimpa. Diantara angka &#8220;keramat&#8221; itu adalah angak tiga belas (13), sehingga salah satu maskapai penerbangan internasional mambuang angka tersebut dari tempat duduk di dalam pesawat.</p>
<p>Demikian juga penduduk New Zealand, mereka juga beranggapan sial dengan angka tiga belas sehingga mereka tidak menulisnya pada apa-apa yang mereka miliki. Dan dengan sebab tidak dipakainya angka tiga belas ini sering terjadi kesalahpahaman di dalam berbagai pelayanan umum sebagaimana diungkapkan oleh para wartawan mereka. (koran New Zealand Hirald edisi 12-10-1420 H/19-1-2000 M, disiarkan juga oleh kantor berita reuters dan diterbitkan dalam koran ar Riyadh Kamis 13/10/1420).</p>
<p>Setelah diperhatikan maka diketahui bahwa angka tiga belas ternyata merupakan angka keramat (angka apes dan sial) bagi paranormal dan tukang ramal, dan ini menunjukkan bahwa tathayyur memiliki kaitan yang sangat erat dengan dunia perdukunan. Di Eropa, jumlah paranormal dan peramal mancapai jutaan baik yang pria maupun wanita. Di Paris, ibu kota Perancis ada lebih dari dua puluh lima ribu juru nujum pria dan wanita. (Majalah Express, Perancis). Disana juga diadakan kontes paranormal dan juru nujum dengan skala internaisonal, tentunya untuk apa lagi kalau bukan mencari pelanggan.<br />
Dalam kaitan pergantian milenium baru (th 2000) lalu beberapa paranormal kesohor meramalkan bahwa tahun 2000 merupakan tahun kehancuran alam semesta, ada lagi paranormal yang mengatakan bahwa pada tahun itu matahari akan meledak dan itu tersebar melalui beberapa pemberitaan media di dunia. Maka banyak penduduk dunia yang begadang pada malam pertama tahun itu (pergantian tahun) seraya menahan nafas menunggu apa yang bakal terjadi dengan alam ini. Namun apa yang terjadi, semua hanya dusta belaka.</p>
<p>Ramalan semacam ini sebenarnya hanya mengadopsi dari paranormal di masa lalu. Pada tahun 999 terdapat ramalan yang menyebutkan bahwa tahun 1000 akan terjadi peristiwa demikian dan demikian. Maka akibat ramalan itu, penduduk Eropa berbondong-bondong keluar menuju Baitul Maqdis, dengan harapan agar akhir kehidupan mereka berada di tempat yang suci. (at Tanabbu&#8217; bil ghaib, Ahmad asy Syantanawi, terbitan Dar al Ma&#8217;arif Mesir)</p>
<p><strong>Bentuk-bentuk Tathayyur </strong></p>
<p>Hampir dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari masih kita dapati adanya unsur tathayyur, baik disadari atau tidak.Dan aspek yang terbesar adalah tathayyur dan anggapan sial dalam hal yang berkaitan dengan sakit, kematian serta penghasilan atau rejeki. Dan nyata sekali bahwa antara tathayyur dengan dunia paranormal dan perdukunan memilki kaitan sangat kuat yang saling mendukung satu dengan lainnya.</p>
<p>Ada diantara dukun itu yang meramal nasib dengan membaca telapak tangan. Ada pula bentuk ramalan dengan kartu, demikian juga yang banyak terpampang di halaman berbagai majalah atau koran berupa ramalam bintang (zodiak). Majalah dan koran semacam ini telah memberikan andil dalam penyebaran khurafat. Para artis dan penyayi pun tak ketinggalan sering mengungkapkan masalah masalah semisal, seperti dirinya berada dibawah naungan zodiak ini, sehingga dalam keseharian harus begini, pantangannya adalah ini dan itu.</p>
<p>Ada pula sebagian orang atau pengusaha yang apabila kedatangan tamu dengan ciri fisik tertentu maka dia merasa sial sehingga menutup toko atau kantornya takut rugi dan terkena musibah. Sebagian yang lain merasa sial dengan nomer atau angka tertentu seperti angka 13 atau angka 3 dan ada pula orang yang merasa sial apabila melihat cermin yang pecah.<br />
Ada pula bentuk tathayyur yang merupakan warisan kaum Yahudi, yakni merasa sial apabila melihat wanita yang sedang dalam masa â€˜iddah atau haidh. Ada juga sebagian masyarakat yang bertathayyur dengan burung gagak atau burung hantu (dan burung perkutut, red).</p>
<p>Tak ketinggalan orang rafidhah (syi&#8217;ah), mereka merasa sial dengan angka sepuluh. Menurut penjelasan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa orang syiah membenci angka sepuluh disebabkan kebencian mereka terhadap shahabat pilihan yaitu sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga. (lihat Minhaj as Sunnah an Nabawiyah 1/38-39).</p>
<p>Walhasil masih banyak masyarakat di belahan bumi ini yang meyakini tathayyur, dan ini merupakan peluang emas bagi para dukun dan dajjal yang sering dianggap sebagai â€œorang pinterâ€ untuk terus dan asyik menjalankan profesinya, â€œmembodohi orangâ€.</p>
<p>Islam telah mengingkari adanya tathayyur, dan jika dengan sebab tathayyur ini seorang muslim lantas medatangi dukun maka dia berhadapan dengan dua ancaman, tidak diterima shalatnya empat puluh hari atau yang lebih fatal lagi dicap kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. Wallahu aâ€™lam.</p>
<p>Diringkas dan disadur dengan bebas dari kitab â€œat-Tasyaâ€™um wa at-Tathayyur fi hayatin naas, Khalid bin Abdur Rahman asy-Syayiâ€™</p>
<p>Sumber : www.alsofwah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/tathayyur-kesialan-tak-beralasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabar: Keajaiban Seorang Mukmin</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/09/08/sabar-keajaiban-seorang-mukmin/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/09/08/sabar-keajaiban-seorang-mukmin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 02:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/09/08/sabar-keajaiban-seorang-mukmin/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tim dakwatuna.com
Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, â€œSungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tim dakwatuna.com</p>
<p>Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, â€œSungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.â€ (HR. Muslim)</p>
<p><span id="more-187"></span><strong>Sekilas Tentang Hadits :Â </strong></p>
<p>Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh:</p>
<p>â€¢Â Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqaâ€™iq, Bab Al-Muâ€™min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.</p>
<p>â€¢Â Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 &amp; 23412.</p>
<p>â€¢Â Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Muâ€™min Yuâ€™jaru Fi Kulli Syaiâ€™, hadits no 2777.</p>
<p><strong>Makna Hadits Secara Umum</strong></p>
<p>Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah â€˜ajabanâ€™. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.</p>
<p><strong>Urgensi Kesabaran</strong></p>
<p>Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.</p>
<p><strong>Makna Sabar</strong></p>
<p>Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah â€œshabaraâ€, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi â€œshabranâ€œ. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qurâ€™an: â€œDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.â€ (Al-Kahfi: 28)</p>
<p>Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan â€˜keluarâ€™ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.</p>
<p>Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.</p>
<p>Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, â€œSabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qurâ€™an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).â€</p>
<p><strong>Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qurâ€™an</strong></p>
<p>Dalam Al-Qurâ€™an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qurâ€™an, baik berbentuk isim maupun fiâ€™ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.</p>
<p>1.Â Sabar merupakan perintah Allah. â€œHai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.â€ (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.</p>
<p>2.Â Larangan istiâ€™jal (tergesa-gesa) . â€œMaka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi merekaâ€¦â€ (Al-Ahqaf: 35)</p>
<p>3.Â Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: â€œâ€¦dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.â€ (Al-Baqarah: 177)</p>
<p>4.Â Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. â€œDan Allah mencintai orang-orang yang sabar.â€ (Ali Imran: 146)</p>
<p>5.Â Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba- Nya yang sabar. â€œDan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.â€ (Al-Anfal: 46</p>
<p>6.Â Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Raâ€™d: 23 &#8211; 24)</p>
<p><strong>Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam HaditsÂ </strong></p>
<p>Sebagaimana dalam Al-Qurâ€™an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:</p>
<p>1.Â Kesabaran merupakan â€œdhiyaâ€™ â€ (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, â€œâ€¦dan kesabaran merupakan cahaya yang terangâ€¦â€ (HR. Muslim)</p>
<p>2.Â Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: â€œâ€¦barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabarâ€¦â€ (HR. Bukhari)</p>
<p>3.Â Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, â€œâ€¦dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.â€ (Muttafaqun Alaih)</p>
<p>4.Â Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; â€œSungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.â€ (HR. Muslim)</p>
<p>5.Â Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, â€œSesungguhnya Allah berfirman, â€˜Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginyaâ€™.â€ (HR. Bukhari)</p>
<p>6.Â Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Masâ€™ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Masâ€™ud berkataâ€Seakan- akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, â€˜Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.â€ (HR. Bukhari)</p>
<p>7.Â Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, â€œOrang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.â€ (HR. Bukhari)</p>
<p>8.Â Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, â€œTidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.â€ (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>9.Â Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, â€œJanganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, â€˜Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.â€ (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Kesabaran</strong></p>
<p>Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:</p>
<p>1.Â Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.</p>
<p>2.Â Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.</p>
<p>3.Â Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.</p>
<p><strong>Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran</strong></p>
<p>Ketidaksabaran (baca; istiâ€™jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:</p>
<p>1.Â Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.</p>
<p>2.Â Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qurâ€™an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.</p>
<p>3.Â Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.</p>
<p>4.Â Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.</p>
<p>5.Â Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.</p>
<p>6.Â Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.</p>
<p>7.Â Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabiâ€™in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.Â </p>
<p>Sumber : <a href="http://www.dakwatuna.com/">www.dakwatuna.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/09/08/sabar-keajaiban-seorang-mukmin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Ilmu Bukan Penghalang Untuk Berdakwah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/09/08/sedikit-ilmu-bukan-penghalang-untuk-berdakwah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/09/08/sedikit-ilmu-bukan-penghalang-untuk-berdakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 02:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/09/08/sedikit-ilmu-bukan-penghalang-untuk-berdakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada yang berdalih, &#8220;Aku tidak bisa mendakwahi orang lain karena pengetahuanku sangat minim.&#8221; Bagaimana menjawab pernyataan seperti itu?
Katakan kepadanya sabda Rasulullah SAW, &#8220;Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Ceritakanlah kisah Bani Israil tanpa ragu-ragu. Barangsiapa berdusta dengan mengatasnamakanku maka bersiaplah mendapat tempat di neraka.&#8221; (HR Tirmidzi dan Ibnu Umar)
Walau hanya memahami satu ayat, sampaikanlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin ada yang berdalih, &#8220;Aku tidak bisa mendakwahi orang lain karena pengetahuanku sangat minim.&#8221; Bagaimana menjawab pernyataan seperti itu?</p>
<p>Katakan kepadanya sabda Rasulullah SAW, &#8220;Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Ceritakanlah kisah Bani Israil tanpa ragu-ragu. Barangsiapa berdusta dengan mengatasnamakanku maka bersiaplah mendapat tempat di neraka.&#8221; (HR Tirmidzi dan Ibnu Umar)</p>
<p><span id="more-186"></span>Walau hanya memahami satu ayat, sampaikanlah kepada orang lain. Walau mendapatkan ilmu dari khutbah Jum&#8217;at, sampaikanlah pula kepada orang lain. Jika menghadiri pengajian majelis taklim, datangilah sanak saudara lalu ceritakanlah apa yang Anda dapatkan dari pengajian tersebut.</p>
<p>Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata, &#8220;Orang yang mengetahui suatu permasalahan, ia dianggap pakar di bidang itu.&#8221;<br />
Kaum muda mungkin mengajukan keberatan lain, &#8220;Aku belum lama memakai jilbab dan masih banyak dosa yang menghalangiku untuk mendakwahi teman-temanku.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi jangan jadikan dosa Anda sebagai penghalang untuk berdakwah. Allah SWT berfirman, &#8220;Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu sendiri). (QS Al Baqarah : 44) Yang dilarang oleh ayat itu adalah melupakan diri sendiri. Akan tetapi kapan waktunya berdakwah menjadi haram? Yaitu ketika Anda menyuruh orang lain berbuat kebaikan sementara Anda tidak berusaha mengerjakannya. Sebagai contoh, seseorang belum bisa ghaddul bashar (menundukkan pandangannya) dan ia melihat orang lain tidak menundukkan pandangannya. Apakah harus melarangnya atau tidak? Tentu saja harus melarangnya. Katakan kepada orang itu, &#8220;Hai Fulan, tundukkan pandanganmu&#8221;, dan katakan kepada diri Anda sendiri, &#8220;Ya Allah, saksikanlah, mulai detik ini aku akan menjaga pandanganku.&#8221;Â </p>
<p>Berdakwah sesungguhnya membantu Anda dalam memperbaiki diri Anda sendiri. Andalah yang lebih dahulu mengambil manfaat darinya. Oleh karena, jika ingin memperbaharui iman, berdakwahlah! Setahap demi setahap keimanan itu akan kembali terbaharui.Â </p>
<p>Imam Ibnu Taimiyah berkata, &#8220;jangan sekali-kali kalian berkata, &#8220;Aku tidak akan berdakwah sampai keimananku betul-betul sempurna.&#8221; Sesungguhnya orang itu dihadapkan kepada dua pilihan. Bisa jadi suatu hari nanti ia akan mengatakan &#8220;Imanku telah sempurna,&#8221; ketahuilah bahwa dengan berkata seperti itu, sesungguhnya ia telah atau ia akan menemui ajalnya sementara imannya belum juga sempurna.&#8221;Â </p>
<p>Bagaimana solusinya? Berdakwahlah dengan keimanan Anda apa adanya. Menyebarkan Islam adalah tanggung jawab kita semua. &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan merobah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri&#8221; (QS Ar Ra&#8217;d: 11)Â </p>
<p>Islam tidak akan tampil memimpin dengan pedang, senjata dan perang. Islam hanya akan jaya dengan apa yang telah Rasulullah SAW rintis. Beliau dahulu seorang diri di muka bumi kemudian mencari pendamping. Mulailah Rasulullah SAW mendakwahi Abu Bakar ra. Mereka berdua eksis dan teguh di tengah-tengah msayarakat kafir ketika itu. Bagaimana dengan Anda? Bukankah satu seperempat milyar penduduk bumi ini sudah beridentitas muslim?</p>
<p>Abu Bakar masuk Islam dan berhasil merekut 7 orang lainnya. Dari 7 orang bertambah menjadi 70 orang. Enam orang penduduk Madinah mendatangi Rasulullah SAW, mereka berjanji, &#8220;Tahun depan kami akan kembali.&#8221; Mereka pun kembali tahun berikutnya sebanyak 12 orang. Satu tahun setelah itu jumlah mereka mencapai 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Nabi SAW menyuruh mereka kembali,&#8221; Pulanglah dan aku akan menemui kalian tahun depan.&#8221; Pada tahun yang dijanjikan itu, Nabi berhijrah dan tak satu rumah pun yang tersisa kecuali seluruh penghuninya telah memeluk Islam.</p>
<p>Permasalahannya mudah dan sederhana. Ajak dan gugahlah orang disamping Anda dengan keimanan Anda apa adanya!Â </p>
<p>&#8220;Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih (diantara kamu) bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.&#8221; (QS An Nur: 55)Â </p>
<p>(Romantika Yusuf, Amru Khalid, Maghfirah Pustaka, 2004)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/09/08/sedikit-ilmu-bukan-penghalang-untuk-berdakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keras Hati</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/keras-hati/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/keras-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 06:50:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/keras-hati/</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Kemudian setelah itu hati kalian mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya lagi ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Kemudian setelah itu hati kalian mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya lagi ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al-Baqarah [2]: 74).</p>
<p><span id="more-176"></span>Menurut Ibn Abbas, ayat tersebut turun berkaitan dengan sikap Bani Israil yang keras kepala dan keras hati. Dalam memaknai ayat tersebut Al-Qurtubi menyatakan hati manusia bisa mengeras melebihi kerasnya batu karena keringnya hati dari inabah (kembali ke jalan Allah), zikir, dan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Allah, baik yang ada dalam Alquran maupun alam raya.</p>
<p>Jika bebatuan yang ada di pegunungan saja menjadi mata air, maka sudah semestinya hati manusia dilatih dan dicerdaskan menjadi oase kehidupan spiritual. Hati yang keras adalah hati yang tidak lagi berfungsi sebagai sumber kekhusyukan, kelemahlembutan, dan kasih sayang.Â </p>
<p>Kekerasan hati merupakan sumber kesengsaraan hidup. Dari Anas RA Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Ada empat sebab kesengsaraan, yaitu kebekuan mata, kekerasan hati, kepanjangan angan-angan, dan ketamakan terhadap dunia.&#8221; (HR al-Bazzar).</p>
<p>Kekerasan hati itu sangat berbahaya karena tidak hanya membutakan akal pikiran dan memperturutkan hawa nafsu, tetapi juga mendangkalkan akidah, bahkan menyesatkan diri dari petunjuk Allah. &#8221;Kecelakaan besarlah orang-orang yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.&#8221; (QS Al-Zumar [39]: 22).</p>
<p>Terapi yang efektif untuk penyakit kekerasan hati, menurut Mutawalli Al-Sya&#8217;rawi, adalah banyak beristighfar kepada Allah, dan membiasakan diri membaca Alquran. Selain itu juga memperbanyak amalan sunah di samping mematuhi amalan wajib serta menjahui segala bentuk kemaksiatan, kemunkaran, dan hal-hal yang berbau syubhat.Â </p>
<p>Jika perut telah diisi dengan halal, akal digunakan untuk berpikir positif, dan indera didayagunakan untuk kebaikan, niscaya kekerasan hati tidak terjadi. Karena itu, setelah memperoleh hidayah, kita perlu menjaga hati agar tidak ternodai oleh syirik dan kemaksiatan, sehingga hati tetap teguh dan khusyuk dalam ketaatan. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab.Â </p>
<p>(Muhbib Abdul Wahab )</p>
<p>Sumber : republika.co. id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/keras-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kandungan Cinta dalam Ukhuwah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/kandungan-cinta-dalam-ukhuwah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/kandungan-cinta-dalam-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 06:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/kandungan-cinta-dalam-ukhuwah/</guid>
		<description><![CDATA[KotaSantri.com : Perasaan cinta adalah fitrah manusia. Tak heran apabila sepanjang hidupnya manusia tidak bisa terlepas dari perkara tersebut. Cinta adalah warna dunia. Dan cinta yang tulus, murni terlahir dari dasar hati yang paling dalam, bukan niscaya bisa menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka.
Cinta yang tulus dan hakiki berlandaskan cinta kepada Allah. Dari Anas RA, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KotaSantri.com : Perasaan cinta adalah fitrah manusia. Tak heran apabila sepanjang hidupnya manusia tidak bisa terlepas dari perkara tersebut. Cinta adalah warna dunia. Dan cinta yang tulus, murni terlahir dari dasar hati yang paling dalam, bukan niscaya bisa menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka.</p>
<p>Cinta yang tulus dan hakiki berlandaskan cinta kepada Allah. Dari Anas RA, bahwasannya Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;Ada tiga perkara yang barangsiapa dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tidak lain hanya karena Allah; dan enggan kembali pada kekafiran setelah diselamatkan Allah, sebagaimana dia tidak ingin kalau tubuhnya dicampakkan ke dalam kobaran api.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><span id="more-175"></span>Persaudaraan adalah buah akhlaqul karimah, dan tafarruq (perselisihan) adalah buah dari kerendahan pekerti. Akhlak yang bagus membuahkan rasa saling cinta, saling sayang, dan saling memberikan manfaat. Itulah sebabnya, cinta melahirkan ukhuwah. Ukhuwah yang telah dimanifestasikan begitu syahdu melalui kisah persahabatan Bilal, Amar, dan Zaid, atau Umar, Ali, dan Utsman, yang bersanding dan saling mencintai karena Allah. Kasih sayang di antara mereka merupakan gambaran janin ukhuwah yang terkandung dalam perut iman, terlahir dari ibu yang bernama &#8216;iman&#8217;.</p>
<p>Ukhuwah berarti bersatunya hati-hati yang ruhnya terikat dengan ikatan akidah. Tak heran apabila persaudaraan merupakan salah satu bentuk keimanan yang terikat oleh akidah yang amat kuat. Sedang perpecahannya adalah gambaran kekufuran, yang menempatkan keimanan dan kasih sayang dalam tempat yang hina. Oleh karena itu, manusia yang benar fikrahnya adalah manusia yang melihat saudaranya lebih utama dibanding dirinya sendiri. Jika perkara ini terjadi, ukhuwah akan terasa sangat indah, nikmat, dan manis.</p>
<p>Persaudaraan dan saling mencintai kerana Allah adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam agama kita. Siapapun yang berupaya mewujudkannya, tiada hadiah lain baginya kecuali surga. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barangsiapa bersaudara dengan seseorang karena Allah, maka Allah mengangkatnya satu derajat di surga, yang tidak didapatnya dengan sesuatu amalan lainnya.&#8221;</p>
<p>Ibnu Jarir pun meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dari Ibnu &#8216;Abbas RA, ia berkata, &#8220;Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah, dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah akan mudah diperolehnya. Seorang hamba tidak akan menemukan nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shaum, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun perkara itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka.&#8221;</p>
<p>Cinta seorang Mukmin adalah kekuatan. Ia bagaikan perekat yang mengikat batu kokoh kaum muslimin, dalam sebuah bangunan yang kukuh dan tidak mudah roboh. Allah SWT berfirman, &#8220;Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.&#8221; (QS. Al-Hujurat : 10).</p>
<p>Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Mukmin yang satu terhadap Mukmin yang lain itu bagaikan bangunan yang mengikat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya.&#8221; (HR. Muttafaqun &#8216;Alaih).</p>
<p>Persaudaraan Islam bukanlah masalah sampingan dalam agama Islam, ia merupakan salah satu prinsip dasar yang menyertai syahadah (persaksian) terhadap keesaan Allah dan kesaksian terhadap kerasulan Muhammad SAW. Persaudaraan merupakan buah dan konsekuensi keimanan yang amat sangat indah. Karena itu, kita harus sama-sama yakin bahwa keindahanNya qadim, keagunganNya tinggi, kekuasaan dan penguasaanNya Mahadahsyat, keindahanNya berpadu dengan kemuliaan, keagunganNya berpadu dengan keluhuran, kebesaranNya tidak pernah berakhir, keindahanNya mempesona hati, keagunganNya meningkatkan cinta. Sungguh, tiada cinta yang hakiki kecuali cintaNya kepada kita sebagai makhlukNya, dan cinta kita kepadaNya. Adakah kita sadar akan semua itu? (Penulis : Anak Ummi)</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>Sumber : kotasantri.com<br />
Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/kandungan-cinta-dalam-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerja Keras</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/28/kerja-keras/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/28/kerja-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 03:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/28/kerja-keras/</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.&#8221; (QS Aljumu&#8217;ah [62]: 10)
Ayat di atas menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi ini. Rezeki, meski sudah diatur-Nya, tidak akan datang sendiri menghampiri kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.&#8221; (QS Aljumu&#8217;ah [62]: 10)</p>
<p>Ayat di atas menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi ini. Rezeki, meski sudah diatur-Nya, tidak akan datang sendiri menghampiri kita tanpa ada usaha untuk memperolehnya. Perintah bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki mengandaikan sebuah usaha maksimal, kerja keras disertai ketekunan dan sikap tawakal kepada Allah SWT.</p>
<p><span id="more-166"></span>Islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Bahkan dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW pernah menegaskan, &#8221;Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardhu.&#8221; (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)</p>
<p>Jika kerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban seorang Muslim setelah ibadah fardhu, masihkah kita merasa menjadi Muslim yang baik, ketika dalam jiwa kita masih tersimpan sikap malas dan tidak mau berusaha?</p>
<p>Selayaknya, ketika ibadah fardhu telah ditunaikan, kita tempa diri kita dengan cucuran keringat karena bekerja keras. Hanya dengan cara inilah, kita bisa bangga dan menunjukkan kalau kita benar-benar seorang Muslim sejati. Seorang Muslim yang sanggup menghadapi hidup dengan penuh semangat juang yang tinggi, meyakini rezeki Allah sangat berlimpah dan disediakan bagi siapa saja yang mau berusaha menggapainya dengan bimbingan-Nya.</p>
<p>Kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain menunjukkan jiwa serta kepribadian seorang Muslim, juga merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.&#8221; (HR Ahmad)</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada ruang bagi sikap malas dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, mencari karunia Allah di muka bumi ini dengan sikap gagah, sabar, dan pantang menyerah. Di sinilah letak &#8216;izzah&#8211;kehormatan, harga diri, sekaligus jati diri&#8211;seorang Muslim.</p>
<p>Sebaliknya, sikap berpangku tangan, selalu mengharapkan bantuan orang lain, pasrah terhadap keadaan, tidak berusaha mengubah ke arah yang lebih baik menunjukkan kerendahdirian serta kehinaan seseorang. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab.Â (Didi Junaedi HZ )Â </p>
<p>Sumber : www.republika.co. id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/28/kerja-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Sini, Di Dalam Jiwa Ini</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/07/28/di-sini-di-dalam-jiwa-ini/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/07/28/di-sini-di-dalam-jiwa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 03:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/07/28/di-sini-di-dalam-jiwa-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhammad Nursani
Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku (Wahib bin Wurd)
Saudaraku,
Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi jujur saja, kita masih lebih sering gagal unutk menunaikannya. Seperti juga keburukan. Kita tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Muhammad Nursani</p>
<p>Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku (Wahib bin Wurd)</p>
<p>Saudaraku,<br />
Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi jujur saja, kita masih lebih sering gagal unutk menunaikannya. Seperti juga keburukan. Kita tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas kendali mengawal diri sendiri.</p>
<p><span id="more-165"></span>Sulit mengatasi kecenderungan yang berulangkali mengajak pada suasana yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada di dalamnya. Entahlah, seolah ada kekuasaan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita. Itulah inti masalah yang kita hadapi. Kita kerap gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Tepat, seperti ungkapan orang-orang bijak, â€œMusuh kita adalah diri kita sendiri.â€œ</p>
<p>Padahal kemampuan mengendalikan diri, menurut Rasulullah saw adalah parameter seseorang untuk bisa disebut kuat atau lemah. â€œOrang yang kuat itu bukan orang yang menang dalam pertarungan, tapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya.â€œ</p>
<p>Amru bin Ahtam, seorang ulama di kalangan Tabi`in, menyebut orang yang mampu menundukkan nafsunya dengan istilah `asyja`u rajul, atau orang yang paling berani. Ia pernah ditanya oleh Mu`awiyah ra, â€œSiapa orang yang paling berani?â€œ Amru bin Ahtam menjawab, â€œOrang yang bisa menolak kebodohan dirinya dengan sikap lapang dada yang dimilikinya. Dialah orang yang paling berani.â€œ (Al Hilm, Ibnu Abi Dunia, 31)</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman pada kita.<br />
Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan pada diri sendiri? Jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas berbeda dengan perang zahir. Musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu dayanya bisa diidentifikasi lewat akal dan penglihatan kita. Tapi musuh batin sungguh jauh berbeda.</p>
<p>Dalam beberapa sisi, perang melawan batin bahkan jauh lebih hebat dibanding perang zahir. Alasannya, medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri. Serangan, tikaman dan ledakannya bisa terjadi dalam diri kita, setiap waktu dan bisa bertubi-tubi. Walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya sangat berbahaya. Justru, kebanyakan orang yang mampu mengalahkan musuh zahir, ternyata gagal mengalahkan musuh batinnya sendiri. Ia tak mampu menundukkan hawa nafsunya sendiri.</p>
<p>Saudaraku,<br />
Kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang sulit dideteksi. Seorang pemuda pernah bertanya pada Ustadz Fathy Yakan, juru dakwah terkenal asal Jordania. â€œSaya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya,â€œ kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya supaya tidak terjerumus pada sikap riya.</p>
<p>Ustadz Fathy Yakan menjawab, â€œSiapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh bisikan riya`? Kita manusia. Semua kita mengalaminya.â€œ Ia lantas mengutip sebuah hadist Rasulullah saw, â€œAndai manusia tidak melakukan kesalahan niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka.â€œ (HR Muslim dan Ahmad).</p>
<p>Tentu saja, hadist itu tidak untuk menyepelekan sebuah dosa, termasuk riya. Tapi hadist itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan perbaikan dan taubat. Fathy Yakan mengatakan, â€œIbadah dan amal kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari terapi yang ampuh atas dosa yang engkau lakukan.â€œ</p>
<p>Saudaraku,<br />
Perhatikanlah bagaimana jawaban Rasulullah yang sangat jelas tatkala ada seorang pemuda bertanya padanya, â€œYa Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang yang melakukan shalat malam, tapi di waktu siang ia mencuri?â€œ Apa jawab Rasulullah? â€œAmaluhu yanhahu amma taquulu,â€œ amal ibadahnya akan menghalanginya dari mencuri. Singkat sekali.<br />
Jawaban ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang salafushalih tatkala seseorang bertanya kepadanya, â€œMana yang lebih baik apakah saya melakukan sujud tilawah namun orang-orang melihat saya dan saya khawatir riya, atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?â€œ Orang shalih itu menjawab, â€œLakukan sujud tilawah dan lawan bisikan syaitan dalam dirimu.â€œ</p>
<p>Saudaraku,<br />
Apa inti jawaban para ulama terhadap rongrongan hawa nafsu itu? Lawan. Jangan pernah menyerah terhadap dorongan negatif hawa nafsu. Ini adalah perang yang tak pernah usai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi amal ibadah, berarti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlindungan Allah swt. Artinya, seseorang akan cenderung terpuruk lebih jauh dari apa yang dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah kesesatan, bukan jalan hidayah.</p>
<p>Semoga Allah menghindarkan kita semua dari pilihan seperti itu&#8230;.</p>
<p>Saudaraku,<br />
Tentu saja kita harus tetap memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita terjerumus pada suatu dosa. Ini penting karena menurut Hasan Al Bashri, â€œSeorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui apa yang merusak amal-amalnya.â€œ Ini adalah awal cara untuk mengobati semua masalah, yakni dengan mengetahui sebabnya. Bahkan ini juga merupakan salah satu bagian dari terapi kesalahan kita. Itulah yang diutarakan oleh Wahib bin Wurd, â€œInna min shalahi nafsi, ilmii bifasaadihaa..â€œ Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku.</p>
<p>Duhai, betapa indah dan bijaknya nasihat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ra, â€œHati ini terkadang memiliki kecenderungan menerima dan terkadang menolak. Bila ia dalam kondisi menerima, ajak ia untuk melakukan ibadah yang sunnah. Tapi bila ia dalam kondisi menolak, ajak dia untuk melakukan yang wajib saja. Sampai kondisi menolak itu hilang, ajaklah kembali ia melakukan yang sunnah.â€œ</p>
<p>Saudaraku,<br />
Genderang perang itu telah lama bertalu di sini, di dalam jiwa kita ini. Bersiap siagalah selalu.</p>
<p>(Dikutip dari Mencari Mutiara di Dasar Hati, Catatan Perenungan Ruhani, Ust. Muhammad Nursani)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/07/28/di-sini-di-dalam-jiwa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Nikmat Berubah Menjadi Azab</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/17/ketika-nikmat-berubah-menjadi-azab/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/17/ketika-nikmat-berubah-menjadi-azab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 13:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/17/ketika-nikmat-berubah-menjadi-azab/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hanif Yahya Asy&#8217;ari, Lc
Betapa banyak dan besar nikmat yang telah Allah subhanahu wata&#8217;ala anugerahkan kepada kita. Oleh karena itu, sepantas nyalah kita mensyukuri hal itu. Namun ada kalanya manusia lupa setelah dianugerahi nikmat-nikmat tersebut lalu menjadi kufur. Bila demikian halnya, dapatkah nikmat tersebut berubah menjadi azab dan bencana? Kapan dan bagaimana? Mengapa para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Hanif Yahya Asy&#8217;ari, Lc</p>
<p>Betapa banyak dan besar nikmat yang telah Allah subhanahu wata&#8217;ala anugerahkan kepada kita. Oleh karena itu, sepantas nyalah kita mensyukuri hal itu. Namun ada kalanya manusia lupa setelah dianugerahi nikmat-nikmat tersebut lalu menjadi kufur. Bila demikian halnya, dapatkah nikmat tersebut berubah menjadi azab dan bencana? Kapan dan bagaimana? Mengapa para pelaku dosa dan maksiat, khususnya orang-orang kafir hidup dalam kesenangan seakan seisi dunia dan segala jenis kebaikan tumpah ruah untuk mereka? Lalu bagaimana nikmat bisa hilang dari genggaman seorang Mukmin.?</p>
<p><span id="more-100"></span><strong>Nikmat Berubah Menjadi Azab dan Bencana </strong></p>
<p>Bila ditanyakan, &#8220;Dapatkah nikmat berubah menjadi azab dan bencana? Maka jawabannya secara pasti, &#8216;Ya.!&#8217;. Sedangkan kapan dan bagaimana? Maka hal itu dapat terjadi bila kita tidak pernah bersyukur kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala.</p>
<p>Oleh karena itu, di antara doa yang sering diajarkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah doa yang artinya, &#8220;Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat, dari azab yang datang tiba-tiba, berubahnya keselamatan yang diberikan oleh-Mu dan dari semua kemurkaan-Mu. &#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, &#8220;Sesungguhnya Allah subhanahu wata&#8217;ala memberikan kesenangan dengan nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki; bila mereka tidak bersyukur, maka Dia akan membalikkannya<br />
menjadi adzab.&#8221;</p>
<p>Abu Hazim rahimahullah berkata, &#8220;Setiap nikmat yang tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala, maka ia adalah bencana.&#8221;</p>
<p>Nikmat akan abadi bila disertai dengan rasa syukur dan keta&#8217;atan sedangkan ia akan hilang karena perbuatan-perbuatan maksiat, keji dan pembangkangan terhadap Allah subhanahu wata&#8217;ala. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, &#8220;Kaitkanlah nikmat-nikmat Allah subhanahu wata&#8217;ala dengan ungkapan rasa syukur kepada-Nya.&#8221;</p>
<p><strong>Syubhat Pelaku Dosa dan Maksiat </strong></p>
<p>Terkadang ada orang yang berkata, mengapa kita selalu melihat orang-orang fasiq yang bergelimang dosa dan maksiat dilimpahkan kepada mereka kesenangan dunia dan seisinya, kebaikan mengalir deras kepada mereka.? Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, mari kita dengar penjelasan Sayyid asy-Syakirin (penghulu orang-orang yang pandai bersyukur) dan imam orang-orang yang bersabar, Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Beliau bersabda, &#8220;Bila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dunia dan apa yang ia sukai, padahal ia melakukan berbagai perbuatan maksiat,<br />
maka itu hanyalah &#8216;Istidraj&#8217; (perdaya) dari-Nya.&#8221; (HR. Ahmad dan al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ketika mengomentari firman-Nya, artinya, &#8220;Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur&#8217;an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.&#8221; (QS. al-Qalam: 44). Sufyan rahimahullah berkata, &#8220;Yakni melimpah kan beragam nikmat kepada mereka dan menghalangi mereka untuk bersyukur.&#8221;</p>
<p>Demikian juga firman Allah subhanahu wata&#8217;ala dalam surat Hud, ayat 102, artinya : â€Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.&#8221;</p>
<p>Allah subhanahu wata&#8217;ala memperdaya orang yang membangkang dan berpaling, meng ulur-ulur baginya akan tetapi Dia tidak pernah melalaikannya! Jadi, nikmat berubah menjadi azab dan bencana, kemenangan berubah menjadi kekalahan dan kegembiraan berubah menjadi kesedihan bila kita tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala dengan sebenar-benar nya atau sesuai dengan kemampuan.!</p>
<p><strong>Bagaimana Nikmat Dapat Hilang? </strong></p>
<p>Nikmat hilang karena beberapa hal:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, Perbuatan maksiat dan dosa, membalas nikmat dengan hal yang membuat Allah subhanahu wata&#8217;ala menjadi murka. Bila mendapat nikmat Allah subhanahu wata&#8217;ala, maka jagalah sebab perbuatan maksiat dapat menghilangkan nikmat. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur&#8217;an dan hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang menegaskan hal itu, di antaranya, firman-Nya, artinya :</p>
<p>&#8220;Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8221; (QS. ar-Rum: 41). Dan firman-Nya, artinya, &#8220;Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri&#8221; (QS.an-Nisa&#8217; :79). Dan ayat-ayat lainnya.</p>
<p>Apakah termasuk bersyukur kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala atas nikmat ilmu, misalnya, jika menyembunyikannya, tidak mengajarkannya kepada manusia dan tidak mengamalkannya? Apakah termasuk bersyukur kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala atas nikmat kesehatan, mengerahkan segenap tenaga dan upaya dalam hal-hal yang diharamkan? Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8220;Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum kematianmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu dan masa kayamu sebelum masa tuamu.&#8221; (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi, dishahihkan Syaikh al-Albani).</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, bila kamu menisbatkan nikmat tersebut kepada selain Allah subhanahu wata&#8217;ala, Sang Pemberi nikmat. Hal ini sebagai mana yang terjadi terhadap Qarun ketika ia menisbatkan nikmat kepada dirinya dan ilmunya melalui firman Allah subhanahu wata&#8217;ala, artinya : &#8220;Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.&#8221; (QS. al-Qashash: 76).</p>
<p>Lalu apa akibatnya? Allah subhanahu wata&#8217;ala berfirman dalam ayat-ayat selanjutnya, yang artinya, &#8220;Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya<br />
terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).&#8221; (QS.al-Qashash: 81).</p>
<p>Tidak boleh menisbatkan nikmat kepada selain Allah subhanahu wata&#8217;ala. Hal ini seperti yang dikatakan oleh al-Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah bahwa itu termasuk kekufuran dan Juhud (ingkar) kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala sebagaimana firman-Nya, yang artinya, &#8220;Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya. &#8221; (QS. an-Nahl: 83).</p>
<p>Contoh lain dari ucapan yang tidak mencerminkan kesyukuran adalah ucapan orang-orang awam, &#8220;Andaikata bukan karena si fulan, pastilah tidak terjadi seperti ini.&#8221; &#8220;Kalau bukan karena kekuatan dan perbekalan kita, pastilah<br />
begini dan begitu.&#8221; &#8220;Kita meraih kemenangan sebab pasukan kita kuat dan terlatih&#8221;, dan ucapan semisalnya. (Taisir al-&#8217;Aziz al-Hamid, hal.583-585)</p>
<p>Dalam hal ini, tidak apa-apa, -bahkan selayaknya- berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita atau menjadi sebab kita mendapatkan nikmat atau terhindar dari bencana dengan mengatakan kepadanya, &#8220;Jazakallahu khaira, (Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu).&#8221; Jika ia seorang Muslim, kita berdo&#8217;a untuknya dan berbuat baik kepadanya serta berterimakasih kepadanya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, &#8220;&#8216;Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih kepada manusia.&#8221; (Shahih al-Jami&#8217;, 7719).</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, bila seorang hamba ditimpa sifat Ghurur (percaya diri yang berlebihan) atau sombong dan congkak terhadap makhluk lain karena memiliki harta yang banyak, properti, ilmu, kedudukan dan sebagainya. Allah subhanahu wata&#8217;ala berfirman, artinya : &#8220;Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkan nya.&#8221; (QS. al-Humazah: 1-3)</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, bila kamu tidak pernah memenuhi hak Allah subhanahu wata&#8217;ala atas nikmat tersebut. Bila kita memiliki ilmu, maka kita harus mengajarkannya; jika kita memiliki harta, maka kita harus menginfakkannya.</p>
<p>Allah subhanahu wata&#8217;ala berfirman : &#8220;Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).&#8221; (QS. al-Ma&#8217;arij: 24-25)Â </p>
<p>Oleh karena itu, seperti di dalam kitab ash-Shahih, dua malaikat berdoa setiap harinya dengan doa, &#8220;Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak pengganti dan berikanlah kepada orang kikir kehancuran.&#8221; (HR.al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Bila diberi kesehatan dan afiat, maka kita harus memanfaatkannya untuk berdakwah dan berjihad. Demikian seterusnya, kita mengekspresikan rasa syukur atas setiap anggota badan kita semampu kita.</p>
<p>(Buletin An-Nur. Sumber: Serial Kumpulan Khutbah Jum&#8217;at, penyusun Dr. Sulaiman bin Oadah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/17/ketika-nikmat-berubah-menjadi-azab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
