Archive for the 'Siroh Nabawiyah' Category

Tahapan Dakwah II : Dakwah secara Terang-terangan (Bag. I)

Pertama-tama Menampakkan Dakwah

Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah, “Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’ara’ : 214).

Permulaan surat Asy-Syu’ara’ yang memuat ayat ini menyebutkan kisah Musa Alaihis-Salam dari permulaan Nubuwah hingga hijrah beliau bersama Bani Israel, hingga mereka selamat dari Fir’aun dan kaumnya, yang berkesudahan tenggelamnya Fir’aun dan para pengikutnya. Kisah ini memuat tahapan-tahapan yang dilalui Musa selama menyeru Fir’aun dan kaumnya kepada Allah.

Read the rest of this entry »

Tahapan Dakwah I (Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi) : Jihad untuk Berdakwah

Tiga Tahun Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi

Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama Bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh Bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan keras yang tidak dapat diguncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah memulai dakwah dengan sembunyi-sembunyi, agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.

Read the rest of this entry »

Ikhtila’ (Menyendiri) di Gua Hira

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw kecendrungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di Gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’-nya di gua Hira’. Demikianlah Nabi saw terus melakukannya sampai turun kepadanya wahyu ketika beliau sedang ‘uzlah.

Read the rest of this entry »

Keikutsertaan Nabi saw dalam membangun Ka’bah

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Ka’bah adalah “rumah” yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi “perang berhala” dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang di dirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdoa), “Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 127).

Read the rest of this entry »

Perniagaan Rasulullah saw dengan harta Khadijah ra dan pernikahannya dengan Khadijah ra

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saw dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania).

Read the rest of this entry »

Perjalanan Rasulullah saw yang pertama ke Syam dan Usahanya mencari Rezeki

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saw diajak pamannya, Abu Thalib pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui injil dan ahli tentang maslaah-maslaah kenasranian.

Kemudian Bahira melihat Nabi saw. Lalu ia mulai mengamati Nabi dan mengajak berbicara. Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Anakku (Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan panggilan anak karena kecintaannya yang mendalam).” Bahira bertanya kepadanya, “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata, “Dia dalah anak saudaraku.” Bahira bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh Ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Dia meninggal ketika Ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.” Kemudia Abu Thalib cepat-cepat membawa kembali ke Makkah.

Read the rest of this entry »

Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus

Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka’bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil.

Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim.

Ibu beliau adalah Aminah bintu Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Setelah ibunya melahirkan, ia mengirim beliau kepada kakeknya. Ibunya memberikan kabar gembira kepada sang kakek dengan kelahiran cucunya. Maka kakeknya datang dengan menggendong-nya. Sang kakek memasuki Ka’bah bersama beliau. Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad.

Read the rest of this entry »

Sirah Nabawiyah

Oleh : DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

MUQADDIMAH

A. Pentingnya Sirah Nabawiyah untuk memahami Islam

Tujuan dalam mengkaji Sirah Nabawiyah ialah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin didalam kehidupan nabi Muhammad saw, setelah dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Yang dapat diperinci sebagai berikut :

Read the rest of this entry »

Mencermati Angka-Angka Dalam Dakwah Rasulullah SAW

Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Ada banyak orang yang momok dengan angka-angka. Mungkin karena semenjak Sekolah Dasar, ia telah “dicekoki” dengan Matematika yang sering diplesetkan menjadi mati-matian. Mungkin juga karena angka sangat terkait dengan uang, dan ternyata, ia gampang-gampang susah didapatnya, bahkan lebih sering susah dan sulitnya. Mungkin juga keseringan menghitung angka-angka, akan tetapi tidak pernah ada wujud dan hasilnya. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.  

Read the rest of this entry »

Keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99 – 102 H / 724 – 743 M)

Pidato beliau saat dibai’at oleh kaum muslimin: “Wahai manusia, barang siapa menaati Allah, maka dia wajib ditaati, dan barang siapa bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan baginya.”

Read the rest of this entry »