<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tauziyah.com &#187; Siroh Nabawiyah</title>
	<atom:link href="http://tauziyah.com/tags/sejarah-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tauziyah.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian</title>
		<link>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 18:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibroh]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu &#8216;anhu, Sosok Pejuang Sendirian Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Abu Dzar Al Ghifari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Sosok Pejuang Sendirian</strong></p>
<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi&#8217;at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi&#8217;at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.</p>
<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah <strong>Jundub bin Junadah Al Ghifari</strong> dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.</p>
<p>Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.</p>
<p>Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya&#8217;ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya&#8217;ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya&#8217;ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.</p>
<p>Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka&#8217;bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis.</p>
<p>Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau shalallahu <em>alaihi wa sallam</em>, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Dia hanya menanti dan menanti di Ka&#8217;bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.</p>
<p>Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka&#8217;bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka&#8217;bah tanpa bercerita panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di Ka&#8217;bah dan segera menanyainya : “Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”. Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa wasallam</em> dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> berwasiat kepadanya : “Wahai Abu Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.</p>
<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.</p>
<p>Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka&#8217;bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.</p>
<p>Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka&#8217;bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.</p>
<p>Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda&#8217;wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi&#8217;ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.</p>
<p>Hijrah Ke Al Madinah :</p>
<p>Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Sehingga Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.</p>
<p>Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em>. Maka beliau langsung menasehatinya :</p>
<p>(tulis hadisnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad 3 / 164)</p>
<p>“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu alaihi wa sallam</em> pernah berpesan kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya&#8217; 1 / 162)</p>
<p>“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. HR. Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.</p>
<p>Asma&#8217; bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, dia beristirahat di masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab : Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu. Kemudian Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bertanya lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab : Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah. Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457.</p>
<p>Disamping berbagai wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :</p>
<p>(tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 161).</p>
<p>“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Abu Dzar berjuang sendirian :</p>
<p>Setelah wafatnya Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>, Abu Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad <em>shalallahu alaihi wasallam</em> disamping kebenciannya kepada segala bentuk kebid&#8217;ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>). Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin. Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi sebagaimana yang beliau ceritakan : (artinya) “Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rasulullah) dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku. Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159.</p>
<p>Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya&#8217;ni duduk bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : Beri kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.</p>
<p>Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu Dzar.</p>
<p>Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) <em>shalallahu alaihi wasallam</em> pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.</p>
<p>Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan beliau : Aku melihatnya.</p>
<p>Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga dinar (untuk keperluanku).</p>
<p>Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.</p>
<p>Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian harta mereka.</p>
<p>Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”.</p>
<p>Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 &#8211; 1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35.</p>
<p>Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram. Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em> yang mulai makmur hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut :</p>
<p>“Ketika Abu Musa Al Asy&#8217;ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek. Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !!</p>
<p>Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”.</p>
<p>Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.</p>
<p>Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Tidak.</p>
<p>Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”. Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.</p>
<p>Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> kepadanya :</p>
<p>(tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad jilid 3 hal. 162)</p>
<p>“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati”. HR. Ibnu Sa&#8217;ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162.</p>
<p>Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> di hari kiamat kelak.</p>
<p>Meninggal dunia di tempat pengasingan :</p>
<p>Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat Nabi <em>shalallahu alaihi wasallam</em>. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu anhu</em>. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu anhu</em>. Maka Mu&#8217;awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta&#8217;ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan. Abu Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu&#8217;minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu&#8217;minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau : “Wahai Amirul Mu&#8217;minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”.</p>
<p>Maka Amirul Mu&#8217;mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau : “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.</p>
<p>Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur&#8217;an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu&#8217;minin dan di sana ada Ka&#8217;ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan Abdurrahman bi A&#8217;uf. Maka Amirul Mu&#8217;minin bertanya kepada Ka&#8217;ab : Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang mengumpulkannya. Maka Ka&#8217;ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.</p>
<p>Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka&#8217;ab dengan tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada Ka&#8217;ab : Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman : (artinya)”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya”. S. Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu&#8217;minin itu memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. S. Ad Daher (dinamakan juga S. Al Insan) ayat ke 8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur&#8217;an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya.</p>
<p>Melihat kejadian itu, Amirul Mu&#8217;minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. Juga Amirul Mu&#8217;minin meminta kepada Ka&#8217;ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka&#8217;abpun akhirnya memaafkannya.</p>
<p>Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya. Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau menangis ?”.</p>
<p>Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.</p>
<p>Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah <em>shalallahu alaihi wasallam</em> bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu&#8217;minin”.</p>
<p>Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.</p>
<p>Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.</p>
<p>Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan itupun menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu&#8217;minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.</p>
<p>Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”.</p>
<p>Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubbahmu itu”.</p>
<p>Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.</p>
<p>P e n u t u p :</p>
<p>Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah sepeninggalnya. Amirul Mu&#8217;minin Utsman bin Affan amat pilu mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan : “Semoga Allah merahmati Abu Dzar”. Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman bin Affan dalam keluarganya.</p>
<p>Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya, sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan bimbingan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.</p>
<p>Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur&#8217;an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan tentang ilmu Al Qur&#8217;an dan Al Hadits. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada keridho&#8217;anNya.</p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<p>1. Al Qur&#8217;an Al Karim.</p>
<p>2. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.</p>
<p>3. Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Al Imam Abu Zakaria An Nawawi.</p>
<p>4. At Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa&#8217;ad.</p>
<p>5. Hilyatul Awliya&#8217; Wa Thabaqatul Ashfiya&#8217;, Al Hafidl Abu Nu&#8217;aim Al Asfahani.</p>
<p>6. Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;, Al Imam Adz Dzahabi.</p>
<p>7. Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani.</p>
<p>8. Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At tirmidzi.</p>
<p><a href="http://www.alghuroba.org/abudzar.php">http://www.alghuroba.org/abudzar.php</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2011/01/23/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-anhu-sosok-pejuang-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad</title>
		<link>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 23:51:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad Sahabat mulia Umair bin Sa’ad, yatim dan miskin sejak kecil di Madinah. Keadaannya berubah Setelah ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan dari kabilah Aus, bernama Al Julas bin suwaid. Diasuhlah Umair bin Sa’ad oleh Julas layaknya anak sendiri, Umair mendapatkan perhatian penuh dari bapaknya yang baru, sehingga semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad</h2>
<p><a title="Cara Sahabat Membalas Budi, Umair Bin Sa’ad" href="http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html"> </a></p>
<p>Sahabat mulia Umair bin Sa’ad, yatim dan miskin sejak kecil di Madinah. Keadaannya berubah Setelah ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan dari kabilah Aus, bernama Al Julas bin suwaid. Diasuhlah Umair bin Sa’ad oleh Julas layaknya anak sendiri, Umair mendapatkan perhatian penuh dari bapaknya yang baru, sehingga semakin melekat dan tumbuh rasa cinta Umair kepada Julas. Pun demikian Julas semakin bertambah sayang kepada Umair yang beranjak remaja dan terlihat padanya tanda-tanda kecerdasan, kebaikan amal, amanah dan jujur.</p>
<p>Umair masuk islam sejak kecil. Meskipun masih muda belia, ia tidak pernah terlambat untuk sholat dibelakang Rasulullah SAW.</p>
<p>Pada tahun 9 H, Rasulullah SAW mengumumkan perang melawan Romawi di Tabuk, dan memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saat itu musim kemarau, cuaca sangat panas, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada dekat di kebun-kebun mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi yang sulit, ditambah perjalanan yang sangat jauh, dan mengingat musuh yang kuat.</p>
<p>Pada hari dimana pasukan bersiap-siap, kembalilah Umair bin Sa’ad ke rumahnya setelah menunaikan sholat di masjid. Ia melihat wanita-wanita muhajirin yang menyambut seruan Rasul SAW dengan memberikan perhiasan yang mereka punya, ia melihat Utsman bin Affan yang membawakan seransel penuh dengan seribu dinar emas, ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf  yang yang memanggul di pundakknya dua ratus uqiyah dari emas, bahkan ia melihat seorang sahabat yang menjual kasurnya agar bisa membeli pedang untuk berjihad.</p>
<p>Namun ia heran dengan sikap Julas yang tidak ikut serta berlomba-lomba meraih keridhoan Ilahi memenuhi seruan Nabi SAW, padahal ia seorang yang kaya. Bangkitlah Umair bin Sa’ad membangkitkan semangat Julas bin Suwaid dengan menceritakan pemandangan berharga yang telah ia lihat dan ia dengar, terkusus kisah para sahabat yang pulang dengan kesedihan dan tetesan air mata karena tidak dibawa ikut serta dalam pasukan dikarenakan tiada tumpangangan yang dapat membawa mereka.</p>
<p>Akan tetapi Julas tidak begitu tertarik dengan kisah indah yang di ceritakan, hingga mulutnya berucap dengan kalimat yang sampai-sampai Umair mengerutkan dahinya dan akalnya tidak menerimanya. Ia mendengar Julas berkata : “Jikaulau Muhammad benar dengan apa yang disangkanya bahwa ia adalah seorang Nabi maka tentu kami lebih jelek dari keledai”.</p>
<p>Sungguh tercengang dan Umair tak menyangka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Julas, dengan kalimat itu keluarlah keimanan Julas secara keseluruhan dan memasukkannya pada kekafiran.</p>
<p>Umair bin Sa’ad berfikir sejenak, apa yang mesti diperbuatnya, kalaulah diam dan menutupi perkataan Julas berarti berkhianat kepada Allah, RasulNya serta membahayakan Islam dan muslimin. Kalulah di sebarkan apa yang didengarnya seperti tak berterimakasih atas kebaikan Julas; yang telah mencukupi, melindungi bahkan memposisikan seperti anak kandungnya. Dua pilihan yang sama pahit baginya, Namun putusan harus ditetapkan, ia memandang kepada Julas dan berkata : “Demi Allah wahai Julas, tidak ada manusia dimuka bumi ini setalah Rasulullah SAW yang lebih aku cintai dari mu. Bila kusebarkan aku menghinamu, bila kusembunyikan aku berkhianat, tidak amanah dan menghancurkan agamaku, aku akan mengabarkan ini kepada Rasulullah SAW..”</p>
<p>Bergegas Umair ke masjid untuk menemui Nabi dan mengabarkan kejadiannya, kemudian Rasulullah SAW mengutus utusan untuk memanggil Julas, tak berselang lama, datanglah Julas mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan duduk dihadapan Rasul, Umair dan para sahabat yang lain.</p>
<p>Rasul SAW bertanya : “kalimat apakah yang didengar Umair darimu”, Kemudian disebutkan kalimatnya. Dengan meyakinkan ia menjawab : “ia berdusta atasku ya Rasul, tidaklah mungkin aku mengatakan kalimat itu!” serentak beberapa sahabat mengalihkan pandangan matanya kepada Umair dan Julas, mana diantara mereka yang benar dan jujur dengan perkataannya. Lalu Nabi menoleh ke Umair yang wajahnya telah memerah, air matanya menetes dipundak dan dadanya kemudian berdoa : “Ya Allah, turunkan lah kepada Nabi-Mu kejelasan dari apa yang telah ku katakan..”</p>
<p>Julas memperkuat pernyataannya dan berkata : “wahai Rasulullah, apa yang aku katakan adalah suatu kebenaran. kalaulah perlu, aku akan bersumpah dihadapanmu”. Kemudian ia bersumpah tanpa diminta oleh Rosulullah SAW.</p>
<p>Para sabahat tercengang, hingga Rosulullah SAW terdiam tenang dalam keadaan menerima wahyu, setelah terbangun beliau membaca Ayat yang turun :</p>
<p>Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan Perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya[mereka ingin membunuh Nabi Muhammad SAW], dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. At Taubah : 74)</p>
<p>Gemetarlah Julas mendengar ayat yang turun, kemudian menoleh kepada Nabi seraya berkata :”saya bertaubat wahai Rasulullah…saya bertobat., benarlah Umair ya Rasul, sayalah yang berdusta. Pintakan kepada Allah agar menerima taubatku, jadikan saya sebagai tebusamu Ya Rasul.</p>
<p>Nabipun menoleh ke Umair, dilihatnya darah yang berkumpul dikepalanya telah menyebar dan wajahnya pun sudah berseri, tersinari dengan cahaya iman, kemudian tangan Rasul yang mulia memegang telinga Umair dengan halus dan berkata: “benarlah apa yang didengar oleh telingamu wahai anak, dan telah membenarkan Rabmu”.</p>
<p>Kembalilah Julas kepangkuan islam dan ia memperbagus keislamanya. Para sahabat telah mengetahui kebaikan Julas kepada Umair, dan bila disebut umair, julas berkata : semoga Allah membalas kebaikannya atasku, sungguh telah menyelamatkaku dari kekafiran, dan membebaskanku dari Neraka.</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html">http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-saad.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2011/01/22/cara-sahabat-membalas-budi-umair-bin-sa%e2%80%99ad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahapan Dakwah II : Dakwah secara Terang-terangan (Bag. I)</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/11/04/tahapan-dakwah-ii-dakwah-secara-terang-terangan-bag-i/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/11/04/tahapan-dakwah-ii-dakwah-secara-terang-terangan-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 12:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/11/04/tahapan-dakwah-ii-dakwah-secara-terang-terangan-bag-i/</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama Menampakkan Dakwah Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah, â€œDan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.â€ (Asy-Syuâ€™araâ€™ : 214). Permulaan surat Asy-Syuâ€™araâ€™ yang memuat ayat ini menyebutkan kisah Musa Alaihis-Salam dari permulaan Nubuwah hingga hijrah beliau bersama Bani Israel, hingga mereka selamat dari Firâ€™aun dan kaumnya, yang berkesudahan tenggelamnya Firâ€™aun dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertama-tama Menampakkan Dakwah</strong></p>
<p>Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah, â€œDan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.â€ (Asy-Syuâ€™araâ€™ : 214).</p>
<p>Permulaan surat Asy-Syuâ€™araâ€™ yang memuat ayat ini menyebutkan kisah Musa Alaihis-Salam dari permulaan Nubuwah hingga hijrah beliau bersama Bani Israel, hingga mereka selamat dari Firâ€™aun dan kaumnya, yang berkesudahan tenggelamnya Firâ€™aun dan para pengikutnya. Kisah ini memuat tahapan-tahapan yang dilalui Musa selama menyeru Firâ€™aun dan kaumnya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-206"></span>Rincian tahapan-tahapan dakwah Musa ini perlu disampaikan saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyeru kaumnya kepada Allah, agar beliau dan para shahabat memperoleh sedikit gambaran yang bakal dihadapi, yaitu berupa pendustaan dan tekanan selagi mereka sudah menampakkan dakwah. Dengan begitu mereka bisa menyadari urusan sejak permulaan dakwah.</p>
<p>Di sisi lain, surat ini juga memuat kesudahan yang dialami orang-orang yang mendustakan para Rasul, dari kaum Nuh, Ad, Tsamud, Ibrahim, Luth dan Ashhabul-Aikah, dengan menitikberatkan penyebutan kisah tentang Firâ€™aun dan kaumnya, agar orang-orang yang mendustakan mengetahui hukuman yang bakal diturunkan Allah jika mereka tetap mendustakan, dan agar orang-orang yang beriman juga mengetahui kesudahan yang baik bagi mereka, yang tidak akan didapatkan orang-orang yang mendustakan Nubuwah.</p>
<p><strong>Menyeru Kerabat-kerabat Dekat</strong></p>
<p>Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah turun ayat di atas, ialah dengan mengundang Bani Hasyim. Mereka memenuhi undangan ini, yaitu beberapa orang dari Bani Al Muththalib bin Abdi Manaf, yang jumlahnya ada empat puluh lima orang. Sebelum beliau berbicara, Abu Lahab sudah mendahului angkat bicara, â€œMereka yang hadir di sini adalah paman-pamanmmu sendiri dan anak-anaknya. Maka bicaralah jika inginÂ  berbicara dan tidak perlu bersikap kekanak-kanakan. Ketahuilah bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi terhadap kaummu. Dengan begitu aku berhak menghukummu. Biarkanlah urusan Bani Bapakmu. Jika engkau tetap bertahan dengan urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada seluruh kabilah Quraisy menerkammu dan semua bangsa Arab ikut campur tangan. Engkau tidak pernah melihat seorang pun Bani bapaknya yang pernah berbuat macam-macam seperti yang engkau perbuat saat ini.â€</p>
<p>Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan itu. Kemudian beliau mengundang mereka untuk yang kedua kalinya, dan dalam pertemuan itu beliau bersabda, â€œSegala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya, memohon pertolongan, percaya dan tawakal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya.â€ Kemudian beliau melanjutkan lagi, â€œSesungguhnya seorang pemandu itu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum. Demi Allah, kalian benar-benar akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun tidur. Kalian benar-benar dihisab terhadap apa pun yang kalian perbuat, lalu di sana ada surga yang abadi dan neraka yang abadi pula.â€</p>
<p>Abu Thalib berkata, â€œKami tidak suka menolongmu, menjadi penasihatmu dan membenarkan perkataanmu. Orang-orang yang menjadi Bani Bapakmu ini sudah bersepakat. Aku hanyalah segelintir orang di antara mereka. Namun akulah orang yang pertama kali mendukung apa yang engkau sukai. Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku senantiasa akan menjaga dan melindungimu, namun aku tidak mempunyai pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul Muththalib.â€</p>
<p>Abu Lahab berkata, â€œDemi Allah, ini adalah kabar buruk. Ambillah tindakan terhadap dirinya sebelum orang lain yang melakukannnya.â€ Abu Thalib menimpali, â€œDemi Allah kami tetap akan melindunginya selagi kami masih hidup.â€1</p>
<p><strong>Di Atas Bukit Shafa</strong></p>
<p>Setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dan menyampaikan wahyu dari Allah, maka suatu hari beliau berdiri di atas Shafa, lalu berseru, â€œWahai semua orang!â€ Maka semua suku Quraisy berkumpul memenuhi seruan beliau, lalu beliau mengajak mereka kepada tauhid dan iman kepada risalah beliau serta iman kepada hari akhirat.</p>
<p>Al-Bukhary telah meriwayatkan sebagian dari kisah ini, dari Ibnu Abbas, dia berkata, â€œTatkala turun ayat, â€œDan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekatâ€, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam naik ke Shafa, lalu berseru, â€œWahai Bani Fihr, wahai Bani Adyâ€¦.!â€ yang ditujukan kepada semua suku Quraisy, hingga mereka berkumpul semua. Jika ada seseorang berhalangan hadir, maka dia mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.</p>
<p>Beliau melanjutkan, â€œApa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?â€</p>
<p>â€œBenar,â€ jawab mereka, â€œkami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran.â€</p>
<p>Beliau bersabda, â€œSesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.â€</p>
<p>Abu Lahab berkata, â€œCelakalah engkau selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?â€</p>
<p>Lalu turun ayat, â€œCelakalah kedua tangan Abu Lahabâ€.2</p>
<p>Muslim meriwayatkan bagian lain dari kisah ini dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, â€œTatkala turun ayat, â€œDan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekatâ€, beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda, â€œWahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Kaâ€™b, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah, kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut keabsahannya.â€</p>
<p>Seruan yang melengking tinggi inilah yang menjadi tujuan penyampai dakwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah menjelaskan kepada orang-orang dekat dengan beliau, bahwa pembenaran terhadap risalah beliau merupakan inti hubungan antara diri beliau dan mereka. Fanatisme kekerabatan yang selama itu dipegang erat bangsa Arab menjadi mencair dalam kehangatan peringatan yang datang dari sisi Allah ini.</p>
<p><em>Footnote</em> :Â </p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"><font face="Symbol">1</font>Â Fiqhus-Sirah, Ibnul â€“ Atsir, hal.77 -78</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"><font face="Symbol">2</font>Â Shahih Al-Bukhary, 2/702, 743. Riwayat ini juga ditakhrij di dalam Shahih Muslim, 1/114.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span></p>
<p>(Sumber (Buku) : Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfurry)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/11/04/tahapan-dakwah-ii-dakwah-secara-terang-terangan-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahapan Dakwah I (Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi) : Jihad untuk Berdakwah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/08/19/tahapan-dakwah-i-dakwah-secara-sembunyi-sembunyi-jihad-untuk-berdakwah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/08/19/tahapan-dakwah-i-dakwah-secara-sembunyi-sembunyi-jihad-untuk-berdakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 10:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/08/19/tahapan-dakwah-i-dakwah-secara-sembunyi-sembunyi-jihad-untuk-berdakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Tiga Tahun Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama Bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Kaâ€™bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh Bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tiga Tahun Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi</strong></p>
<p>Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama Bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Kaâ€™bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh Bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan keras yang tidak dapat diguncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah memulai dakwah dengan sembunyi-sembunyi, agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.</p>
<p><span id="more-183"></span><strong>Kawanan Pertama</strong></p>
<p>Sangat lumrah jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menampakkan Islam pada awal mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib beliau. Beliau menyeru mereka ini kepada Islam, juga menyeru siapapun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik. Mereka yang memang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan beliau.</p>
<p>Maka mereka yang diseru ini langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan diri beliau dan kejujuran pengabaran yang beliau sampaikan. Dalam Tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan As-Sabiqunal-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mereka adalah : istri beliau (Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid), pembantu beliau (Zaid bin Haritsah bin Syurahbil Al-Kalby), anak paman beliau ( Ali bin Abu Thalib, yang saat itu Ali masih anak-anak dan hidup dalam asuhan beliau), dan sahabat karib beliau (Abu Bakar Ash-Shiddiq). Mereka ini masuk Islam pada hari pertama dimulainya dakwah.</p>
<p>Abu Bakar sangat bersemangat dalam berdakwah kepada Islam. Dia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, pengasih dan ramah, memiliki akhlak yang mulia dan terkenal. Kaumnya suka mendatangi Abu Bakar dan menyenanginya, karena dia dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan sukses dalam berdagang serta baik pergaulannya dengan orang lain. Maka dia menyeru orang-orang dari kaumnya yang biasa duduk-duduk bersamanya dan yang dapat dipercayainya. Berkat seruannya, ada beberapa orang yang masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan Al-Umawy, Az-Zubair bin Al-Awwan Al-Asady, Abdurrahman bin Auf, Saâ€™d bin Abi Waqqash Az-Zuhriyah dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimy. Mereka ini adalah orang-orang yang lebih dulu masuk Islam, kawanan pertama dan fajar islam.</p>
<p>Kawanan lain yang juga lebih dahulu masuk Islam adalah Bilal bin Rabbah Al-Habsyi, kemudian disusul kepercayaan umat ini, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah dari Bani Al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin Abdul-Asad, Al-Arqam bin Abil-Arqam Al-Makhzumy, Utsman bin Mazhâ€™un dan kedua saudaranya, Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf, Saâ€™id bin Zaid Al-Adawy dan istrinya Fathimah binti Al-Khaththab Al-Adawiyah, saudara Umar bin Al-Khaththab, Khabbab bin Al-Aratt, Abdullah bin Masâ€™ud Al-Hudzaly dan masih banyak lagi. Mereka ini juga disebut As-Sabiqunal-Awwalun, yang semuanya berasal dari kabilah Quraisy. Ibnu Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari empat puluh orang. Namun siapa-siapa yang selain disebutkan di atas perlu diteliti lagi.</p>
<p>Ibnu Ishaq berkata, â€œSetelah itu banyak orang yang masuk Islam, baik laki-laki maupun wanita, sehingga nama Islam menyebar di seluruh Makkah dan banyak membicarakannya.â€</p>
<p>Mereka masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui mereka dan mengajarkan agama secara kucing-kucingan. Sebab dakwah itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan secara perorangan. Wahyu diturunkan sedikit demi sedikit lalu berhenti setelah turunnya surat Al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut, sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu, berisi sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduniaan, berisi ciri-ciri surga dan neraka, yang seakan-akan keduanya tampak di depan mata, membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain tidak seperti dunia yang ada pada saat itu.</p>
<p><strong>Shalat</strong></p>
<p>Di antara wahyu yang pertama-tama turun adalah perintah shalat. Muqatil bin Sulaiman berkata, â€œAllah mewajibkan shalat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari pada masa awal Islam, yang didasarkan pada firman Allah ; Artinya : â€œDan bertasbilah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan petang.â€ (Al-Mukminun:55).</p>
<p>Ibnu Hajar menuturkan, sebelum Israâ€™ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah pernah shalat, begitu pula para shahabat. Tapi terdapat perbedaan pendapat, adakah shalat yang diwajibkan sebelum ada kewajiban shalat lima waktu ataukah tidak? Ada yang berpendapat, yang diwajibkan pada masa itu adalah shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari.</p>
<p>Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari Jalan ibnu Luhaiâ€™ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah, bahwa pada awal-awal turunnya, Jibril mendatangi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan mengajarkan wudhu kepada beliau. Seusai wudhuâ€™, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluan. Ibnu Majah juga meriwayatkan hal ini dengan makna yang serupa. Juga diriwayatkan dari Al-Barraâ€™ bin Azib dan Ibnu Abbas di dalam hadits Ibnu Abbas, dan hal itu termasuk kewajiban yang pertama diturunkan.</p>
<p>Ibnu Hisyam menyebutkan, jika tiba waktu shalat, Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan shalat, agar tidak dilihat kaumnya. Suatu kali Abu Thalib melihat Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat bersama Ali. Maka Abu Thalib menanyakan shalat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib menyuruh beliau dan Ali agar menguatkan hati.</p>
<p><strong>Orang-orang Quraisy Mendengar Kabar Secara Global</strong></p>
<p>Setelah melihat beberapa kejadian di sana sini, ternyata dakwah Islam sudah didengar orang-orang Quraisy pada tahapan ini, sekalipun dakwah itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Namun mereka tidak ambil peduli.</p>
<p>Muhammad Al-Ghazaly menuturkan, kabar tentang dakwah Islam ini sudah mulai menyebar di kalangan orang-orang Quraisy, namun mereka tidak ambil peduli. Sebab mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama, yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan hak-haknya, seperti yang biasa dilakukan Umayyah bin Ash-Shallat, Qus bin Saâ€™idah, Amr bin Nufail dan orang-orang yang lain. Tapi lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. Oleh karena itu mereka mulai menaruh perhatian terhadap dakwah beliau.</p>
<p>Selama tiga tahun dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu itu telah terbentuk sekelompok orang-orang Mukmin yang senantiasa menguatkan hubungan persudaraan dan saling bahu membahu. Penyampaian dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.</p>
<p>(Sumber (Buku) : Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfurry)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/08/19/tahapan-dakwah-i-dakwah-secara-sembunyi-sembunyi-jihad-untuk-berdakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhtilaâ€™ (Menyendiri) di Gua Hira</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/24/ikhtila%e2%80%99-menyendiri-di-gua-hira/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/24/ikhtila%e2%80%99-menyendiri-di-gua-hira/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 12:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/24/ikhtila%e2%80%99-menyendiri-di-gua-hira/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw kecendrungan untuk melakukan â€˜uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtilaâ€™ (menyendiri) di Gua Hiraâ€™ (Hiraâ€™ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy</p>
<p>Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw kecendrungan untuk melakukan â€˜uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtilaâ€™ (menyendiri) di Gua Hiraâ€™ (Hiraâ€™ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtilaâ€™-nya di gua Hiraâ€™. Demikianlah Nabi saw terus melakukannya sampai turun kepadanya wahyu ketika beliau sedang â€˜uzlah.</p>
<p><span id="more-135"></span><strong>Permulaan Wahyu</strong></p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, menceritakan cara permulaan wahyu, ia berkata : â€œWahyu yang diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk melakukan khalwat (â€˜uzlah). Beliau melakukan khalwat di gua Hiraâ€™ â€“ melakukan ibadah â€“ selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal.</p>
<p>Demikianlah berulang kali hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam gua Hiraâ€™. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata, â€œBacalahâ€. Beliau menjawab, â€œAku tidak dapat membacaâ€. Rasulullah saw menceritakan lebih lanjut : Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, â€œBacalahâ€. Aku menjawab : â€œAku tidak dapat membacaâ€. Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, â€œBacalahâ€. Aku menjawab, â€œAku tidak membacaâ€. Untuk ketiga kalinya ia mendekati aku dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi, â€œBacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakanâ€¦.. Menciptakan manusia dari segumpal darahâ€¦â€¦.â€ dan seterusnya.</p>
<p>Rasulullah saw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah, lalu berkata, â€œSelimutilah akuâ€¦ selimutilah akuâ€. Kemudia beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata pada Khadijah, â€œHai Khadijah, tahukah engkau mengapa tadi aku begitu?â€ Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya.</p>
<p>Selanjutnya beliau berkata : â€œAku sesungguhnya khawatir terhadap diriku (dari gangguan makhluk Jin).â€</p>
<p>Siti Khadijah menjawab : â€œTidak! Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.â€</p>
<p>Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saw menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang anak paman Siti Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani. Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang telah lanjut usia dan kehilangan penglihatan. Kepadanya Khadijah berkata :</p>
<p>â€œWahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh anak lelaki saudaramu (yakni Muhammad saw).â€ Waraqah bertanya kepada Muhammad saw, â€œHai anak saudaraku, ada apakah gerangan?â€ Rasulullah saw kemudian menceritakan apa yang dilihat dan dialami di gua Hiraâ€™. Setelah mendengarkan keterangan Rasulullah saw, Waraqah berkata , â€œItu adalah Malaikat yang pernah diutus Allah kepada Musa. Alangkah bahagianya senadainya aku masih muda perkasa! Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu! Rasulullah saw bertanya, â€œApakah mereka akan mengusir aku?â€ Waraqah menjawab , â€œYa.â€ Tak seorang pun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya aku masih hidup dan mengalami hari yang akan kamu hadapi itu, pasti kubantu kamu sekuat tenagaku.â€ Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah tidak menerima wahyu.</p>
<p>Terjadi perselisihan tentang berapa lama wahyu tersebut terhenti. Ada yang mengatakan tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu. Pendapat yang paling kuat adalah apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa masa terhentinya wahyu tersebut selama enam bulan. 1</p>
<p>Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw berbicara tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata padaku :</p>
<p>â€œDi saat aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Ketika kepala kuangakat, ternyata Malaikat yang datang kepadaku di gua Hiraâ€™, kulihat sedang duduk di kursi antara langit dan bumi. Aku segera pulang menemui istriku dan kukatakan padanya, â€œSelimutilah akuâ€¦. Selimutilah akuâ€¦. Selimutilah aku!â€ Sehubungan dengan itu kemudian Allah berfirman, â€œHai orang yang berselimut, bangunlah dan beri peringatan. Agungkanlah Rabb-mu, sucikanlah pakaianmu, dan jauhilah perbuatan dosaâ€¦â€(al-Muddatstsir). Sejak itu wahyu mulai diturunkan secara kontinyu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>1Â  Fathul Bari, 1/21</p>
<p>(Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/24/ikhtila%e2%80%99-menyendiri-di-gua-hira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keikutsertaan Nabi saw dalam membangun Kaâ€™bah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/24/keikutsertaan-nabi-saw-dalam-membangun-ka%e2%80%99bah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/24/keikutsertaan-nabi-saw-dalam-membangun-ka%e2%80%99bah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 12:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/24/keikutsertaan-nabi-saw-dalam-membangun-ka%e2%80%99bah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy Kaâ€™bah adalah â€œrumahâ€ yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi â€œperang berhalaâ€ dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang di dirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah : â€œDan (ingatlah), ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy</p>
<p>Kaâ€™bah adalah â€œrumahâ€ yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi â€œperang berhalaâ€ dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang di dirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah :</p>
<p><em>â€œDan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdoa), â€œYa Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.â€</em> (Al-Baqarah : 127).</p>
<p><span id="more-134"></span>Setelah itu Kaâ€™bah mengalami beberapa kali serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Diantaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Makkah beberapa tahun sebelum biâ€™tsah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini memaksa orang-orang Quraisy harus membangun Kaâ€™bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Kaâ€™bah merupakan â€œsisaâ€ atau peninggalan dari syariâ€™at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab.</p>
<p>Rasulullah saw sebelum biâ€™tsah pernah ikut serta dalam pembangunan Kaâ€™bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta aktif mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Rasulullah saw berusia 35 tahun, menurut riwayat yang paling shahih.</p>
<p>Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadist Jabir bin Abdullah ra, ia berkata : Ketika Kaâ€™bah dibangun, Nabi saw dan Abbas pergi mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw, â€œSingkirkan kainmu di atas lutut.â€ Kemudian Nabi saw mengikatnya.</p>
<p>Nabi saw memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan hajar aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk pada usulan yang diajukan Nabi saw, karena mereka mengenalnya sebagai Al-Amin (terpercaya) dan mencintainya.</p>
<p>(Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/24/keikutsertaan-nabi-saw-dalam-membangun-ka%e2%80%99bah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perniagaan Rasulullah saw dengan harta Khadijah ra dan pernikahannya dengan Khadijah ra</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/24/perniagaan-rasulullah-saw-dengan-harta-khadijah-ra-dan-pernikahannya-dengan-khadijah-ra/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/24/perniagaan-rasulullah-saw-dengan-harta-khadijah-ra-dan-pernikahannya-dengan-khadijah-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 12:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/24/perniagaan-rasulullah-saw-dengan-harta-khadijah-ra-dan-pernikahannya-dengan-khadijah-ra/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saw dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy</p>
<p>Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saw dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania).</p>
<p><span id="more-133"></span>Khadijah membawakan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dibawakan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi saw ditemani Maisarah, seorang kepercayaan Khadijah. Muhammad saw menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah meniagakan harta Khadijah. Dalam perjalanan ini Nabi berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya. Selama perjalanan tersbut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi.</p>
<p>Semua sifat dan perilaku tersebut dilaporkan Maisarah kepada Khadijah. Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Nabi saw. Kemudian Khadijah menyampaikan hasratnya untuk menikah dengan Nabi sawa dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi saw menyetujuinya, kemudian Nabi menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya. Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi saw dari paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahinya, Nabi berusia dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah berusia empat puluh tahun.</p>
<p>Sebelum menikah dengan Nabi saw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin Aâ€™idz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi; namanya Hindun bin Zurarah. 1</p>
<p>Mengenai kedudukan dan keutamaan Khadijah dalam kehidupan Nabi saw, sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah sepanjang hidupnya. Telah disebutkan di dalam riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Khadijah adalah wanita terbaik pada zamannya.</p>
<p>Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali ra pernah mendengar Rasulullah bersabda : â€œSebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.â€ 2</p>
<p>Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata : â€œAku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi saw kecuali kepada Khadijah, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Adalah Rasulullah ketika menyembelih kambing, ia berpesan, â€œKirimkan daging kepada teman-teman Khadijah.â€ Pada suatu hari aku memarahinya, lalu aku katakana, â€œKhadijah?â€ Kemudian Nabi bersabda, â€œSesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya.â€ 3</p>
<p>Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah ra, ia berkata : â€Hampir tidak pernah Rasulullah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari Rasulullah menyebutnya, sehingga menimbulkan kecemburuanku. Lalu aku katakana, â€œBukankah ia hanya seorang tua yang Allah telah menggantikannya untuk kakanda orang yang lebih baik darinya?â€ Kemudian Rasulullah marah seraya bersabda, â€œDemi Allah, Allah tidak menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia membela dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri lainnya.â€</p>
<p>Sehubungan dengan pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah, kesan yang pertama kali didapatkan dari pernikahan ini ialah, bahwa Rasulullah sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah sangat memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau mencari orang yang lebih muda, atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Nampaknya, Rasulullah menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya diantara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan <em>â€˜Afifah Thahirah</em> (wanita suci) pada masa jahiliyah.</p>
<p>Pernikahan itu berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia pada usia enam puluh lima tahun, sementara itu Rasulullah telah mendekati lima puluh tahun, tanpa berfikir selama masa ini untuk menikah dengan wanita atau gadis lain.Â Â Â </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>1 Diriwayatkan oleh Ibnu Sayyidin-Nas dalam â€˜Uyunul Atsar, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah dan lainnya.</p>
<p>2 Kata ganti di dalam kata nisaâ€™iha seperti ditunjukkan oleh riwayat Muslim kembali kepada langit untuk yang pertama (Maryam) dan kepada bumi untuk yang kedua (Khadijah). Berkatalah ath-Thaibi: kata ganti yang pertama kembali kepada umat di masa Maryam hidup., yang kedua kembali kepada umat ini. Lihat Faithul Bari, 7/91.</p>
<p>3 Muttafaq â€˜Alaih, lafazh ini bagi Muslim.</p>
<p>(Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/24/perniagaan-rasulullah-saw-dengan-harta-khadijah-ra-dan-pernikahannya-dengan-khadijah-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Rasulullah saw yang pertama ke Syam dan Usahanya mencari Rezeki</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/24/perjalanan-rasulullah-saw-yang-pertama-ke-syam-dan-usahanya-mencari-rezeki/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/24/perjalanan-rasulullah-saw-yang-pertama-ke-syam-dan-usahanya-mencari-rezeki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 11:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/24/perjalanan-rasulullah-saw-yang-pertama-ke-syam-dan-usahanya-mencari-rezeki/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saw diajak pamannya, Abu Thalib pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui injil dan ahli tentang maslaah-maslaah kenasranian. Kemudian Bahira melihat Nabi saw. Lalu ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy</p>
<p>Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saw diajak pamannya, Abu Thalib pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui injil dan ahli tentang maslaah-maslaah kenasranian.</p>
<p>Kemudian Bahira melihat Nabi saw. Lalu ia mulai mengamati Nabi dan mengajak berbicara. Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya, â€œApa status anak ini di sisimu?â€ Abu Thalib menjawab, â€œAnakku (Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan panggilan anak karena kecintaannya yang mendalam).â€ Bahira bertanya kepadanya, â€œDia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.â€ Abu Thalib berkata, â€œDia dalah anak saudaraku.â€ Bahira bertanya, â€œApa yang telah dilakukan oleh Ayahnya?â€ Abu Thalib menjawab, â€œDia meninggal ketika Ibu anak ini mengandungnya.â€ Bahira berkata, â€œAnda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.â€ Kemudia Abu Thalib cepat-cepat membawa kembali ke Makkah.</p>
<p><span id="more-132"></span>Memasuki masa remaja, Rasulullah saw mulai berusaha mencari rezeki dengan mengembalakan kambing. Rasulullah saw pernah bertutur tentang dirinya. â€œAku dulu mengembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.â€ Selama masa mudanya Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya, dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah tentang dirinya :</p>
<p>â€œAku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di amsa jahiliyah kecuali dua kali. Itu pun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Makkah, â€œTolong awasi kambingku, karena aku akan memasuki kota Makkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.â€ Kawan tersebut menjawab, â€œLakukanlah.â€ Lalu aku keluar.</p>
<p>Ketika aku sampai pada rumah pertama di Makkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata, â€œApa ini?â€ Mereka berkata, â€œPesta.â€ Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak dibangunkan kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya kepadaku, dan aku pun mengabarkannya. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Makkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan.â€Â </p>
<p>Hadist Bahira tentang Rasulullah saw, yakni hadist yang diriwayatkan oleh Jumhur Ulamaâ€™ Sirah dan para perawinya, dan dikeluarkan oleh Tirmidzi secara panjang lebar dari hadist Abu MusaÂ  al-Asyâ€™ari, menunjukkan bahwa para ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani memiliki pengetahuan tentang <em>biâ€™tsah</em> Nabi dengan mengetahui tanda-tandanya. Ini mereka ketahui dari berita kenabiannya dan penjelasan tentang tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Dalil tentang hal ini banyak sekali.</p>
<p>Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh para Ulama Sirah, bahwa orang-orang Yahudi biasa memohon kedatangan Nabi saw (sebelum <em>biâ€™tsah</em>) untuk mendapatkan kemenangan atas kaum Aus dan Khazraj, dengan mengatakan â€œSesungguhnya sebentar lagi akan dibangkitkan seorang Nabi yang kami akan mengikutinya. Lalu kami bersamanya akan membunuh kalian sebagaimana pembunuhan yang pernah dialami kaum â€˜Aad dan Iram.â€ Ketika orang-orang Yahudi mengingkari janjinya, Allah menurunkan firmanNya : <em>â€œDan setelah datang kepada mereka Al-Qurâ€™an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu.â€</em> (Al-Baqarah : 89).</p>
<p>Al Qurtubi dan lainnya meriwayatkan, bahwa ketika turun firman Allah : <em>â€œOrang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami berikan Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mengenal anak-anak sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.â€</em> (Al-Baqarah : 146).</p>
<p>Umar bin Khaththab bertanya kepada Abdullah bin Salam (seorang ahli kitab yang telah masuk Islam) : â€œApakah kamu mengetahui Muhammad saw sebagaimana kamu mengetahui anakmu?â€ IaÂ  menjawab, â€œYa, bahkan lebih banyak. Allah mengutus (Malaikat) kepercayaan-Nya di bumi dengan sifat-sifatnya, lalu saya mengetahuinya. Adapun anak saya, maka saya tidak mengetahui apa yang telah terjadi dari ibunya.â€</p>
<p>Bahkan keislaman Salman al-Farisi juga disebabkan ia telah melacak berita Nabi saw dan sifat-sifatnya dari Injil, para pendeta dan ulama al-Kitab. Ini tidak dapat dinafikan oleh banyaknya para ahli Kitab yang mengingkari adanya pemberitaan tersebut, atau oleh tidak adanya isyarat penyebutan Nabi saw di dalam Injil yang beredar sekarang. Sebab, terjadinya pemalsuan dan perubahan secara beruntun pada kitab-kitab tersebut telah diketahui dan diakui oleh semua pihak.</p>
<p>Maha Benar Allah yang berfirman di dalam kitab-Nya :<br />
<em>â€œDan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan mereka sendiri, lalu dikatakannya â€œini dari Allahâ€, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang mereka kerjakan.â€</em> (Al-Baqarah : 78-79).</p>
<p>(Sumber (buku) : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/24/perjalanan-rasulullah-saw-yang-pertama-ke-syam-dan-usahanya-mencari-rezeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/17/kehidupan-rasulullah-sebelum-diutus/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/17/kehidupan-rasulullah-sebelum-diutus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 13:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/17/kehidupan-rasulullah-sebelum-diutus/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi&#8217;ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka&#8217;bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi&#8217;ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka&#8217;bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil.</p>
<p>Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim.</p>
<p>Ibu beliau adalah Aminah bintu Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Setelah ibunya melahirkan, ia mengirim beliau kepada kakeknya. Ibunya memberikan kabar gembira kepada sang kakek dengan kelahiran cucunya. Maka kakeknya datang dengan menggendong-nya. Sang kakek memasuki Ka&#8217;bah bersama beliau. Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad.</p>
<p><span id="more-102"></span>Allah &#8216;Azza wa Jalla berfirman: &#8220;Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad).&#8221; (QS. Ash Shaff: 6).</p>
<p>Nasab beliau dari sisi ayah adalah: Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka&#8217;ab bin Lu&#8217;ai bin ghalib bin Fihr bin Malik bin AnNadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma&#8217;ad bin Adnan. Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim &#8216;Alaihimussallam. Nasab ayah Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa SalamÂ  bertemu dengan nasab ibu beliau pada Kilab bin Murrah.</p>
<p><strong>Masa Penyusuan Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam</strong></p>
<p>Di masa itu, orang-orang mulia suku Quraisy mempunyai sebuah kebiasaan untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada para ibu susuan yang berasal dari desa (pedalaman). Agar di tahun-tahun pertama kehidupannya sang anak hidup di udara pedalaman yang segar, sehingga badannya menjadi kuat karenanya.</p>
<p>Oleh karena itu Abdul Muthallib mencari ibu susuan bagi Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam. Ketika itu datanglah wanita-wanita dari bani Sa&#8217;ad di Makkah. Mereka mencari anak-anak untuk disusui. Di antara mereka adalah Halimah As Sa&#8217;diyyah. Semua wanita itu telah mengambil anak untuk disusui kecuali Halimah. Ia tidak menemukan selain Muhammad. Pada mulanya ia enggan mengambil beliau dikarenakan beliau adalah anak yatim tanpa ayah. Namun ia tidak suka kembali tanpa membawa anak susuan. Akhirnya Halimah mengambil beliau karena tidak ada bayi selain beliau untuk disusui.</p>
<p>Halimah mendapatkan banyak dari barakah Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa SalamÂ  selama menyusui beliau. Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam menetap di Bani Sa&#8217;ad selama dua tahun, selama masa penyusuan. Kemudian Halimah membawanya ke Makkah. Ia membawanya kepada ibu beliau, Halimah meminta, agar beliau bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi.</p>
<p>Kemudian Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam mencapai usia lima tahun. Di usia itu terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Jibril datang kepada Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam. Ketika itu beliau tengah bermain-main bersama anak-anak lain. Jibril mengambil beliau kemudian melemparkannya ke tanah. Ia mengambil jantung beliau. Ia mengeluarkan segumpal darah dari jantung tersebut. Kemudian ia berkata: &#8220;Ini adalah bagian syaithan dari dirimu.&#8221;</p>
<p>Lalu ia mencucinya dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mengembalikan jantung itu seperti semula. Anas Radhiyallahu&#8217;anhu, perawi hadits ini mengatakan: &#8220;Sungguh aku telah melihat bekas sobekan di dada beliau.&#8221; Maka kemudian Halimah mengetahui kejadian ini. Ia pun mengkhawatirkan keselamatan beliau. Sehingga ia mengembalikan beliau kepada sang ibu.</p>
<p>Meninggalnya Ibu Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam dan Pengasuhan Sang Kakek, Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam dikembalikan oleh Halimah. Beliau pun tinggal bersama sang ibu. Ketika beliau mencapai usia enam tahun, Aminah membawanya ke Yatsrib. Mereka menunjungi paman-paman beliau. Mereka adalah saudara Aminah dari Bani An Najjar.</p>
<p>Aminah pergi bersama Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Salam. Di perjalanan pulang dari Yatsrib, ibu beliau meninggal. Ia meninggal di suatu tempat yang disebut Al Abwa&#8217;. Al Abwa&#8217; berada di antara Makkah dan Madinah. Maka Ummu Aiman kembali ke Makkah bersama beliau. Kemudian beliau diasuh oleh sang kakek Abdul Muthallib.</p>
<p>Sumber: Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyahâ€”Syu&#8217;bah Ta&#8217;lim al-Lughah al-&#8217;Arabiyyah al-Jami&#8217;ah al-Islamiyyah, Madinah</p>
<p>www.kisahislam.com<a href="http://www.kisahislam.com/"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/17/kehidupan-rasulullah-sebelum-diutus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sirah Nabawiyah</title>
		<link>http://tauziyah.com/2007/06/17/sirah-nabawiyah/</link>
		<comments>http://tauziyah.com/2007/06/17/sirah-nabawiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 13:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tauziyah.com/2007/06/17/sirah-nabawiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : DR. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy MUQADDIMAH A. Pentingnya Sirah Nabawiyah untuk memahami Islam Tujuan dalam mengkaji Sirah Nabawiyah ialah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin didalam kehidupan nabi Muhammad saw, setelah dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Yang dapat diperinci sebagai berikut : 1. Memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : DR. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy</p>
<p>MUQADDIMAH</p>
<p><strong>A. Pentingnya Sirah Nabawiyah untuk memahami Islam</strong></p>
<p>Tujuan dalam mengkaji Sirah Nabawiyah ialah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin didalam kehidupan nabi Muhammad saw, setelah dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Yang dapat diperinci sebagai berikut :</p>
<p><span id="more-101"></span>1. Memahami kepribadian Rasulullah saw, bukan hanya sebagai genial diantara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya</p>
<p>2. Agar manusia mendapatkan gambaran al-Matsal al Aâ€™la (tipe yang ideal) menyangkut seluruh kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupannya. (QS. Al Ahzab:21)</p>
<p>3. Agar manusia memahami Kitabullah dan semangat tujuannya, karena banyak ayat-ayat Al Qurâ€™an yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah saw dan disikapinya</p>
<p>4. Dengan mengkaji Sirah Nabawiyah, maka seorang muslim mendapatkan banyak tsaqofah dan pengetahuan islam yang benar, baik yang menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlaq</p>
<p>5. Agar setiap pembina dan daâ€™i Islam mendapatkan contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan daâ€™wah</p>
<p>Oleh karena itu kajian Sirah Nabawiyah ini tidak lain hanya menampakkan aspek-aspek kemanusiaan ini secara eseluruhan yang tercermin dalam suri tauladan yang paling sempurna dan terbaik.</p>
<p><strong>B. Sumber-Sumber Sirah Nabawiyah </strong></p>
<p>Secara umum dapat disebutkan di sini bahwa sumber dan rujukan Sirah Nabawiyah ada tiga, yaitu : Kitab Allah, Sunnah Nabawiyah yang shahih, dan Kitab-kitab Sirah.</p>
<p><strong><em>Pertama : Kitabullah (Al-qurâ€™an)</em></strong></p>
<p>Kitab Allah merupakan rujukan pertama untuk memahami sifat-sifat umum Rasulullah saw dan mengenal tahapan-tahapan umum dari Sirah-nya yang mulia ini. Ia mengemukakan Sirah Nabawiyah dengan menggunakan salah satu dari dua uslub :</p>
<p>Pertama, mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan Sirah-nya. Seperti ayat-ayat yang menjelaskan tentang perang Badar, Uhud, Khandaq dan Hunain, serta ayat-ayat yang mengisahkan perkawinan dengan Zainab binti Jahsyi.</p>
<p>Kedua, mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi, untuk menjawab masalah-masalah yang timbul, atau mengungkapkan masalah yang belum jelas, atau untuk menarik perhatian kaum Muslim kepada pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Semua itu berkaitan dengan salah satu aspek dari Sirah-nya atau permasalahannya. Dengan demikian, hal itu telah menjelaskan banyak hal dari berbagai periode kehidupannya dan beragam urusan serta aktivitasnya.</p>
<p>Tetapi pembicaraan Al-Qurâ€™an tentang kesemuanya itu hanya disampaikan secara terputus-putus. Betapapun beragamnya uslub Al-Qurâ€™an dalam menjelaskan segi Sirah-nya tetapi tidak lebih hanya sekedar penjelasan secara umum dan penyajian secara global dan sekilas tentang beberapa peristiwa dan berita. Demikianlah cara Al-Qurâ€™an dalam menyajikan setiap kisah tentang para Nabi dan umat-umat terdahulu.</p>
<p><strong><em>Kedua : Sunnah Nabawiyah yang Shahih</em></strong></p>
<p>Yakni apa yang terkandung di dalam kitab-kitab para imam hadist yang terkenal jujur dan amanah. Seperti kitab-kitab yang enam, Muwanthaâ€™ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Sumber kedua ini lebih luas dan lebih rinci. Hanya saja belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rasulullah saw sejak lahir hingga wafat. Hal ini disebabkan oleh dua hal :</p>
<p>Pertama, sebagian besar kitab-kitab ini disusun hadist-hadistnya berdasarkan bab-bab Fiqh, atau sesuai dengan satuan pembahasan yang berkaitan dengan syariâ€™at Islam. Oleh karena itu, hadist-hadist yang berkaitan dengan Sirah-nya yang menjelaskan bagian dari kehidupannya terdapat pada berbagai tempat di antara semua bab yang ada.</p>
<p>Kedua, para imam hadist, khususnya penghimpun al-Kutub as Sittah, ketika menghimpun hadist-hadist Rasulullah saw tidak mencatat riwayat Sirah-nya secara terpisah, tetapi hanya mencatat dalil-dalil syariâ€™ah secara umum yang diperlukan.</p>
<p>Di antara keistimewaan sumber kedua ini ialah bahwa sebagian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah saw, atau kepada para sahabat yang merupakan sumber khabar manqul, kendatipun Anda temukan pula beberapa riwayat dhaâ€™if yang tidka bisa dijadikan hujjah.</p>
<p><strong><em>Ketiga : Kitab-Kitab Sirah</em></strong></p>
<p>Kajian-kajian Sirah di masa lalu diambil dari riwayat-riwayat pada masa sahabat yang disampaikan secara turun temurun tanpa ada yang memperhatikan untuk menyusun atau menghimpunnya dalam suatu kitab, kendatipun sudah ada beberapa orang yang memperhatikan secara khusus Sirah Nabi saw dengan rincian-rinciannya.</p>
<p>Baru pada generasi tabiâ€™in, Sirah Rasulullah saw diterima dengan penuh perhatian. Banyak di antara mereka yang mulai menyusun data tentang Sirah Nabawiyah yang didapatkan dari lembaran-lembaran kertas. Di antara mereka ialah Urwah bin Zubair yang meninggal pada tahun 92 Hijriyah, Aban bin Utsman (105 H), Syurahbil bin Saâ€™ad ( 123 H), Wahab bin Munabbih (110 H), dan Ibnu Syihab az Zuhri (wafat tahun 124 H).</p>
<p>Akan tetapi, semua yang pernah mereka tulis ini sudah lenyap, tidak ada yang tersisa kecuali beberapa bagian yang sempat diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari. Ada yang mengatakan, bahwa sebagian tulisan Wahab bin Munabbih sampai sekarang masih tersimpan di Heidel Berg, Jerman.</p>
<p>Kemudian muncul generasi penyusun Sirah berikutnya. Tokoh generasi ini adalah Muhammad bin Ishaq (152 H). Lalu disusul oleh generasi sesudahnya dengan tokohnya al-Waqidi (203 H) dan Muhammad bin Saâ€™d, Penyusun Kitab ath-Thabaqat al-Kubra (130 H).</p>
<p>Para Ulama sepakat, bahwa apa yang ditulis oleh Muhammad bin Ishaq merupakan data paling terpercaya tentang Sirah Nabawiyah (pada masa itu). Tetapi sangat disayangkan, bahwa kitabnya, al-Maghazi, termasuk kitab yang musnah pada masa itu.</p>
<p>Tetapi, Alhamdulillah, sesudah Muhammad bin Ishaq muncul Abu Muhammad Abdul Malik yang terkenal dengan Ibnu Hisyam. Ia meriwayatkan Sirah tersebut dengan berbagai penyempurnaan, setengah abad sesudah penyusunan kitab Ibnu Ishaq tersebut.</p>
<p>Kitab Sirah Nabawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Hisyam yang ada sekarang ini hanya merupakan duplikat dari Maghazi-nya Ibnu Ishaq.</p>
<p>Ibnu Khalikan berkata : Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun Sirah Rasulullah saw dari al-Maghazi dan as-Siar karangan Ibnu Ishaq. Ia telah menyempurnakan dan meringkasnya. Kitab inilah yang ada sekarang dan yang terkenal dengan Sirah Ibnu Hisyam. (Wafayat al-Aâ€™yan, 1/29, terbitan Maimanah).</p>
<p>Selanjutnya, lahirlah kitab-kitab Sirah Nabawiyah. Sebagiannya menyajikan secara menyeluruh, tetapi ada pula yang memperhatikan segi-segi tertentu, seperti al-Asfahani di dalam kitabnya Dalaâ€™il an-Nubuwwah, Tirmidzi di dalam kitabnya asy-Syamaâ€™il, dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya Zaadul Maâ€™ad.</p>
<p><strong><em>C. Rahasia dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam</em></strong></p>
<p>1. Kondisi umat-umat yang hidup di sekitar jazirah Arab sebelum Islam</p>
<p>Saat itu dunia dikuasai oleh 2 negara adidaya: Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani. Dimana pada saat itu negara-negara tsbt berada dalam puncak kebejatan baik dari segi moral/akhlaq dan agama, cont: Persia dgn filsafat Zoroaster, Romawi dgn semangat kolonialismenya.</p>
<p>Sedangkan Jazirah Arab pada masa itu jauh dari kegoncangan tsbt. Mereka tidak memiliki kemewahan, peradaban, kekuatan militer dan juga filosofi sebagaimana negara-negara disekitarnya. Mereka hidup didalam kegelapan, kebodohan dan alam fitrah yang pertama, Akibatnya, mereka sesat dan tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan. Membunuh anak dgn dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta dgn dalih kedermawanan dan berperang diantara mereka dgn dalih harga diri dan kepahlawanan. (QS Al Baqarah:198)</p>
<p>2. Terletak ditengah-tengah umat yang ada pergolakan diantara 2 peradaban, yaitu: Barat, dengan materilaitisnya dan Timur dengan spiritualismenya sebagaiman yg telah dijelaskan diatas.</p>
<p>Sehingga orang-orang yang hidup â€œdimasa pencarianâ€ tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Oleh karena itu lebih mudah disembuhkan dan diarahkan.</p>
<p>3. Nabi yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis, agar manusia tidak ragu akan kenabiannya dan kebenaran daâ€™wahnya.</p>
<p>Adalah kesempurnaan hikmah Ilahiyah, jika biâ€™ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah dijadikan juga sbg biâ€™ah ummiyah (lingkungan yang ummi), bila dibandingkan dgn umat-umat lain yang ada disekitarnya; yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Seperti halnya akan timbul keraguan di dada manusia apabila Rasulullah saw adalah orang yang terpelajar dan pandai bergaul dgn kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu dan semua peradaban negara-negara di sekitarnya. (QS.Al JumuÃ¡h:2)</p>
<p>4. Baitul Haram merupakan tempat berkumpulnya manusia (QS. Al Baqarah:125) dan rumah pertama yang dibangun bagi manusia untuk beribadah, terletak di Jazirah Arab</p>
<p>5. Secara Geografis sangat kondusif untuk mengemban daÂ´wah, sehingga mempermudah penyebaran Islam</p>
<p>6. Bahasa Arab memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya</p>
<p>(Disarikan dari buku : â€œSirah Nabawiyahâ€ karya: Dr. Muhammad Saâ€™id Ramadhan Al-Buthy)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tauziyah.com/2007/06/17/sirah-nabawiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

